Friday, October 11, 2013

Kemuliaan 10 Hari Bulan Dzulhijjah



Apa yang terbersit dalam pikiran Anda ketika disebutkan bulan Dzulhijjah? sebagian kita mungkin teringat dengan Bulan "Besar"? Bulan haji? Bulan nikah alias banyak undangan ke kondangan? Bulan Qurban?
Yup..semuanya tidak salah :-)

Terlebih dari semua "julukan" untuk bulan dzulhijjah itu, ada hal yang tidak kalah pentingnya yakni tentang keutamaannya. Dzulhijjah adalah satu dari empat bulan haram.
Dalam Al Qur'an surat Al Maidah ayat 2
Rasulullah SAW bersabda "Setahun ada 12 bulan, di antaranya terdapat 4 bulan haram, 3 bulan yang berurutan adalah Dzulqa'dah, Dzulhijjah dan Muharram, dan (satu bulan tersendiri) Rajab Mudhar yang berada di antara Jumadil (akhir) dan Sya'ban." (HR Bukhari dan Muslim) Dalam kitab Fathul bari (Ibnu Hajar) dan Al Minhaj (Imam Nawawi) dijelaskan bahwa Rasulullah menyandarkan bulan Rajab pada bani Mudhar karena kalau bani Rabi'ah menyebutkan bahwa Rajab itu adalah Ramadhan.

Kita dianjurkan pula untuk memperbanyak ibadah di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.
Dalam Al Qur'an surat Al Fajr 1-2, dalam tafsir Ibnu Katsir yang dimaksud 10 hari itu adalah 10 hari pertama bulan Dzulhijjah.
Dari Ibnu Abbas ra bahwa Nabi SAW bersabda : "Tidak ada amal yang lebih afdhal dibanding amal pada hari-hari ini. Mereka bertanya : Tidak yang jihad? Beliau menjawab : Tidak pula jihad, kecuali seseorang yang keluar untuk mengorbankan jiwa dan hartanya, lalu ia tidak kembali dengan sesuatu pun." Dalam tafsir Ibnu Katsir, hari-hari yang dimaksud adalah di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

Mengapakah sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah ini demikian dimuliakan?

Pada hari-hari ini berkumpulnya ibadah-ibadah yang utama, yaitu : sholat, sedekah, puasa dan haji. (Ibnu Hajar Al Asqalani)
Dari Ibnu Abbas ra, Allah mewahyukan Taurat kepada Musa as yang didahului dengan puasa selama 40 hari (30 hari di bulan Dzul qa'dah dan 10 hari di awal Dzulhijjah). Puasa itu jadi penyempurna turunnya Taurat dan pada bulaan yang sama Allah mewahyukan ayat (terakhir) dari Al Qur'an (saat haji wada'). (Tafsir Ibnu Katsir)
Pada bulan Dzulhijjah, Allah menggabungkan keharaman waktu (bulan haram), keharaman tempat (Mekah dan Madinah), keharaman kondisi (haji jadi profil paripurna seorang muslim).

Hal-hal tersebutlah, selain apa yang terdapat dalam dalil naqli, yang (semoga) bisa menguatkan pemahaman kita tentang keutamaan sepuluh hari pertama.


Adapun ibadah-ibadahyang dianjurkan di sepuluh hari pertama Dzulhijjah adalah :
1. Shoum sunnah
Pada sepuluh hari pertama, dianjurkan pula untuk berpuasa, terlebih pada hari ke 8 (Tarwiyah) dan 9 (Arafah) Dzulhijjah, kecuali tanggal 10 Dzulhijjah. Tanggal 10, 11, 12, dan 13 adalah hari-hari yang terlarang untuk berpuasa.
2. Sholat Idul Adha dan berqurban
Dalam QS Al Kautsar ayat 2, Allah memerintahkan untuk melaksanakan sholat dan berkurban.
Dalam Fiqh Sunnah, Sayyid Sabiq menyebutkan bahwa disyariatkannya sholat Idain pada tahun I hijrah. Itu adalah sunnah muakkadah yang selalu dilakukan Rasulullah. Beliau memerintahkan kaum laki-laki dan wanita untuk keluar meramaikan. Adapun hukum melaksanakan sholat Ied ini adalah wajib (menurut madzhab Hanafi, wajib di sini maksudnya antara sunnah dan fardhu), sunnah muakkadah (menurut madzhab Syafi'i dan Maliki), dan fardlu kifayah (menurut Hanabilah).
Qurban ini jumhur ulama menyebutkan bahwa hukumnya adalah sunnah muakkadah.
3. Dzikrullah
4. Haji (bagi yang mampu)
5. Bersedekah
6. Tilawah Al Qur'an
7. dan ibadah-ibadah sunnah lainnya

