Showing posts with label al qur'an. Show all posts
Showing posts with label al qur'an. Show all posts

Saturday, May 3, 2014

Keistimewaan Al Qur'an


sumber dari sini

Al Qur'an adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara malaikat Jibril.

Al Qur'an ini memiliki fungsi:
1. Membuktikan kebenaran ke-Rasul-an Muhammad SAW
--> Kaum kafir Quraisy berangkapan bahwa Al Qur'an adalah butan Muhammad, bukan wahyu Allah. maka Allah memerintahkan kepada Rasulullah untuk menyampaikan tantangan :
a. tantangan yang pertama adalah membuat yang semisal dengan Al Qur'an (QS At Tuur (52) :34)
b. tantangan kedua (karena tantangan pertama tidak ada yang bisa) adalah membuat sepuluh surat yang semisal dengan Al Qur'an (QS Hud (11) : 13)
c. tantangan ketiga (karena tantangan kedua tidak ada yang bisa) adalah membuat sebuah surat yang semisal dengan Al Qur'an (QS Yunus (10) : 38)
d.  tantangan keempat (karena tantangan ketiga tidak ada yang bisa) adalah membuat satu surat yang semisal dengan Al Qur'an (QS Al Baqarah (2) : 23)
Kesimpulannya, pada akhirnya tidak ada yang sanggup membuat yangs erupa dengan Al Qur'an (QS Al Isra' (17) : 88)
2. Fungsi utamanya adalah sebagai pertunjuk untuk manusia (QS Al Baqarah (2) : 2), dimana di dalamnya berisi inti pokok ajaran Islam, syariah, ibadah, muammalah.

Syarat / Aspek kemukjizatan Al Qur'an :
1. Aspek keindahan dan ketelitian  redaksi
misalnya adalah jumlah kata dan lawan katanya adalah sama banyaknya, begitu juga dengan persamaan katanya (sinonim).
2. Aspek pemberitaan hal yang ghoib
 misalnya, adalh kisah Fir'aun dalam Al Qur'an, surat Yunus (10) ayat 90-92. Dalam ayat-ayat ini menceritakan ttg bagaimana Allah mengawetkan jasad Fir'aun untuk diambil pelajaran. Dalam sejarah disebutkan bahwa Fir'aun hidup sekitar 1200 SM dan jasadnya baru diketemukan pada tahun 1908.
3. Aspek isyarat ilmiah
misalnya, dalam Al Qur'an dalam surat An Nisa (4) : 56 menceritakan derita orang yang disiksa dalam neraka. Hal ini juga mengungkap tentang lapisan kulit manusia yang baru belakangan ini ditemukan oleh para ahli biologi.

Al Qur'an ini adalah wahyu Allah yang terjamin ke-otentik-annya. Sebagaimana Allah berfirman dalam surat Al Hijr (15) : 9.

Berinteraksi dengan Al Qur'an :
- membaca
- memahami
- mengamalkan, dijadikan pedoman hidup

Kebanyakan dari manusia bercita-cita untuk menjadi orang yang SUKSES. Apakah sukses itu? Sukses bisa didefinisikan sebagai dapat menikmati apa-apa yang orang lain tidak dapat menikmati. Dan untuk meraihnya sudah barang tentunya perlu pengorbanan. Lakukanlah apa yang tidak dilakukan oleh kebanyakan orang.

Monday, March 10, 2014

Kisah "In syaa Allah"

Pertama, Kisah Nabi Sulaiman yg digambarkan dalam Hadist yang diriwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Nabi Sulaiman memiliki enam puluh orang istri. Suatu hari ia berkata: Malam ini aku akan menggauli semua istriku satu-persatu, sehingga masing-masing mereka akan mengandung dan melahirkan seorang anak lelaki yang perkasa dalam menunggang kuda untuk berjuang di jalan Allah. Ternyata tidak seorang istri pun yang mengandung kecuali hanya satu yang melahirkan bayi setengah manusia. Kemudian Rasulullah saw. bersabda: Seandainya Sulaiman mengucapkan "insya Allah", pasti masing-masing mereka akan melahirkan seorang anak lelaki yang perkasa dalam menunggang kuda untuk berjuang di jalan Allah. (Shahih Muslim No.3123)

Kedua, didalam QS Al-Kahf (18) : 23-24, yang artinya :
Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: "aku pasti pasti melakukan itu besok pagi,
kecuali (dengan mengatakan): "Insya-Allah". Dan ingatlah kepada Tuhanmu apabila engkau lupa dan katakanlah: "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepadaku agar aku yang lebih dekat kebenarannya daripada ini".

Menurut riwayat, ada bebeapa orang Quraisy bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, tentang roh, kisah Ashabul Kahf (Penghuni gua) dan kisah dzulqarnain, lalu beliau menjawab, datanglah besok pagi kepadaku agar aku ceritakan kepadamu. Dan beliau tidak mengucapkan Insya ALLAH (atinya jika ALLAH menghendaki). Tapi rupanya sampai besok harinya wahyu terlambat datang untuk menceritakan hal-hal tersebut dan Nabi tidak dapat menjawabnya. Maka turunlah ayat 23-24 diatas, sebagai pelajaran kepada nabi : ALLAH mengingatkan pula bilamana nabi lupa menyebut Insya ALLAH haruslah segera menyebutnya kemudian.

Ketiga, Pemilik Kebun dalam QS. Al-Qalam (68) :17-33
Sesungguhnya Kami telah menguji mereka (musyrikin Mekah) sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah pasti akan memetik (hasil) nya di pagi hari,
Tetapi mereka tidak menyisihkan (dengan mengucapkan: "Insya Allah")
lalu kebun itu ditimpa bencana (yang datang) dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur,
maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita* (Maka terbakarlah kebun itu dan tinggallah arang-arangnya sepeti malam).
lalu pada pagi hari mereka saling memanggil: "Pergilah pagi-pagi ke kebunmu jika kamu hendak memetik hasilnya".
Maka merekapun berangkat sambil berbisik-bisik: "Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun masuk ke dalam kebunmu".
Dan berangkatlah mereka di pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal mereka mampu (menolongnya).
Maka, Tatkala mereka melihat kebun itu, mereka berkata: "Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat, bahkan kita tidak memperoleh apapun"
Berkatalah seorang yang paling bijak di antara mereka: "Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, mengapa kamu tidak bertasbih (kepada Tuhanmu)?"* (mensyukuri nikmatnya dan tidak meniatkan sesuatu yang bertentangan dengan Perintah Allah. Seperti : meniatkan tidak akan memberi fakir miskin.
Mereka mengucapkan: "Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang Zalim".
Lalu meraka saling berhadapan dan saling berhadapan.
Mereka berkata: " celakalah kita! sesungguhnya kita ini orang-orang yang melampaui batas".
Mudah-mudahan Tuhan memberikan ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada yang ini; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Tuhan kita.
Seperti itulah azab (di dunia). Dan sesungguhnya azab akhirat lebih besar jika mereka mengetahui.

