Showing posts with label musibah. Show all posts
Showing posts with label musibah. Show all posts

Monday, March 10, 2014

Sikap Muslim terhadap Musibah

Beberapa hari belakangan, sering kali kita mendengar kabar duka dari saudara-saudara kita di tanah air, khususnya. Innalillahi wa inna ilaihi roji'un...
Musibah-musibah yang datang silih berganti, perlu kita renungkan. Kita harus dapat mengambil pelajaran.

Mengapa Allah menguji kita?
"Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan." (QS Al Anbiya/21:35)
Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa Allah memberikan ujian untuk mengetahui siapa yang syukur atau yang ingkar dan siapa yang sabar atay putus asa. Maka sudah menjadi sunnatullah bahwa setiap manusia itu tidak ada yang luput dari cobaa, kesusahan atau kesenangan.

Dalam sebuah hadits riwayat Muslim, Rasulullah bersabda, " Sungguh mengagumkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya setiap urusan adalah baik. Jika mendapat kesenangan, ia bersyukur. Jika ia mendapat bagaimana sikap kita yang seharusnya apabila menghadapi suatu musibah?

Sikap dalam menghadapi musibah, ada 3 :
1. Sabar
2. Ridho
3. Bersyukur

1. Sabar
Sabar adalah batas minimal menghadapi musibah. Tidak ada pilihan lain kecuali Bersabar. Tidak ada yang lebih rendah daripada Sabar. Setelah itu kemudian Ridho dan kemudian Bersyukur.
Sabar itu menahan gejolak di dalam diri kita untuk melakukan hal-hal yang melanggar syariat Allah.

Mari kita lihat Surat Al-baqarah ayat 155 dan 156

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun".

Sesungguhnya kesabaran itu terletak pada detik pertama (pukulan pertama) ketika mendapat ujian. Harus Sabar tidak ada pilihan karena jika tidak bersabar maka akan mendatangkan dosa.

2. Ridho
Barang siapa yg ridho maka dia akan mendapat ridho Allah. Tidak mau yang lain karena dia yakin kepada Allah. Yang kecewa maka dia akan mendapat murka Allah.

Orang yang Ridho ia tidak mau kecuali apa yang telah Allah takdirkan untuknya. Jika sudah sampai tahap ini maka hidup akan lebih tenang.

3. Syukur
Syukur adalah tingkatan tertinggi ketika menghadapi suatu musibah.
Jika ditimpa suatu musibah ucapkanlah Alhamdulillah ala kulli hal.

Bisa dilihat pada Surat Ibrahim ayat 7 :

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".


Kabar gembira buat mereka yang sabar dalam musibah Q.S Al Baqarah : 155
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah2an. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

Sunday, February 16, 2014

Hikmah Musibah : Perbanyak Amalan

Mengurangi maksiat menjauhkan dari musibah.

Bencana dan musibah merupakan sebuah keniscayaan dan selalu beriringan dengan langkah umat Muslim. Seseorang yang tertimpa musibah hendaknya tidak berkeluh kesah dan menyalahkan Allah SWT.

Tentu, kita sebagai manusia selalu memohon kebaikan dan keselamatan dalam hidup, termasuk di dalamnya dijauhkan dari musibah dan bencana.

Ketua Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) Ustaz Ahmad Satori Ismail mengatakan dalam menghadapi musibah umat Islam harus bersikap sabar. “Hendaknya kita ucapkan lafaz, Innalillahi wa inna ilahi rajiun sambil memanjatkan doa,” ujar Ustaz Satori.

Karena, sesungguhnya apa-apa yang ada di dunia, termasuk diri kita, adalah milik Allah SWT. Cepat atau lambat akan kembali kepada-Nya. Sedangkan, doa yang dapat dipanjatkan, di antaranya Allahuma jurni fi musibati wa akhlif li khairun minha.

Doa yang diriwayatkan Muslim tersebut mengandung arti meminta pahala dari musibah yang terjadi dan berharap dapat pengganti yang lebih baik dari yang telah hilang saat terjadi musibah.

Dalam Alquran surah ar-Ruum ayat 41, Allah SWT menyebutkan kerusakan di muka bumi disebabkan tangan manusia. Karenanya untuk menghindari bencana, kata Ustaz Satori, manusia harus menghentikan perilaku merusak.