wallohu a'lam bish showab

Friday, September 13, 2013

Berguru Pada Shahabiyah

Membaca kisah para shahabiyah rasanya tidak ada bosan-bosannya. Bukan karena kisah mereka yang menampakkan sosok sempurna bagi seorang wanita, namun lebih daripada itu. Tampilan sosok wanita yang digambarkan bak bidadari dengan wajah yang selalu berseri- seri, lurus pemikirannya, sopan dalam bertutur kata, dan bijaksana dalam membuat keputusan, namun bukan karena itu juga. Perlu kiranya bagi kita untuk menelusuri kehidupan mereka, hingga kita sadar betapa jauhnya perbedaan antara wanita yang masih menghirup udara segar di zaman nubuwwah dengan wanita zaman sekarang. Dengan demikian insya Allah akan tumbuh rasa ingin belajar dan memperbaiki diri lebih mendekat dengan kehidupan para shahabiyah.
Ummu Sulaim binti Malhan binti Khalid dengan segala kelebihan yang harta yang dimiliki serta garis keturunan yang terhormat tampil dengan ketinggian imannya. Sepeninggal suaminya, Malik tidak serta merta ia menerima lamaran Abu Thalhah yang cukup terkenal dengan timbunan harta serta jabatan yang menjanjikan di kalangan kaum Quraisy. Mungkin kita akan berkata, Ummu Sulaim kan seorang yang kaya. Dan anaknya pun masih satu, Anas bin Malik, yang pastinya bisa dipeliharanya dengan baik hingga ia tidak membutuhkan suami lagi. Namun ternyata bukan itu penyebab penolakan lamaran itu. Tanpa sedikit pun rasa ragu, lamaran itu ia tolak dengan satu alasan bahwa Abu Thalhah masih sombong dengan kekafiran yang dimilikinya. Hingga ketika Abu Thalhah sudah memeluk aqidah yang lurus ini, Ummu Sulaim menerima lamaran kemantapan hati.
Kemudian, ada Ummu Habibah yang mempunyai nama asli Ramlah binti Abu Sufyan. Lahir di tengah keluarga yang kental dengan ajaran nenek moyang dan memiliki ayah yang tidak lain adalah pemuka Quraisy, tidak kemudian hatinya tertutup untuk sebuah hidayah. Karena sejatinya, siapapun yang sudah diberi hidayah oleh Allah maka tidak akan ada yang dapat mencegahnya. Pun sebaliknya, jika Allah tidak menghendaki hidayah untuk seseorang maka tidak ada satupun yang bisa memaksanya. Ummu Habibah adalah satu contoh kebenaran pernyataan ini. Dengan ketegasannya, beriman kepada Allah dan RasulNya menjadi pilihan saat seruan itu sudah datang.
Ternyata semakin tinggi keimanan seseorang maka semakin tinggi pula ujian yang diterimanya. Ummu Habibah juga mengalami kondisi yang demikian. Setelah bersusah payah memperjuangkan keislamannya di hadapan ayahnya, Abu Sufyan, dia kemudian diuji dengan murtadnya suaminya, Ubaidullah bin Jahsys. Menjadi satu pelajaran yang sangat berharga, di tengah kondisi yang rumit itu, ternyata dia tetap mampu berpegang teguh pada keyakinannya. Dan rencana Allah tentulah sangat indah untuk mereka yang menjaga kesucian dirinya. Akhirnya beliau dipersunting oleh Rasulullah sebagai istrinya. Subhanallah!
Kedua wanita itu patut menjadi panutan kita di tengah hiruk- pikuk dunia ini. Saat harta dan jabatan dirasa lebih mulia dibandingkan keistiqamahan. Saat wanita yang mampu menghasilkan banyak uang setelah sekolah tinggi dianggap hebat walau tanpa sadar mereka telah jauh dari kodratnya sebagai ibu bagi anak- anaknya. Kedua wanita ini juga memberi pelajaran bagi kita ternyata Allah tidak akan memberi beban kepada kita jika kita tidak sanggup. Oleh karena itu, apapun yang kita hadapi saat ini, semua itu adalah bukti Allah cinta pada kita. Allah ingin kita lebih dekat denganNya, setelah selama ini mungkin kita hidup di bawah kesenangan yang melalaikan kita. Kita pun belajar dari kedua mujahidah itu bahwa wanita perlu memiliki prinsip. Karena bagaimanapun keadaan kita kelak di hadapanNya tergantung pada keputusan kita hari ini. Semoga Allah selalu meneguhkan hati kita hingga selalu condong pada kebenaran dan ketaatan padaNya.