:: Dinukil dari AL-QUR'AN dan HADIST.
semoga, kita termasuk orang-orang yang tak lupa mengatakan In syaa Allah ketika berjanji ataupun bersumpah. "In syaa Allah."
sumber : dari sini

Friday, October 25, 2013

6 Teknik Ruqyah Mandiri

[1] RUQYAH RUMAH; 

Tehnik ruqyah ini bisa juga diaplikasikan untuk Ruqyah Kantor, Ruqyah Gudang, Perusahaan, Ruqyah Penyakit Menahun, Ruqyah Mandul, Ruqyah Eksim, Ruqyah Maagh, Ruqyah Insomnia, Ruqyah Stroke, Ruqyah Kangker Darah, dan berbagai bentuk penyakit yang tidak dimengerti secara Ilmiah. 
Tutorial berikut telah dibuktikan ratusan Hamba Allah di dunia yang keluarganya diganggu sihir, insya Allah akan menetralisir sihir baik itu di badan atau di rumah kita secara menyeluruh, caranya sebagai berikut:

Ambil 1 Galon Air putih (atau sekitar 20 liter air) lalu bacakan; Alfatihah, Ayat Kursi, Al Ikhlas, Al Falaq, An Nas, Al A'raaf 117 - 122, Yunus 81-82, Thaha 68-70, bacakan masing-masing 11 kali dan tiupkan. Misal baca Al Fatihah hingga selesai lalu tiupkan, lakukan hingga 11 kali kemudian lanjutkan dengan Al Ikhlas.. dan seterusnya.
Setelah itu cipratkan atau semprotkan keseluruh lantai dan sudut rumah, sebagiannya minum dan dimandikan. Lakukan selama 11 hari. Cukup bacakan "masing-masing" 11 kali dihari pertama saja. Jika ingin mengulangnya setiap hari atau ingin menambahkan lebih dari 11 kali juga boleh. Bahkan lebih baik, insya Allah.
>>> Teknis Ruqyah:
Di hari pertama hingga hari ke-3;
Ambil 1 liter air dan campur dengan air lain lalu cipratkan keseluruh lantai rumah, sudut-sudut rumah, jendela, pintu, langit-langit, dapur dan atap rumah. Baiknya lakukan setelah shalat isya di malam hari. Lakukan hingga ada tanda-tanda bahwa jin atau sihir di rumah atau tempat itu telah sirna, tandanya akan ditemukan hewan yang mati seperti; ular, tikus, kalajengking, kepiting, ada bulu-bulu hewan di pagi harinya. Atau ada bau hangus terbakar beberapa menit setelah dicipratkan. Jika melihat tanda diatas maka hentikan untuk ruqyah rumahnya dan lanjutkan untuk meruqyah diri. 
Hari ke-4 hingga hari ke 12, gunakan semua air untuk ruqyah mandiri saja.
Untuk "Ruqyah Mandiri" teknisnya; Hari pertama hingga hari ke-3, Ambil 1 gelas air dan minum, lalu ambil segelas lagi dan campurkan ke bak mandi. Hari ke 4 hingga hari ke 12, ambil 3 gelas air setiap hari dan campurkan air itu dengan air bak untuk mandi atau shower, 3 gelas lagi diminum (pagi, siang dan malam).
Insya Allah, tips dahsyat ini saya susun dari bimbingan Syaikh Abdul Rauf Bin Halema - Kairo, beliau telah mendirikan lebih dari 60 Ruqyah Center di 20 Negara di Dunia. 
Semua Umat Islam bisa melakukannya, jika tidak hafal ayat-ayat diatas sebaiknya dibaca langsung dari Al Quran. itu lebih baik.
Selamat Membuktikan.