Secara maknawi amalan yang harus dilakukan adalah mengurangi maksiat. Hal itu berdampak pada kerusakan jiwa umat Islam.
Setiap dosa atau titik hitam yang dilakukan oleh manusia pasti mendapatkan balasannya. Balasan tersebut dapat terjadi di dunia maupun akhirat.

Maksiat yang terjadi awalnya karena kurang bersyukurnya umat dengan apa yang telah diberikan. “Mereka terkadang kurang puas dengan harta yang didapatkan sehingga menimbulkan korupsi,” ungkap Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah itu.

Di samping itu, pejabat sebagai ulil amri juga harus bertanggung jawab dalam terhadap kepemimpinannya. Penanganan bencana pun harus menjadi pelajaran agar tidak terperosok ke lubang dua kali.

Selain menghindari maksiat, amalan lain yaitu melakukan amalan jariyah yang tidak terputus pahalanya. Amal jariyah tidak hanya menyumbangkan uang, tetapi juga dengan memperhatikan lingkungan.

Mereka dapat membersihkan sungai dan selokan agar sungai tersebut dapat mengalir dengan lancar. Menjaga pepohonan dan menanam pohon untuk mempermudah penyerapan air hujan.

Membangun masjid dan jalan raya juga bagian dari amalan yang tidak terputus pahalanya. Selain itu, doa dan zikir pun senantiasa dipanjatkan untuk mendapatkan perlindungan Allah SWT di dunia dan akhirat.

Doa yang dipanjatkan meminta pada Allah SWT agar tidak diberikan musibah yang berat. Jangan sampai mendapatkan musibah untuk agamanya dan jangan sampai dijadikan orang yang terlalu cinta pada dunia.
“Ya Allah, tolaklah untuk kami bala berbagai musibah, wabah-wabah penyakit di negeri kami khususnya dan negara umat Muslim,” ujarnya.

Sedangkan, zikir yang paling hebat kekuatannya adalah mengucapkan istighfar. Umat Islam dapat mengamalkan istighfar pendek maupun yang panjang dan juga sayyidil istighfar.

Pimpinan Majelis Az Zikra Ustaz Muhammad Abdul Syukur mengatakan untuk menghindari bencana sebaiknya umat Islam melakukan tobat. Bukan hanya orang yang pernah terkena bencana atau musibah, melainkan juga seluruh umat Muslim.

“Tanpa kita sadari perilaku yang kita perbuat bisa saja menimbulkan bencana,” ujarnya. Ustaz Abdul Syukur menjelaskan ketika seseorang sengaja atau tidak membuang sampah sembarangan, hal itu berdampak pada sungai dan selokan yang tersumbat sehingga air hujan yang jatuh ke bumi kesulitan untuk mencari aliran air. Dampaknya terjadi pada tergenangnya wilayah hingga ke permukiman penduduk.

Dia menceritakan mengenai musibah bencana yang terjadi pada masa Sayyidina Umar bin Khattab. Ketika itu telah terjadi bencana kekeringan, Umar pun mengajak umat Muslim untuk membangun ketakwaan.

“Mari tingkatkan ketakwaan dengan hal yang diketahui oleh khalayak maupun yang belum diketahui,” ujar Umar bin Khatab ketika itu. Setelah meningkatkan ibadah pada Allah SWT sambil memohon mengangkat musibah, selang satu tahun doa tersebut dijawab Allah SWT.

Allah SWT kemudian mengubah keadaan wilayah yang mengalami kekeringan dan kesulitan air mendapatkan berkah air yang berlimpah. Saat ini, bencana dan musibah yang terjadi tidak hanya diatasi dengan bantuan yang sifatnya fisik.

Bantuan sosial, baik sandang, pangan, maupun papan, memang dibutuhkan, tetapi sebagai umat Islam tidak boleh lupa untuk memanjatkan doa dan beristighfar memohon pertolongan dan ampunan Allah SWT.

Ustaz Syukur melanjutkan, lafaz Innalillahi wa inna Ilaihi rajiun jangan sekadar diucapkan sebatas lisan saja, tetapi juga harus dimaknai dengan perbuatan dan mental untuk kembali pada Allah SWT.

Musibah adalah satu bentuk kepastian yang terjadi di dunia dan bagi orang beriman, akan menjadi sebuah ujian yang mampu meningkatkan derajat mereka. Dengan menghadapi musibah, justru diharapkan akan semakin dekat dengan Allah SWT.

wallohu a'lam bish showab

sumber : republika.co.id