Mengusap Sepatu Saat Berwudlu

dikutip dari : http://syariahonline.com/

Pertanyaan:
Assalamualaikum Wr. Wb. Pak Ustadz, apakah boleh kita menyapu sepatu sebagai pengganti wudhu? Berhubung saya tinggal di negeri jepang yang mayoritas nonmuslim, dan suhunya pun dingin sekali pas musim dingin, apakah diperbolehkan bila kita menyapu sepatu sebagai pengganti mencuci kaki? Terutama pada saat kuliah, agak sulit dan kurang enak dengan orang jepang bila mencuci kaki di wastafelnya toilet (karena tempat wudhu tidak ada). Kemudian bila kita menyapu sepatu, haruskah kita solat dengan memakai sepatu, atau boleh dilepas sepatunya? Atau sebagai pengganti menyapu sepatu, bolehkah kita menyapu kaos kaki saja? Jazakumullah atas jawabannya. Wassalamu alaikum wr. wb.

Jawaban:
Assalamu `alaikum Wr. Wb. Al-Hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil Mursalin, Wa `Alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in, Wa Ba`d.
Menyapu sepatu dengan air saat berwudhu’ sebagai ganti dari mencuci dua kaki dalam istilah fiqih disebut ‘al-mashu ala al-khuffain’. Hal itu boleh dilakukan dengan beberapa persyaratan yang telah digariskan. Dalilnya adalah ketika Rasulullah SAW berwudhu`, salah seorang shahabat mengambilkan air wudhu’ untuknya, ketika giliran mencuci kaki dan sepatu masih dikenakan, beliau mengatakan, ”Biarkan kakiku itu (tidak perlu dilepas sepatunya).” Karena ketika aku mengenakan sepatu, kakiku dalam keadaan suci (dalam keadaan wudhu`). Praktek seperti ini memang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW dahulu. Dan menjadi bagian dalam tata aturan berwudhu` terutama bila dalam keadaan udara yang sangat dingin.
Sebagian ulama ada yang membolehkannya hanya pada saat safar (bepergian). Namun yang benar adalah baik dalam keadaan safar atau tidak, bisa diberlakukan. Caranya sama dengan wudhu` biasa kecuali hanya pada ketika hendak mencuci kaki, maka tidak perlu mencopot sepatu, tapi cukup membasuh bagian atas sepatu dari bagian depat terus ke belakang sebagai ganti dari cuci kaki. Sepatu tetap dalam keadaan dipakai dan tidak dilepas. Untuk dibolehkannya tidak mencuci kaki dalam wudhu` dan hanya mengusap bagian atas dari sepatu, ada beberapa ketentuan yang harus dipenuhi :
  1. Sebelumnya harus sudah berwudhu` dengan sempurna. Setelah itu bila batal wudhu`nya, maka ketika berwudhu` lagi, tidak perlu mencuci kaki tapi hanya mengusapkan air ke bagian atas sepatu.
  2. Sepatu yang digunakan haruslah yang menutupi hingga mata kaki dan bukan terbuat dari bahan yang tipis tembus air atau tidak ada yang robek.
  3. Untuk musafir, boleh melakukan seperti itu selama masa waktu tiga hari. Sedangkan buat yang tidak musafir, masa berlakunya hanya sehari dan semalam.
  4. Semua itu selama dia tidak mencopot sepatunya. Adapun bila dalam masa itu dia mencopotnya, maka batallah masa berlakunya baik yang sehari semalam atau tiga hari.
  5. Semua yang membatalkan wudhu` otomatis membatalkan wudhu` dengan mengusap pada sepatu.
  6. Keringanan ini merupakan salah satu bentuk kemudahan yang ada dalam syariat Islam. Selain itu ada tayammum, jama` qashar dan lain-lain.
Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab, Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

Sudahkah Kita Penuhi Hak Saudara Kita?

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dan Tirmidzi disebutkan, bahwa Rasulullah bersabda, "Ada enam hak seorang muslim atas saudaranya sesama muslim, yaitu :
1. Bila ia berjumpa, ucapkanlah salam
2. Bila ia diundang, hadirilah
3. Bila dimintai nasehat, maka berikanlah
4. Bila ia bersin dan memuji Allah (mengucap hamdalah), maka bertasymitlah (doakanlah)
5. Bila ia sakit, jenguklah
6. Bila ia meninggal dunia, antarkanlah jenazahnya"