[2] MENGHUKUM JIN DI ALAM MIMPI.
Seperti tehnik diatas, tehnik ini sudah dibuktikan ratusan orang muslim bahkan non muslim sekalipun, modalnya adalah keyakinan. Ingat, keyakinan itu lahir dari pengetahuan dan pengetahuan itu lahir dari belajar. Mari kita pelajari dan buktikan, caranya sebagai berikut; Sebelumnya, ingat: Jin itu hina, dan jin itu mati. Yang tidak mati itu iblis.
>>> Teknis Ruqyah:
- Sebelum tidur ambil wudhu, dan niatkan untuk bertemu dengan jin yang selama ini mengganggu anda atau keluarga anda atau jika antum praktisi Ruqyah niatkan untuk bertemu jin yang selalu mengganggu pasien.
- Baca Al Fatihah, Al Ikhlas, Al Falaq dan An Nas juga Ayat Qursi. Setelah itu usapkan ke wajah dan seluruh tubuh. Lalu bacakan surah Al Baqarah 148, dan niatkan sekali lagi (mohon kepada Allah) untuk bertemu dengan jin-jin laknat itu.
- Jika dalam mimpi itu dipertemukan oleh Allah dengan jin yang biasa mengganggu, atau jin yang suka menindih kita, atau jin yang menyakiti kita, atau jin yang biasa menakuti anak kita, istri kita atau kita sendiri maka jangan lari tapi kejar hingga TERTANGKAP APAPUN BENTUKNYA! Ingat tangkap dan cengkram lalu bacakan Ayat Qursy hingga ia mati terbakar. Jika dalam mimpi itu tidak hafal ayat-ayat Ruqyah, maka baca Asma Allah atau takbir. Bacakan berulang-ulang hingga ia mati atau lari.
Ingat, sekali lagi ingat sabda Rasulullah Sholallahu Alaiyhi wa Sallam; "Jin itu takut sama manusia sama seperti manusia takut sama Jin". Jadi jangan lari dan membiarkan diri dikejar-kejar jin, tapi kejarlah agar jin itu lari.
Ingat jangan lari tapi kejar, hingga musuh-musuh Allah itu lari. Ingat, KEJAR, KEJAR, KEJAR, sekali lagi KEJAR. Catat dalam otak bawah sadar anda "KEJAR jangan lari". Terus kejar, jika jin itu lari kesebuah rumah atau persembunyian, jangan takut, lari dan terus kejar dan hancurkan tempat mereka. Bisa jadi itu adalah tukang sihir yang menyihir keluarga kita, jika JIN, tukang sihir dan rumah atau persembunyian itu berhasil kita hancurkan dalam mimpi, maka insya Allah jin dan tukang sihir itu juga mati. Sekali lagi MATI, karena pelindung mereka itu hanyalah dari syaitan, dan syaitan itu dipersenjatai kekuatan dari IBLIS. Dan iblis itu tidak ada apa-apanya dibanding kemahagagahan Allah aza wajalla dan kita, manusia, baik orang awam atau Praktisi Ruqyah memohon kekuatan dan diberi kekuatan oleh Allah. Cash! Lansung! Tanpa Batas! Selama kita yakin. Insya Allah, pasti.
Uji Coba & Testimoni:
 Alhamdulillah seorang penderita kanker darah di Makkah sembuh total setelah perjalanan melawan sihir selama hampir 2 tahun, beliau atas izin Allah berhasil membunuh ratu ular dan kerajaan jin yang selama ini menyerangnya.
[3]. TERAPHY AL FATIHAH.
Selain perintah rahasia dari kehendak Allah ta'ala, kesuksesan ruqyah terletak pada kekuatan niat dan keyakinan, sementara keyakinan itu tumbuh dari pengetahuan. Jadi kita harus mengetahui kekuatan kita dan kelemahan musuh, kekuatan jin&syaitan itu didukung pasokan kekuatan jahat dari Iblis, kekuatan iblis hanya akan aktif setelah mendapat izin dari Allah sedangkan kekuatan Doata atau Energy Ruqyah ini adalah cash atau langsung dari Allah Azza wa Jalla.
Saya, beberapa waktu terakhir ini terus terang merasa keteteran dengan banyaknya sahabat yang ingin merasakan sensasi kesembuhan melalui ruqyah. Namun, seperti kita ketahui "Rehab Hati" itu bukan klinik kesehatan melainkan berupa kotsan pribadi tempat saya merancang masa depan dan melakukan konseling untuk sahabat yang memang butuh penanganan ruqyah secara serius. Namun demikian, tingkat kepuasan pasien "Rehab Hati" memang mulai membuat kantor sederhana saya di bandung dikunjungi banyak sahabat dari Bandung, Sumedang, Cirebon, Banten, Bogor dan luar kota lain hingga saya yang masih sendirian menangani semuanya rada kerepotan mengatur jadwal. Dari itulah, semoga postingan ini menambah kekayaan umat Islam dalam melemahkan berbagai serangan sihir hingga tidak usah "minta ruqyah" lagi sebelum berikhtiar sendiri dengan maksimum.
Baik, insya Allah metode berikut ini akan menjadi solusi kesembuhan untuk berbagai bentuk sihir yang ada dalam tubuh. Semoga melemahkan atau bahkan membunuh jin-jin laknat yang ada didalam tubuh. Baik jin kiriman, atau jin-jin dzalim dari kosnpirasi dan permusuhan iblis kepada manusia.
Mengintip Rahasia Al Fatihah
Tidak diragukan lagi, al Fatihah itu adalah induknya Al Quran (Umul Quran) dan Rasulullah Sholallahu Alaiyhi wa Sallam, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Sa'id, mengesahkan Al Fatihah ini sebagai Ayat Ruqyah yaitu ketika seorang sahabat menjampi seseorang yang terkena sengatan, maka Rasulullah bertanya: "Dari mana engkau tahu bahwa Al Fatihah itu adalah Ruqiyyah?"
Dan Alhamdulillah, demi Allah saya pernah meruqyah kaki saya yang disengat tawon dengan Al Fatihah (dibacakan ketangan, lalu diusapkan) dan sembuh 2 Jam kemudian.
Kenapa demikian?
Ada sebuah Hadits Qudsy yang ditakhrij An Nasai, hadits ini diriwayatkan Imam Al Bukhari, beliau berkata "Bacalah Al Fatihah itu dihatimu karena aku pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda;
Allah berfirman; "Aku telah membagi shalat menjadi dua bagian antara diri-Ku dengan hamba-Ku. Dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta. 'Jika ia mengucapkan 'Alhamdulillahirabbil'alaamiin', maka Allah berfirman 'Hamba-Ku telah memuji-Ku. Dan apabila ia mengucapkan "Arrahmanirrahiim" Allah berfirman; 'Hambaku telah menyanjung-Ku". Dan jika ia mengucapkan "Maliki yaumiddin', maka Allah berfirman: 'Hambaku telah memuliakan-Ku'. Jia ia mengucapkan; 'iyyakana'budu wa iyya kanasta'in", maka Allah berfirman; 'Inilah bagian antara diri-Ku dan hamba-Ku, dan untuk hamba-Ku apa yang ia minta". Dan jika ia mengucapkan; 'ihdinassirotolmustaqiim.. sirathaladina an'amta alaiyhim ghoiril magdubi alaiyhim waladdhaliin', maka Allah berfirman; 'Ini untuk hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta"
Subhanallah...
Dalam hadits sahih lain juga dipaparkan bahwa Allah menjawabi setiap do'a dalam Al Fatihah itu per-ayat dengan cash berupa energi kesembuhan yang meluluhlantakan berbagai pengaruh sihir dan hal hal negatif yang terjadi dalam tubuh! Dan cahaya penyembuh ini bisa langsung diakses setiap muslim.
>>> Teknis Ruqyah:
Bisa dikatakan ini adalah Teknis Ruqyah Mandiri Paling sederhana dengan Al Fatihah dan Segelas Air Putih:
1. Sebaiknya dilakukan setelah shalat fardhu, atau selesai shalat sunnah 2 rakaat dengan niat memohon perlindungan dan kesembuhan kepada Allah. Atau minimal dalam kondisi badan bersih dan memiliki wudhu, ini adalah pengkondisian agar hati rileks dan pasrah kepada Allah.
2. Ambil segelas air putih, duduk menghadap kiblat dan tundukan wajah. Pegang gelas itu dengan tangan kanan, dan mulai bacakan Al Fatihah (dengan tajwidz dan tahsin yang benar, upayakan kita memahai terjemahan ayat-Ayat Al Fatihah per-ayat-nya).
3. Setelah selesai tiupkan dan do'akan dengan yakin. Bacakan selama 7 kali, dan masing-masing tiupkan ke air lalu do'akan. Do'akan dengan do'a yang berbeda di 7 kali tiupan tersebut. Do'anya bebas, tapi gunakan artikulasi yang dahsyat dan khusyuk. Misalnya;
Tiupan Al Fatihah ke 1
Ya Allah ya Rahman ya Rahiim...
Ya Allah ya Hakim, ya Aliim, ya Hakiim, ya Aliiy, ya Adzim, ya Malik, ya Khaliq ya Jabbar ya Muktadir.. wahai Engkau yang mengatur setiap pergerakan benda-benda disemesta raya ini, jadikanlah setiap partikel terkecil dalam air ini balatentara yang akan menyerang dan menghancurkan program sihir dan buhul-buhul dan setiap musuh-musuhMu yang tengah mendzalimi tubuhku ini ya Rabb.
Tiupan Al Fatihah ke 2
Ya Allah..
Jadikanlah sebagian partikel terkecil dari air ini, duri-duri besi tajam yang akan melukai dan melemahkan atau membunuh mahluk-mahluk ingkar yang ada dalam tubuhku ini ya Rabb.
Tiupan Al Fatihah ke 3
Ya Allah...
Jadikanlah sebagian partikel terkecil dari air ini, timah panas mendidih yang akan membakar dan meluluhlantakan setiap rumah dan persembunyian jin-jin didalam tubuh ini ya Rabb.
Tiupan Al Fatihah ke 4
Ya Allah...
Jadikanlah sebagian partikel terkecil dari air ini, sengatan api listrik yang merambat dari lambung hingga ke ujung jari tangan dan jari jari kaki. Dari pusat jantung hingga ke otak dan pori-pori disetiap rambut-rambut yang tumbuh diseluruh tubuhku ini ya Rabb.
Tiupan Al Fatihah ke 5
Ya Allah...
Jadikanlah sebagian partikel terkecil dari air ini, sebagai penyembuh yang akan mengembalikan setiap sel-sel yang telah dirusak oleh balatentara Iblis dalam tubuhku ini ya Rabb.
Tiupan Al Fatihah ke 6
Ya Allah ya Mukmin Ya Muhaimiin..
Wahal engkau yang maha menjaga dan mengamankan hamba-Nya, jadikanlah setiap partikel air ini pelindung yang membentengi hati dan tubuhku dari gangguan jin-jin ini dengan cara yang Engkau kehendaki ya Rabbi.
Tiupan Al Fatihah ke 7
Wahai Air yang mendengar..
Wahai setiap sel tubuh yang mendengar..
Wahai setiap syaraf-syaraf, pembuluh-pembuluh darah, urat-urat, tulang-tulang, cairan tubuh, hormon-hormon dan semua yang tidak kuketahui yang mendengarkan lantunan Al Fatihah tadi. Dengarkanlah, takutlah kalian kepada Allah..
وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ
...Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. (Al Imran 19)
Takutlah kalian kepada Allah saja dan jangan ikuti perintah sihir dari jin-jin itu, takutlah kepada Allah dan perbaiki setiap kerusakan itu hingga sembuh seperti sedia kala. Takutlah kepada Allah dan himpitlah seluruh jin dzalim seandainya mereka ada dalam tubuh ini dan tidak mau keluar setelah mendengar semua peringatan ini. Yaa Rabb...
Hasbunallah wani'mal wakiil ni'mal maula wa ni'man nasiir.
La Haula wa laa quwwata illa bilahil aliyhil Adziim.
Fiufh (tiupkan)......
Aamiin..
4. Baca basmalah dan Minumkan.
Dan lihat rekasinya, saya terinspirasi menciptakan barisan do'a ini saat menghadapi informasi dari jin yang ada di tubuh pasien bahwasannya di tubuh pasien ada 500 Jin yang kesemuanya bertugas melumpuhkan manusia tersebut selama puluhan tahun. Dan Alhamdulillah, sebenarnya telah di uji-cobakan ke lebih 6 pasien terakhir yang berkunjung ke kantor Rehab Hati Bandung.
Uji Coba, Testimoni & Tingkat Kesembuhan dan Kelumpuhan Jin:
Uji Coba 1.
(Melalui telpn, pasien di Serang Banten) untuk pasien pengamal HIJIB (semacam wirid): Alhamdulillah si jin langsung meringis dan menangis, beberapa detik setelah diminumkan. Jin mengakui bahwa kakinya lumpuh.
Uji Coba 2
Langsung di kantor Rehab Hati Bandung ke 2 pasien:
- Pasien 1 (Jakarta), setelah sakit selama lebih dari 15 tahun ia merasakan sensasi segar dan ringan di tubuh, sakit hanya tersisa di sikut dan Insya Allah masih akan berlanjut.
- Pasien ke 2 (Bandung);
Alhamdulillah, setelah dibacakan lebih dari 30 menit ayat ruqyah dan ia tersenyum-senyum sinis atau mungkin pura-pura, akhirnya si jin laknat itu di sembelih dan kabur. Wallahu'alam. Pasien merasa matanya lebih terang.
Ujicoba 4:
(Lewat telpn) Alhamdulillah, pasien yang tiba-tiba sakit diseluruh tubuh dan berpusat di bekas operasi pencangkokan donor ginjal, sembuh setelah 15 menit.
Uji Coba 5:
(Lewat telpn), pasien muntah serbuk gergaji dan serbuk karat besi.
Uji Coba 6:
(Lewat telpn) pasien yang bengkok tulangpunggung belakang dan menimbulkan kelumpuhan di kaki, alhamdulillah muntah dan kaki yang sudah lumpuh selama 6 bulan menjadi ringan.
*Catatan:
- Upayakan, saat prosesi ini ada yang mendampingi. Dan jangan main-main, karena jin yang ada dalam tubuh akan berupaya menghentikan bacaan atau proses ini. Mintalah perlindungan kepada Allah.
- Bacakan Al Hasyr Ayat 21-24 Sebelum Al Fatihah 1, dan Bacakan Al Anfall 17 setelah tiupan Al Fatihah ke 7 untuk menambah kedahsyatan do'a.
Jika terjadi kesembuhan total, atau muntah-muntah saat itu juga atau dikemudian hari maka itu adalah pertolongan Allah. Semoga Allah meridhai ikhtiar kita.
[4] IHP AL FATIHAH
Ini adalah salah satu tehnik yang saya kembangkan sendiri, Alhamdulillah banyak testimonial yang berhasil. Semoga Allah meridhai, caranya sangat mudah dan hanya butuh waktu beberapa menit untuk melakukannya.
>>> Teknis Ruqyah:
1. Yakinkan sepenuh hati, bahwa energi penyembuhan ini datang dari Allah. Salah satu caranya adalah memahami kajian dan bukti serta pengalaman saya diatas dan atau yang semisalnya.
2. Baca Istighfar untuk memohon ampunan atau menetralisir hati kita dari belenggu dosa. Baca Syahadat untuk mengokohkan ketauhidan, baca shalawat kepada Rasulullah sebagai tawasul/perantara sampainya do'a ke langit, baca Ta'awudz untuk menetralisir syaitan dihati kita dan perlindungan, baca "Lahawla walaa quwwata illabillahil aliyhil adziim" untuk meneguhkan dan menyerahkan setiap keputusan ikhtiar kita spenuhnya kepada Allah, baca Hasbunallah wani'mal wakiil ni'mal maula wa ni'man nasiir" untuk mengokohkan keyakinan bahwa Allah itu cukup untuk kita lal...
3. Dekatkan tangan kita dengan bibir, kira kira 5 sentimeter. Lalu baca Al Fatihah dimulai dari Basmallah hingga Akhir dengan menerjemahkannya dalam hati kita. Lalu tiupkan ke telapak tangan dan dekatkan di titik atau tempat yang sakit.