Secara singkat, berikut  uraiannya yaa...
1. Bila ia berjumpa, ucapkanlah salam
Kata Islam sendiri akar katanya dari salama, yang artinya kedamaian. Jadi, Islam datang untuk membawa kebaikan dan kedamaian. Salam itu sendiri juga berarti bahwa Islam itu damai dan muslim itu cinta damai.
2. Bila ia diundang, hadirilah
3. Bila dimintai nasehat, maka berikanlah
4. Bila ia bersin dan memuji Allah (mengucap hamdalah), maka bertasymitlah (doakanlah)
5. Bila ia sakit, jenguklah
6. Bila ia meninggal dunia, antarkanlah jenazahnya

Friday, August 23, 2013

Iman dan ukhuwah

Ada dua kaidah asasi (pokok) yang menjadi tonggak atas kehidupan seorang muslim dan pemahamannya dalam kehidupan ini, dimana keduanya harus dimiliki agar dapat mampu mengemban amanah yang mulia seperti yang diperintahkan Allah SWT, yaitu: Iman dan Ukhuwah.
Iman kepada Allah, bertaqwa kepada-Nya, adanya perasaan dipantau oleh-Nya pada setiap detik kehidupan, dan ukhuwah karena Allah, adalah yang membuat suatu jamaah muslimah memiliki pondasi kehidupan yang kuat dan kokoh. Mampu menunaikan perannya yang besar dalam mensejahterakan kehidupan umat manusia, dan berperan dalam menganjurkan kepada yang ma’ruf dan mencegah yang munkar, serta menegakkan kehidupan atas dasar kebaikan dan membersihkannya dari segala kemungkaran.
Iman dan ukhuwah, dua pondasi utama yang menjadi kemestian hidup suatu jamaah muslimah sehingga mampu menunaikan perannya yang agung dan mulia. Jika salah satunya sirna maka tidak akan ada jamaah muslimah dan tidak akan mampu melaksanakan perannya di muka bumi ini.
Yang utama adalah keimanan dan taqwa… Taqwa yang mampu mencapai pada kesempurnaan penunaian hak-hak Allah yang Maha Agung. Taqwa yang terus berkesinambungan dan selalu awas, yang tidak pernah lalai dan futur dalam setiap waktu dari masa hidupnya hingga datang ajal menjemputnya.
Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa”. (QS. 3: 102).
Bertaqwalah kepada Allah; demikianlah perintahnya tanpa ada batasan, menuntut hati untuk bersungguh-sungguh mencapainya seperti yang digambarkan dalam diri dengan segala kemampuannya, setiap kali hati mengalami keteledoran maka akan terungkap aspek-aspek kelemahannya lalu setelah itu akan bertambah rasa rindu kepada Rabb-nya. Setiap kali merasakan kedekatan dan taqwa kepada Allah, bangkit rasa kerinduannya ke jenjang yang paling tinggi dan menuju peringkat yang dapat mencapai pada maqom (kedudukan) yang mampu membangkitkan hatinya yang tidak akan pernah istirahat (tidur).
Allah berfirman: “Dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan berserah diri”, sesungguhnya kematian merupakan kepastian, namun mati juga merupakan hal gaib yang tidak diketahui manusia kapan datangnya. Maka barangsiapa yang tidak ingin mati kecuali dalam keadaan Islam maka dia harus berada dalam setiap waktunya berada dalam keadaan berserah diri (Islam). Dan disebutkan nya kata “Islam” setelah “taqwa” berarti memiliki makna yang sangat luas, yaitu berserah diri, atau berserah diri kepada Allah, taat kepada-Nya, dan mengikuti manhajnya serta berhukum kepada kitabnya…
Setiap perkumpulan yang jauh dari iman, maka perkumpulan itu merupakan perkumpulan jahili…
Adapun yang kedua adalah ukhuwah; ukhuwah karena Allah, di atas manhaj Allah dan dalam merealisasikan manhaj Rabbani yang agung. “Dan berpegang teguhlah kepada tali (agama) Allah dan janganlah kalian bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah saat itu kalian saling bermusuhan maka disatukan antara hati kalian maka jadilah dengan Nikmat Allah saling bersaudara, dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”. (QS. 3 : 103)
Gambaran di atas yang dilukiskan Al-Quran terhadap mereka yang bertemu dalam tali (agama) Allah dan menjadikannya sebagai manhaj, perjanjian dan agamanya, merupakan pertemuan yang bukan sekadar pertemuan untuk mencapai keuntungan yang nisbi atau mencapai tujuan tentunya, namun pertemuan yang berdasarkan pada ukhuwah islamiyah.
Persaudaraan yang terjaga dengan tali Allah merupakan kenikmatan yang diberikan Allah atas jamaah muslimah; yaitu nikmat yang diberikan bagi mereka yang dicintai dan dikehendaki Allah dari hamba-hamba-Nya. Hal ini mengingatkan kepada kita akan nikmat yang begitu besar, dan mengingatkan kita bagaimana kita sebelumnya dalam keadaan jahili saling bermusuh-musuhan.
Tidak ada seorang pun yang tidak memiliki permusuhan antara kaum Aus dan Khazraj di kota Madinah sebelum Islam. Namun setelah masuk Islam, Allah menyatukan hati di antara mereka. Tidak ada solusi sedikit pun kecuali Islam yang dapat menyatukan hati yang beragam bentuknya, tidak ada yang terjadi kecuali karena tali Allah yang dapat menyatukan mereka menjadi saudara, dan tidak mungkin hati-hati itu akan bersatu kecuali karena ukhuwah fillah.
Karena itulah marilah sama-sama kita satukan hati karena Allah, karena keimanan tanpa ukhuwah akan hampa sedangkan ukhuwah tanpa iman akan sirna. []