4. Lalu putarkan searah putaran tawaf atau putarkan dengan putaran "unclockwise" atau berlawanan dengan arah putaran jarum jam selama 3 atau 7 kali. Yakinkan hati kita untuk menarik semua pengaruh sihir itu lalu hempaskan ke arah kanan.
5. Tarik nafas dan rasakan, insya Allah saat itu sakit berkurang. Dan lakukan selama 3 kali cara yang sama, dan Insya Allah penyakit itu SIRNA.
Uji Coba & Testimoni:
Alhamdulillah sudah puluhan membuktikan tehnik sederhana ini, bahkan seorang sahabat di taiwan hanya butuh waktu 2 menit untuk sembuh dari migrain akut yang ia derita selama 4 hari sebelumnya. Dan dokter serta obat medis tidak mampu merubah kondisi kesakitan.
[5]. RUQYAH MP3 AUDIO
Ikhtiar yang ke 5 ini kita akan menggunakan media Audio Digital atau MP3. Ini bisa dari suara laptop, CD, VCD, DVD, Tape, HP, iPod, MP3 Player dsb. Kesemuanya insya Allah hanya sebagai media atau pengganti suara peruqyah yang membacakan Al Qur'an, jika kita khusyuk mendengarnya insya Allah hasilnya sama dahsyat. Sebelum melakukan ruqiah sendiri atau ruqiyyah dengan MP3 ini, lakukan persiapan untuk melindungi diri dari gangguan sihir.
>>> Teknis Ruqyah:
1. Bersihkan badan [sebaiknya mandi] dan Wudhu dengan sempurna.
2. Shalat 2 rakaat meminta pertolongan & perlindungan kepada Allah [jika pakai usholi, sama seperti shalat hajat]
3. Baca Istighfar & Solawat, Syahadat.
Lalu baca "A'udzubikalimatillahit tammati minssyarrima kholaq, La Hawla wa laa quwwata illabillahil aliyhil Adziim, Hasbunallah wa nikmal wakiil nikmal maula wa nikman nasiir, Hasbiyallah! Laa ilaaha illallahu alaihi rabbul arsyil adziim" untuk memohon kekuatan kepada Allah.
4. Baca Ayat Qursy (Al Baqarah 255) dan tiupkan ke media yang akan digunakan. Karena banyak terjadi JIN berupaya keras menghalangi ruqiyyah ini terjadi yang kemudian menyebabkan batrai HP yang drop, HP mati berkali-kali, koneksi internet terputus saat upload atau download file tentang ruqyah, bluetooth laptop error saat transfer file, laptop mati total, hal terburuk adalah membuat hilang kesadaran kita, dibuat ngantuk, malas ruqyah, tidur dsb.
5. Meminta perlindungan kepada Allah, dengan kata-kata afirmasi kita agar yakin, misalnya;
"Ya Allah ya Mukmin ya Muhaiimiin, wahai Allah yang maha menjaga dan mengamankan hambanya. Lindungan hamba-Mu dengan perlindungan dan penjagaanmu yang sempurna!, Lindungilah ruangan ini dari serangan sihir dari kalangan Jin dan Tukang sihir"
Atau dengan menyebut asma-Nya dalam meminta kekuatan, semisal:
"Ya Allah ya hakiimu Ya ‘aliimu Ya ‘Aliyyu Ya ‘Azhiimu!” Ya Allah Yang Maha Menguasai, Yang Menggenggam Segala Ilmu, yang maha tinggi, Yang Maha Dahsyat!. Ya Allah turunkan pertolongan-Mu untuk menghancurkan semua kekuatan sihir dan kedzaliman iblis yang membelenggu hati, jiwa dan tubuhku".
6. Download File Mp3 Ruqyah-nya: www.mediafire.com/?gqw09lverya1411
7. Mulai Ruqyah.
Lalu bacakan surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Naas dan Ayat Kursi masing-masing 3 x dan tiupkan ke telapak tangan setiap selesai, lalu usapkan keseluruh tubuh. Berkonsentrasi, khusyuk, lembutkan hati dan kuasai, dan mulailah..
Selanjutnya Putar MP3 Ruqiyyah yang telah di Download tadi.
Uji Coba & Testimoni:
 Ini adalah salah satu kemudahan Allah dalam menolong hamba-Nya yang gigih ikhtiar dan bertawakal. Sangat banyak testimoni, ada yang sembuh sekali mendengarkan (secara khusyuk) melalui headset. Banyak yang mendengar jeritan keras dirumah, tangisan dirumah, saat diputar ayat ruqyah ini dirumah.
[6] RUQYAH UNTUK PENCEGAHAN
Dalam upaya pencegahan ini yang harus diperhatikan adalah kita tidak mungkin meminta perlindungan kepada Allah sementara kita membangkang kepada Allah (melakukan dosa). Rasulullah saw bersabda; "Ketika kalian keluar rumah bacakan 'Bismillahi tawakaltu Ilallah, la hawla walaa quwwata illa billah" maka Allah akan menurunkan malaikat untuk melindungimu dan syaitan akan menjauhimu". Jadi, syaikh Abdul Rouf berkata jika kita keluar rumah baca doa perlindungan kepada Allah lalu dijalan memandangi wanita/laki-laki malaikat akan meninggalkan kita dan syaitan akan kembali kepada kita. Sama halnya ketika wanita mulai memperlihatkan auratnya, disana syaitan akan bersama mereka.
Jadi tolong diperhatikan dan dicatat; bahwasannya yang paling penting adalah meninggalkan DOSA terlebih dahulu dan melaksanakan kewajiban kita sebelum menuntut hak perlindungan kepada Allah. Saya pernah mendengar testimoni ada sensasi kesembuhan yang terjadi setelah "taubatannasuha" dan melaksanakan seluruh kewajibannya sebagai muslimin-muslimah.
Yang berikutnya adalah meninggalkan (bertaubat dari) semua perbuatan syirik, musyrik, bid'ah, khurafat (jimat-jimat, meminta karomah kepada kuburan dsb) dan jangan lupa menurunkan semua patung, photo & lukisan dalam rumah.
>> Setelah hal hal diatas, perhatikan hal teknis berikut;
- Baca Al Ikhlas, Al Falaq dan An Nas masing masing 3x setelah sehabis Subuh, Setelah Magrib dan sebelum tidur.
 - Baca Ayat Qursi dan kalimah "A'udzubikallimatillahi ttammati minsyarrima kholak" dan Kalimah "Bismillahi laa yadhurru ma asmihi syai un fil ardi wala fissamai wa huassami'ul 'Aliim" masing-masing 3x setelah subuh dan maghrib.
 - Baca "basmalah" dalam 5 kondisi; Masuk rumah, sebelum makan, sebelum membuka pakaian, sebelum masuk toilet dan berhubungan suami istri. (Atau, disarankan lebih afdhol baca do'a yang dituntunkan Rasul Saw)
 - Membaca Asma Allah dalam 3 kondisi; saat Marah, Sedih dan Takut. Karena dalam 3 kondisi tersebut manusia lemah dan ada celah syaitan untuk menguasai manusia. Jadi ketika marah baca "Ta'awudz", ketika sedih baca "Innalillahi wa inna ilaihi raaji'uun" ketika takut baca "Allahumma 'audzubika min sururihim wa naj'aluka fi nukurihim"
Uji Coba & Testimoni:
Saya telah mengujicobakannya ke seorang siswi dengan memperhatikan point-point diatas, dan Alhamdulillah siswi kelas 2 SMA yang sebelumnya mengeluh karena suka diterawang pacarnya sembuh (tidak bisa tembus oleh terawangan mata jin). Pada intinya, jika hal ini diaplikasikan insya Allah akan menjadi pagar ghaib untuk diri kita, tentunya ini adalah bentuk pertolongan dari Allah Azza wa jalla. Wallahu'alam.
Selengkapnya, untuk pengokohan tauhid dari pasien yang awam hingga menjadi praktisi ruqyah ini akan dibahas tuntas secara tuntas, nikmat, lembut dan ilmiah dalam satu paket buku "Rehab Hati Qurani" NAI, dan "Quranic Healing Technology" ust Perdana Akhmad di pertengahan 2013 nanti. Insya Allah.
Salam Tauhid
NURUDDIN AL INDUNISSY
 
sumber : www.nai-foundation.com | www.quranic-healing.blogsot.com

Thursday, April 11, 2013

Hadits Larangan Membaca Al Qur'an Bagi Wanita Haid dan Junub, Shoheh kah?

HADIS LARANGAN MEMBACA AL-QUR’AN BAGI WANITA HAID DAN JUNUB RIWAYAT AT-TIRMIDZÎ

A.   Latar belakang masalah
Segala puji hanya milik Allah swt. Kita selalu memuji-Nya, memohon pertolongan, ampunan, dan petunjuk-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan dari keburukan amal perbuatan kita.
Barang siapa yang diberi hidayah oleh Allah, maka dialah orang yang mendapat petunjuk. Dan barang siapa yang disesatkan oleh-Nya, maka tidak ada yang akan menjadi penolong dan penuntunnya.
Kita bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak diibadahi kecuali Allah dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan kita bersaksi pula bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.[1] 
Umat islam mempunyai dua sumber ajaran agama, yakni al-Qur’an dan hadis. Al-Quran adalah firman Allah swt, yang merupakan dasar syariat dan mengandung mukjizat, yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad SAW untuk kepentingan dirinya dan seluruh umat manusia. Sedangkan hadis adalah ucapan, perbuatan, atau penetapan Rasulullah. Semua yang didapat dari Rasulullah SAW selain al-Quran ataupun praktiknya, disebut juga hadits atau sunnah.
Semangat untuk membaca al-Qur’an telah diperintahkan oleh Allah SWT kepada kita semua, terkhusus umat islam, baik laki-laki mapun perempuan, “Bacalah dengan (menyebut) nama tuhanmu yang Menciptakan. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. (QS. al-Alaq: 1-5).[2] Kata “Iqra’” disini memang sering kali tidak hanya diartikan dengan membaca secara tekstual terhadap teks-teks bacaan, kata Iqra’ memang bisa dimaknai secara meluas dengan arti mendalami, menelaah, meneliti, memahami, dan mengetahui tentang keadaan sesuatu, akan tetapi arti “membaca” lah yang pertama kali dipakai untuk memaknai arti Iqra’ sesuai dengan arti harfiahnya.
Oleh karenanya kita sebagai orang islam hendaknya mempunyai semangat dan motivasi untuk senantiasa membaca al-Qur’an, meskipun sedikit akan tetapi terus-menerus itu lebih disukai daripada banyak akan tetapi sekali. Dan disebagian ayat al-Qur’an dan hadis sendiri telah memerintahkan dan mendorong kita untuk senantiasa membaca al-Qur’an, baik itu laki-laki maupun perempuan. Dan memang semangat membaca al-Qur’an pun telah terpancar diwajah kaum muslimin, terbukti dengan adanya perlombaan-perlombaan Qira’atu al-Qur’an, perlombaan mengahafal al-Qur’an, atau sekedar acara mengaji di surau-surau atau musholla. 
Namun demikian, satu hadis yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzî mengatakan bahwa orang (wanita) yang sedang haid dan orang junub tidak boleh membaca al-Qur’an.
عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لاَ تَقْرَإِ الْحَائِضُ وَلاَ الْجُنُبُ شَيْئًا مِنَ الْقُرْآنِ » (رَوَاهُ الًتِّرْمِذِي(
Artinya: dari Ibnu Umar dari nabi Muhammad saw bersabda : “Tidak boleh seorang yang haid dan junub membaca sedikitpun dari al-Qur’an”.  (HR. At-Tirmidzî)
Dengan adanya hadis di atas seolah membatasi gerak dan ruang lingkup dalam membaca al-Qur’an, artinya hanya orang (wanita) yang tidak haid dan orang yang tidak junub yang boleh membaca al-Qur’an, sedangkan orang yang haid dan sedang junub tidak boleh membaca al-Qur’an.
Secara logika dan kebiasaan, orang yang sedang dalam keadaan junub (yakni keadaan kotor karena keluarnya nutfah atau bersetubuh yang mewajibkan seseorang mandi dengan membasahi tubuh dari ujung rambut sampai ke ujung kaki) tentu ia akan segera bersuci setelahnya, jarang kita temukan orang yang junub menunda-nunda sampai sehari, dua hari, bahkan sampai tiga hari dan seterusnya, oleh karenanya tentu boleh membaca al-Qur’an setelahnya.  Namun berbeda sekali dengan wanita yang sedang haid, ia memiliki siklus yang cukup lama dibandingkan dengan sekedar orang junub, ada yang satu minggu, ada yang dua minggu, bahkan lebih. Artinya ia baru bisa bersuci manakala telah usai masa haidnya. seperti permasalahan yang sering terjadi ketika perempuan dalam proses menghafal al-Qur’an jika mereka haid berarti mereka tidak dapat mengulang hafalannya, padahal kebiasaan wanita haid adalah tujuh hari dan tidak sedikit pula wanita yang haid sampai sembilan hari, duabelas hari bahkan ada juga yang sampai setengah bulan. Maka jika pada masa-masa haid seorang wanita sama sekali tidak mengulang hafalanya ditakutkan lupa dan bisa lupa dengan hafalan yang telah mereka hafal padahal semangat untuk tetap menghafal dan mengingat juga layak dimiliki seorang wanita yang dalam keadaan haid.
Misalkan juga ketika murid perempuan ujian materi al-Qur’an dan dia dalam keadaan haid, kemudian masa haidnya lama sehingga tidak mungkin mengikuti ujian tersebut kecuali jika haidnya berhenti maka hal ini akan sangat merugikan bagi murid perempuan. Permasalahan lain ketika murid-murid perempuan ( terutama para ibu guru mereka ) telah menginjak usia baligh. Maka, jika mereka enggan membaca al-Qur’an pada masa-masa haid, berarti seperempat tahun dalam setiap tahunnya mereka terjauh dari al-Qur’an. Itu pun dengan catatan seorang murid perempuan tidak pernah absen dari pelajaran dan sang guru tidak pernah absen dari tugas mengajar. Akibatnya, pelajaran al-Qur’an di sekolah jadi terabaikan.
Penulis sengaja mengambil hadis tentang “membaca” al-Qur’an ini, karena menurut penulis “ membaca” itu lebih luas maknanya daripada sekedar menyentuh, membaca memuat arti menghafal, mengkaji, menyimak, apalagi mengingat zaman yang modrn ini, teks-teks al-Qur’an tidak hanya terdapat di mushaf saja, tetapi juga terdapat diberbagai media elektronik, di hp, di laptop dan lain sebagainya.   
Inilah yang mendasari penulis untuk membuat makalah singkat ini, yakni melacak validitas keshahihan hadis at-Tirmidzî, karena mengingat bahwa dilihat dari periwayatannya, hadits berbeda dengan al-Qur’an. Semua periwayatan ayat-ayat dalam al-Qur’an berlangsung  secara mutawâtir, sedangkan hadis Nabi SAW sebagian lainnya diriwayatkan secara ahad. Oleh sebab itu, al-Qur’an karena periwayatannya yang mutawâtir menjadi qat’i al-wurûd dan tidak membutuhkan penelitian tentang otentitasnya, sementara hadis Nabi karena periwayatannya sebagian secara ahad yang bersifat ẓanni al-wurûd, maka diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui keasliannya apakah benar berasal dari Nabi atau bukan.