Sumber: dakwatuna

Friday, August 16, 2013

Renungan Syawal



Saudariku,

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar
Takbir kemenangan telah berkumandang di seluruh penjuru dunia. Takbir kemenangan? Ya..itulah takbir kemenangan bagi mereka yang telah berhasil berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan. Fajar di pagi 1 Syawal ini menandakan babak baru dalam kehidupan setiap mukmin. Bagaimana tidak, kita telah mendapat pendidikan, pembinaan, pelatihan selama sebulan penuh. Semoga memang selepas Ramadhan, segala kebiasaan baik yang dilakukan tetap bisa diistiqomahkan.

Saudariku,
Mari kita tengok yaumiah kita beberapa hari belakangan selepas Ramadhan, bagaimana tilawah Al Qur’an kita? Bagaimana qiyamul lail kita? Apakah kita sholat shubuh berjamaah di masjid? Sudahkah kita baca dzikir Ma’tsurat (minimal) tiap pagi ? Sholat dhuha? Sudah membayar hutang puasa? Shoum syawal? Bagaimana? Jikalau semuanya lebih baik dibandingakan di bulan Ramadhan atau setidaknya sama, maka bersyukurlah. Allah telah menggerakkan hati, mata, tangan dan kaki kita untuk menjaga ibadah yaumiah tersebut. Tidak mudah memang, apalagi jika niat tidak ada, tidak tumbuh azzam dan tidak ada usaha. Sekali lagi bersyukurlah… Ya muqollibal quluub, tsabbit quluubana ‘ala diinik, ‘ala thoo’atik.

Saudariku,
Takbir tanda kemenangan itu juga berarti genderang perang telah ditabuh. Waspadalah terhadap bisikan-bisikan syaitan yang berseliweran. Baru saja berlalu beberapa hari dari bulan Ramadhan yang mulia dimana kita ingin setiap detiknya bisa memperkuat iman kita pada-Nya, ingin selalu beribadah, namun apakah ada yang berubah dari kebiasaan kita sekarang? Khususnya saat berupaya menghidupkan ibadah-ibadah sunnah. Anggaplah ibadah wajib kita tetap lancar, tanpa penghalang. Bukan tidak mungkin si dia ini membisikkan di hati kita, “santai sajalah dalam beribadah…bukankah kemarin sebulan penuh sudah banyak amalan yang dikerjakan. Sekarang saatnya menikmati kemenangan. Hura-hura, santai-santai”. Jangaaan ! Jangan sampai kita terhasut bujuk rayunya karena sejatinya ibadah yang kita lakukan di bulan Ramadhan adalah pelatihan, pendidikan, dan pembiasaan. Sehingga selepas ramadhan dimaksudkan ibadah-ibadah tersebut semakin ringan untuk dikerjakan. Lagi pula bukankah kita hamba Allah, dan bukan hamba Ramadhan? Artinya, kapanpun ibadah kita tetap harus diistiqomahkan.

Saudariku,
Apakah kita termasuk mereka yang tergoda bujuk rayu syaitan? Naudzubillahi min dzalik. Semoga tidak. Kalaupun ada perubahan yang drastis (perubahan kea rah yang tidak baik), bisa jadi itu tanda ketidaksuksesan ramadhan kita atau kurang kuatnya semangat istiqamah di dalam diri kita. Mari kita introspeksi diri…

Saudariku,
Dalam sebuah hadits disebutkan : “Berapa banyak orang yang berpuasa, tetapi ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya itu, kecuali rasa lapar dan haus.” [Hadits Shahih, Ahmad: II/441 dan 373]
Jika demikian, menjadi penting bagi kita untuk mengetahui apakah kita termasuk orang-orang yang sukses mendapat rahmat dan maghfirah Allah, juga keberkahan di bulan Ramadhan. Setidaknya ada beberapa tolak ukur kesuksesan Ramadhan kita, di antaranya :

(1) Menjadi Orang yang Ikhlas
Puasa Ramadhan menggembleng kita dalam mengikhlaskan niat, dimana puasa Ramadhan hanya dilakukan untuk Allah semata, sebagaimana disebutkan dalam hadits:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ: الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ, قَالَ اللهُ تَعَلَى: إلاَّ الصِّيَامُ فَإنَّهُ لِيْ وَأنَا أَجْزِيْ بِـهِ, يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِيْ
“Setiap amal anak Adam akan dibalas berlipat ganda. Satu kebaikan akan dibalas 10 kali lipat sampai 700 kali lipat. Allah berfirman: ‘Kecuali puasa. Puasa ini untuk diri-Ku dan Aku akan membalasnya (dengan pahala tanpa batas). Dia meninggalkan syahwat dan makanannya demi diri-Ku….” [Shahih Muslim: 1151]
Inilah esensi ajaran tauhid. Jika ibadah Anda setelah Ramadhan tidak lagi bergantung pada tendensi selain-Nya, seperti riya’ dan sum’ah yang tergolong syirik kecil (lebih-lebih syirik besar), maka ini boleh jadi—In syaa Allah—pertanda yang baik diterimanya amal Ramadhan Anda.
(2) Semakin Ringan dan Nikmat Dalam Melakukan Amal Ketaatan
Puasa Ramadhan juga menempa seseorang untuk meningkatkan kadar keikhlasan ibadahnya. Karena di dalam puasa, hamba tidak dituntut sekedar menahan makan, minum dan syahwat semata, tapi juga lisan dan hatinya dari ketidaksabaran atau dari amal yang tidak bermanfaat.
وَإذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَصْخَبْ فَإنْ سَبَّهُ أحَدٌ أوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ: إنِّى امْرُؤٌ صَائِمٌ
“…Jika pada suatu hari salah seorang dari kalian sedang berpuasa, janganlah melakukan rafats (seperti berbicara porno atau keji) dan tidak juga membuat kegaduhan. Jika ada orang yang hendak mencaci atau menyerangnya, hendaklah ia (bersabar dan) berkata: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa…” [Shahih Bukhari:IV/88]
Dan ini sudah barang tentu membutuhkan tingkat keikhlasan yang lebih. Karena dengan keikhlasan seadanya, sangat sulit untuk mampu menghindar dari larangan-larangan semisal dalam hadits di atas.
Ketika semakin tinggi keikhlasan seorang hamba, semakin besar pula keridhaannya terhadap Allah. Semakin besar keridhaan hamba kepada Allah, semakin ringan baginya dalam melaksanakan ketaatan pada-Nya. Jika Anda merasakan hal tersebut di luar Ramadhan, maka berbahagialah. Anda yang tadinya merasa terbelenggu ketika hendak melangkah untuk beramal, Anda yang kemarin selalu tidur berselimut futur (malas, jenuh dalam beramal), tiba-tiba menjadi orang yang bangkit beramal shalih setelah Ramadhan, maka tersenyumlah dan ucapkan Tahmid (Alhamdulillah), karena Anda telah meraih fadhilah Ramadhan.
Setelah merasa ringan dalam melakukan amal ketaatan (terutama ibadah yang wajib), dan Anda telah istiqomah dalam beribadah kepada-Nya, maka pada tahap berikutnya Anda akan merasakan kenikmatan dalam beribadah. Jiwa dan raga Anda merasa butuh untuk beribadah. Hati akan terasa hampa dan merugi ketika luput dari satu bentuk ibadah, sekalipun tanpa disengaja.
(3) Semakin Jauh dari Maksiat
Ini karena puasa adalah tameng yang membentengi hamba dari perbuatan maksiat. Sebagaimana hadits Rasulullah r:
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنْ السْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةُ فَالْيَتَزَوَّجْ فَإنَّهُ أغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأحْسَنُ لِلْفَرْجِ فَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
“Wahai sekalian anak muda, barangsiapa di antara kalian telah mampu, maka hendaklah ia menikah, karena menikah itu lebih menundukkan pandangan dan lebih tangguh memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa karena puasa bisa menjadi perisai baginya (dari kemaksiatan).” [Shahih Bukhari: IV/106 dan Shahih Muslim: 1400 dari sahabat Ibnu Mas’ud]