B.   Rumusan Masalah
Dari deskripsi latar belakang yang telah penulis paparkan diatas, maka dapat dirumuskan pokok permasalahan yang dijadikan landasan dalam pembahasan risalah ini. Adapun pokok-pokok masalah tersebut adalah
1.      Bagaimanakah kualitas hadis tentang larangan untuk membaca al-Qur’an bagi wanita haid dan orang junub dalam riwayat at-Tirmidzî?
2.      Bagaimanakah kehujjahan hadis larangan membaca al-Qur’an bagi wanita haid dan orang junub?

C.   Langkah-langkah penelitian hadis
1.    Takhrîj Hadis
Menurut bahasa takhrîj dari asal kata خَرَّجَ – يُخَرِّج – تَخْرِيْجًا ,[3]yang artinya “mengeluarkan”. Kata takhrîj sering dimutlakkan pada beberapa macam pengertian, dan pengertian yang popular dan mudah dipahami untuk kata takhrîj adalah al-istimbat yang artinya “hal yang mengeluarkan”. Sedangkan menurut istilah yang biasa dipakai oleh ulama’ hadis, kata takhrij mempunyai beberapa arti, yakni:
a.    Mengemukakan hadis kepada orang banyak dengan menyebutkan para periwayatnya dalam sanad yang telah menyampaikan hadis itu dengan metode periwayatan yang mereka tempuh.
b.    Menunjukkan asal-usul yang hadis dan mengemukakan sumber pengambilannya dari berbagai kitab hadis yang disusun oleh para mukharrij-nya langsung (yakni para periwayat yang juga sebagai penghimpun bagi hadis yang mereka riwayatkan).
c.    Mengemukakan hadis berdasarkan sumbernya atau berbagai sumbernya, yakni kitab-kitab hadis yang didalamnya disertakan metode periwayatannya dan sanadnya masing-masing.
d.    Menunjukkan atau mengemukakan letak asal hadis pada sumbernya yang asli, yakni berbagai kitab yang didalamnya dikemukakan hadis itu secara lengkap dengan sanadnya masing-masing, kemudian untuk kepentingan penelitian, dijelaskan kualitas hadis yang bersangkutan.

Adapun perlunya kegiatan takhrij dalam penelitian suatu hadis diantaranya adalah:
a.    Untuk mengetahui asal-usul riwayat hadis yang akan diteliti. Tanpa diketahui asal-usulnya, maka sanad dan matan hadis sulit diketahui susunannya menurut sumber pengambilannya, oleh karena itu takhrîj sangat diperlukan.
b.    Untuk mengetahui seluruh riwayat bagi hadis yang akan diteliti. Hadis yang akan diteliti mungkin mempunyai lebih dari satu sanad. Maka setelah dikumpulkan diketahuilah seluruh periwayat hadis, mungkin saja salah satu riwayat itu berkwalitas daif atau sahih maka kegiatan takhrîj sangat diperlukan.
c.    Untuk mengetahui ada tidaknya syahid [4] dan muttabi’ [5] pada sanad yang diteliti. Dalam hal ini untuk mengetahui apakah ada pendukungnya atau tidak.[6]

2.    Teks Hadis
Setelah penulis melacak dan mencari teks-teks hadis tentang larangan membaca al-Qur’an bagi wanita haid dan orang junub dalam sunan at-Tirmidzî, ternyata penulis hanya menemukan satu hadis saja yang berkaitan dengan masalah ini. Yakni terdapat dalam Sunan At-Tirmidzî, kitab Abwâbu al-Thahârati bab Mâ Jâ’a fī al-Junubi wa al-Haidi Annahuma La Yaqra’ al-Qur’ân, no 131.

 حَدَّثَنَا عَلِىُّ بْنُ حُجْرٍ وَالْحَسَنُ بْنُ عَرَفَةَ قَالاَ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ عَنْ مُوسَى بْنِ عُقْبَةَ عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لاَ تَقْرَإِ الْحَائِضُ وَلاَ الْجُنُبُ شَيْئًا مِنَ الْقُرْآنِ » (رَوَاهُ الًتِّرْمِذِي فِي سُنَنِهِ)
Artinya : “Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Hujr dan Hasan bin ‘Arafah, keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Ismâ’il bin ‘Ayyâsy dari Mûsa bin Uqbah dari Nâfi’ dari Ibnu Umar dari nabi Muhammad saw bersabda : “Tidak boleh seorang yang haid dan junub membaca sedikitpun dari al-Qur’an”.  (HR. At-Tirmidzî dalam kitab sunannya)[7]
Selain terdapat dalam sunan at-Tirmidzî, hadis mengenai larangan membaca al-Qur’an bagi wanita haid dan orang junub ini juga terdapat dibeberapa kitab sunan dan musnad, diantaranya yaitu:

1.      Sunan Baihaqî
أَخْبَرَنَا أَبُو عَلِىٍّ الرُّوذْبَارِىُّ وَأَبُو مُحَمَّدٍ : عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَحْيَى بْنِ عَبْدِ الْجَبَّارِ السُّكَّرِىُّ قَالاَ أَخْبَرَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ مُحَمَّدٍ الصَّفَّارُ حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَرَفَةَ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ عَنْ مُوسَى بْنِ عُقْبَةَ عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ :« لاَ تَقْرَأُ الْحَائِضُ وَلاَ الْجُنُبُ شَيْئًا مِنَ الْقُرْآنِ » (رَوَاهُ اْلبَيْهَقِي فِي سُنَنِهِ)
Artinya: “Telah mengkhabarkan kepada kami Abû ‘Ali al-Rûdzabâri dan Abû Muhammad, Abdullah bin Yahya bin Abdi al-Jabbâr al-Sukkrî keduanya berkata, telah mengkhabarkan kepada kami Ismâ’il bin Muhammad al-shafar, telah menceritakan kepada kami al-Hasan bin ‘Arafah telah menceritakan kepada kami Ismâ’il bin ‘Ayyâsy dari Mûsa bin Uqbah dari Nâfi’ dari Ibnu Umar Rasulullah SAW bersabda: “Tidak boleh seorang yang haid dan junub membaca sedikitpun dari al-Qur’an”. (HR. Baihaqî dalam kitab sunannya)[8]

2.      Sunan Ibnu Mâjah

حَدَثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ ، حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ عُقْبَةَ ، عَنْ نَافِعٍ ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ : « لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ الْجُنُبُ ، وَلاَ الْحَائِضُ » (رَوَاهُ اِبْنُ مَاجَة فِي سُنَنِهِ)
Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Hisyâm bin ‘Ammâr, telah menceritakan kepada kami Ismâ’il bin ‘Ayyâsy, telah menceritakan kepada kami Mûsa bin Uqbah dari Nâfi’ dari Ibnu Umar berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Tidak boleh seorang yang junub dan haid membaca al-Qur’an”. (HR. Ibnu Mâjah dalam sunannya)[9]