Maka jika keadaan Anda lebih jauh dari maksiat jika dibandingkan dengan kondisi Anda sebelum Ramadhan, maka ber-husnuzzon-lah kepada Allah, bahwa Anda telah meraih fadhilah Ramadhan.
(4) Cinta pada Al-Qur-an
Orang-orang yang sukses di bulan Ramadhan akan bertambah rajin membaca al-Qur-an di luar Ramadhan jika dibandingkan dengan waktu sebelum Ramadhan. Karena bulan ini adalah “Bulannya al-Qur-an”, tiada hari tanpa membaca al-Qur-an. Sehingga kebiasaan mulia ber-wirid dengan tilawah al-Qur-an tentunya akan tetap berlanjut setelah Ramadhan.
(5) Menjadi Dermawan
Hikmah puasa memberikan kita kesempatan untuk merasakan penderitaan kaum dhuafa’ dan fakir miskin. Dari sini diharapkan tumbuh kesadaran sosial yang tinggi dengan menyantuni mereka, menyayangi serta meringankan beban mereka. Kewajiban zakat fithrah di akhir Ramadhan juga mengajarkan hal ini. Selepas Ramadhan, orang-orang yang sukses akan lebih dermawan.
(6) Loyalitas (Wala’) Sesama Muslim Semakin Kokoh
Ramadhan mengajarkan kita untuk berbagi antar sesama. Renungkanlah bagaimana Allah menjanjikan pahala yang besar kepada mereka yang menyediakan ifthar (buka puasa) bagi saudaranya:
مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا
“Barangsiapa memberi makan kepada orang yang berbuka puasa, maka baginya pahala orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun.” [Ahmad: IV/114-116, shahih menurut at-Tirmidzi: 804]
Belum lagi selama Ramadhan, banyak kegiatan yang bersama-sama, seperti sholat tarawih berjama'ah, buka puasa bersama, pengajian bersama, dan juga pesantren Ramadhan. Ramadhan benar-benar menjadi momentum bagi kita untuk merekonstruksi makna al-Wala’ yang sempat runtuh dan terkubur. Dengan demikian, rasa cinta dan persaudaraan Islam pun akan bersemi. Orang-orang yang sukses menjalani Ramadhan, senantiasa menjaga bangunan al-Wala’ tetap kokoh menjulang, baik di luar Ramadhan sekalipun. Selepas ramadhan ini pun, rasanya kita langsung di-test. Di awal bulan Syawal ini, kita mendengar kabar duka dari saudara-daudara kita di Mesir, juga Syiria. Sudahkah kita melakukan sesuatu untuk mereka? Setidaknya kita mendoakan mereka semuanya. Sudahkah?
(7) Do’a yang Terkabul
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَعْوَةً مَا تُرَدُّ
“Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa, punya satu kesempatan do’a yang tidak akan ditolak pada saat ia berbuka.” [Hadits Shahih, Ibnu Majah: I/557]
Jika do’a yang Anda panjatkan saat Ramadhan menjadi kenyataan, maka ucapkanlah kalimat syukur, kemudian Anda boleh berharap dengan yakin, bahwa Anda telah meraih fadhilah Ramadhan.
(8) Semakin Mendalami Ilmu Agama
Boleh dibilang ini adalah indikasi terbesar bagi seorang hamba yang telah meraih sukses di bulan Ramadhan. Karena buah dari sukses Ramadhan adalah dilimpahkannya berbagai kebaikan kepada hamba. Dan Allah jika menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya yang terpilih, Dia terlebih dahulu akan mempersiapkan hamba-Nya tersebut untuk memahami ilmu agama, sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam:
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِيْ الدِّيْنِ
“Barangsiapa dikehendaki baginya kebaikan oleh Allah, Maka Dia akan memberikan pemahaman agama kepadanya.” [Shahih Bukhari: 71 dan Shahih Muslim: 1037]
Mafhum mukholafah dari hadits ini adalah; bahwa orang yang tidak diberikan pemahaman dalam agamanya (berarti) tidak dikehendaki kebaikan oleh Allah [al-‘Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu hal. 49]. Dan yang demikian ini mustahil bagi mereka yang benar-benar sukses di bulan Ramadhan di mata Allah. Orang-orang yang sukses menjalani Ramadhan pasti akan mendapat limpahan kebaikan dari Allah, dan indikasinya akan terlihat jelas setelah Ramadhan, dari usahanya yang lebih serius dalam menuntut dan memahami ilmu agama. 
Imam Nawawi (wafat th. 676 H) mengatakan: “Di dalam hadits ini terdapat keutamaan ilmu, mendalami agama, dan dorongan kepadanya. Sebabnya adalah karena ilmu akan menuntunnya kepada ketakwaan kepada Allah Ta’ala.” [Syarh Shahih Muslim: VII/128]
Jika kita renungkan ucapan Imam Nawawi: “…ilmu akan menuntunnya kepada ketakwaan kepada Allah Ta’ala”, maka akan nampak jelas korelasi antara mendalami ilmu agama dengan tujuan utama puasa Ramadhan yang disebutkan dalam ayat:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” [QS. al-Baqarah: 183]

Kesimpulannya, jika kita sukses menjalani Ramadhan, maka kita pasti akan menjadi orang yang bertakwa, sementara ilmu adalah kendaraan yang akan mengantarkan kita kepada takwa (sebagaimana ucapan Imam Nawawi di atas). Dengan kata lain bahwa: orang-orang yang sukses menjalani Ramadhan akan dipersiapkan oleh Allah untuk mendalami ilmu agama, demi meraih apa yang telah Ia janjikan sebagai buah dari berpuasa yaitu takwa. 

Saudariku,
Jika masalahnya ada pada keistiqomahan kita, patutlah kita renungkan kembali ayat-ayat-Nya dan apa yang disampaikan oleh Rasulullah.
Dari Abu Amr (ada yang mengatakan Abu Amrah) Sufyan bin Abdillah Ats Tsaqafy ra berkata, aku berkata, “Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku suatu perkataan tentang islam yang tidak akan kutanyakan kepada seorang pun, selain engkau. Beliau bersabda, “Katakanlah Aku beriman kepada Allah, lalu istiqomahlah.” (HR Muslim)
Memang pesan rasulullah ini bukanlah suatu hal yang mudah untuk dikerjakan, tetapi itu bukan alasan untuk tidak mengupayakannya secara optimal. Mengapa? Lihatlah bagaimana janji Allah bagi orang-orang yang istiqomah…janji terindah-Nya yakni jannah.
Dalam Al Qur’an Surat Fushilat ayat 30 Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang berkata: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap teguh pada pendiriannya, maka  malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati, dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.”

Robbana tsabbit quluubana 'ala diinik...

Wallohu a'lam bish showab

Leuven, 9 Syawal 1434 H

Thursday, August 15, 2013

Mengingat Mati (Dzikrul Maut)





disarikan dari tausyiah saat menjelang buka bersama di pengajian KPMI Belgia

"Perbanyaklah mengingat pelenyap kelezatan (kematian)" (ibnu Daqiqil eid)
Orang yang senantiasa mengingat kematian setidaknya akan memiliki tiga hal, yakni :
1. Rajin beribadah (ibadah dalam arti luas, bukan hanya ritual)
2. Bersifat qana'ah (bersyukur)
3. Menyegerakan taubat

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa, "Kita ditentukan oleh akhir kehidupan kita."

Ada beberapa istilah yang digunakan dalam menyebutkan kematian, diantaranya:
1. Al maut. : kematian
Imam Al Qurtubi menyebutkan bahwa kematian itu hakekatnya bukan dari ada menjadi tiada, tetapi hanya perpindahan alam saja. Sebagaimana dalam surat Al Baqarah disebutkan bahwa empat alam yang akan dilalui oleh setiap manusia adalah : mati - hidup (di dunia) - mati - hidup (di akhirat)
2. Wafat : sempurna
Dalam al Qur'an surat Ali Imron disebutkan istilah ini, maksudnya adalah orang yang wafat adalah orang yang telah sempurna jatah umurna, sempurna nikmatnya.
3. Al musibah (QS Al Maidah 106)
4. Al yaqin (QS Al Hijr 99)

Wafat itu ada dua macam, yakni :
1. Sughro --> tidur
2. kubro --> mati

"Setiap yang bernyawa pasti akan mati"

tanda-tanda menjelang kematian :
1. telah berusia 60/70 tahun
2. beruban (QS Fathir 37)

Dalam Al Qur'an surat Fushilat 30-32, Allah memberikan gambaran kematian orang mukmin.

Lantas bagaimana persiapanmenyambut kematian ini?
1. Perbanyak taubat dan istighfar
kalau ada hak-hak orang lain, segera tunaikan. Karena jika kita berhutang kepada sesama, dia akan bisa menagihnya di akhirat.
2. Perbanyak amal sholeh
3. Berdekat-dekat dengan orang sholeh
4. Perbanyak amal jariyah
"Jika anak Adam meninggal, amalnya terputus kecuali dari tiga perkara, sedekah jariah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak yang soleh yang berdoa kepadanya". (HR. Muslim)

Semoga Allah matikan kita dalam keadaan khusnul khotimah...aamiin