3.      Sunan At-Dâruqutnî ( ada 2 riwayat)
a.       Riwayat Ibnu Umar
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ ، حَدَّثَنَا دَاوُدُ بْنُ رُشَيْدٍ ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ عَنْ مُوسَى بْنِ عُقْبَةَ عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم :   « لاَ يَقْرَأُ الْجُنُبُ ، وَلاَ الْحَائِضُ شَيْئًا مِنَ الْقُرْآنِ » (رَوَاهُ اْلدَارُقُطْنِي فِي سُنَنِهِ)
Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin Abdul Azîz, telah menceritakan kepada kami Dawud bin Rusyaid, telah menceritakan kepada kami Ismâ’il bin ‘Ayyâsy dari Mûsa bin Uqbah dari Nâfi’ dari Ibnu Umar berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Tidak boleh orang yang junub dan haid membaca al-Qur’an sedikitpun dari al-Qur’an”. (HR. Ad-Dâruqutnî dalam kitab sunannya)[10] 

b.    Riwayat Jâbir:

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَلِىٍّ الأَبَّارُ حَدَّثَنَا أَبُو الشَّعْثَاءِ عَلِىُّ بْنُ الْحَسَنِ الْوَاسِطِىُّ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ أَبُو خَالِدٍ عَنْ يَحْيَى عَنْ أَبِى الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : « لاَ يَقْرَأُ الْحَائِضُ وَلاَ الْجُنُبُ وَلاَ النُّفَسَاءُ الْقُرْآنَ ». (رَوَاهُ اْلدَارُقُطْنِي فِي سُنَنِهِ)
Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Ziyâd, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin ‘Ali al-Abbâr, telah menceritakan kepada kami Abû al-Sya’tsâi ‘Ali bin al-Ḥasan al-Wâsithi, telah menceritakan kepada kami Sulaiman Abû Khâlid dari Yahya dari Abî al-Zubair dari Jâbir berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Tidak boleh seorang yang haid, junub, dan nifas membaca al-Qur’an”. (HR. Ad-Dâruqutnî dalam kitab sunannya)[11] 
4.      Musnad Al-Bazzâr
حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَرَفَةَ ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ ، عَنْ مُوسَى بْنِ عُقْبَةَ ، عَنْ نَافِعٍ ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ ، عَن النَّبِيّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم ، قَالَ : « لاَ يَقْرَأُ الْجُنُبُ وَالْحَائِضُ ، شَيْئًا مِنَ الْقُرْآنِ » (رَوَاهُ الْبَزَّارُ فِي مُسْنَدِهِ)
Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin ‘Arafah, telah menceritakan kepada kami Ismâ’il bin ‘Ayyâsy dari Musa bin Uqbah dari Nâfi’ dari Ibnu Umar dari Nabi SAW bersabda: “Tidak boleh seorang yang junub dan haid membaca sedikitpun dari al-Qur’an”. (HR. Al-Bazzâr dalam musnadnya)[12]

5.      Mu’jam Al-Muqri’

حَدَّثَنِي أَبُو بَكًرٍ مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفرٍ بْنِ يَحْيَى بْنِ رُزَيْنِي الْعِطَارِ الْحَمْصِي بِحَمْصٍ فِي مَا قَرَأْتُهُ عَلَيْهِ ، فَأَقَرَّ لِي بِهِ ، حَدَّثَنَا أَبُوْ إِسْحَاق إِبْرَاهِيْمُ بْنُ الْعَدَاءِ الْزُبَيْدِي زَبْرِيْق ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيْلُ بْنُ عَيَّاشٍ ، ثَنَا مُوْسَى بْنُ عُقْبَةَ وَعُبَيْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ ، عَنْ نَافِعٍ ، عَنْ إِبْنِ عُمَرَ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : « لاَ يَقْرَأُ الْجُنُبُ وَلَا الْحَائِضُ شَيْئًا مِنَ اْلقُرْآنِ » (رَوَاهُ إِبْنُ الْمُقْرِئٍ فِي مُعْجَمِهِ)
Artinya: “Telah menceritakan kepadaku Abû bakar Muhammad bin Ja’far bin Yahya bin Rujaini al-‘Ithâr al-Hamshî mengenai al-Qur’an yang aku baca kepadanya, maka tetapkanlah hukum kepadaku, telah menceritakan kepada kami Abû Ishâq Ibrâhim bin al-‘Adâ’i al-Zubaidî Zabriq, telah menceritakan kepada kami Ismâ’il bin ‘Ayyâsy, telah menceritakan kepada kami Mûsa bin Uqbah dan Ubaidillah bin Umar dari Nâfi’ dari Ibnu Umar berkata, Rasulullah bersabda: “Tidak boleh seorang yang junub dan haid membaca sedikitpun dari al-Qur’an” (HR. Ibnu al-Muqri’ dalam mu’jamnya).[13]

3.    I’tibâr
Setelah dilakukan kegiatan takhrîj sebagai langkah awal penelitian untuk hadis yang diteliti, maka seluruh sanad hadis dicatat dan di himpun untuk kemudian dilakukan kegiatan al-i’tibâr.
Kata al-I’tibâr (الاعتبار) merupakan masdar dari kata "اعتبر" . menurut bahasa al-I’tibār adalah “peninjauan terhadap berbagai hal dengan maksud untuk dapat diketahui sesuatunya yang sejenis”.
Menurut istilah ilmu hadis, al-I’tibâr berarti menyertakan sanad-sanad yang lain untuk hadis tertentu, yang hadis itu pada bagian sanadnya tampak hanya terdapat seorang periwayat saja, dan dengan menyertakan sanad-sanad yang lain tersebut akan dapat diketahui apakah ada periwayat yang lain ataukah tidak ada untuk bagian sanad dari hadis yang dimaksud.
Dengan dilakukannya i’tibâr, maka akan terlihat dengan jelas seluruh jalur sanad hadis yang diteliti, demikian juga nama-nama periwayatnya, serta metode periwayatan yang digunakan oleh masing-masing periwayat yang bersangkutan. Jadi, kegunaan i’tibâr adalah untuk mengetahui keadaan sanad hadis seluruhnya dilihat dari ada atau tidaknya pendukung berupa periwayat yang berstatus sebagai muttabi’ atau syahid. Yang dimaksud muttabi’ (biasa disebut tâbi’ dengan jamak tawâbi’) ialah periwayat yang berstatus pendukung pada periwayat yang bukan sahabat nabi. Sedangkan pengertian syahid (dalam istilah ilmu hadis biasa disebut dengan kata jamak yakni syawāhid) ialah periwayat yang berstatus pendukung yang berkedudukan sebagai sahabat nabi. Melalui i’tibâr akan dapat diketahui apakah sanad hadis yang diteliti memiliki muttabi’ dan syahid.[14]
Dilihat dari skema hadis dengan masing-masing mukharrij yang telah dipaparkan diatas bahwa sahabat nabi yang meriwayatkan hadis mengenai larangan membaca al-Qur’an bagi wanita haid dan orang junub adalah sahabat Ibnu Umar dan Jâbir. Dengan demikian periwayat yang berstatus sebagai syahid bagi hadis at-Tirmidzî adalah Jâbir (hadis riwayat Ad-Dâruqutnî). Sedangkan periwayat yang berstatus sebagai muttabi’ adalah:
1.    Hadis at-Tirmidzî yang bersanadkan ‘Ali bin Hujri dan Hasan bin ‘Arafah, Ismâ’il bin ‘Ayyâsy, Mûsa bin Uqbah, Nâfi’.
2.    Hadis riwayat al-Baihaqî yaitu Abū ‘Ali al-Rūżabāri dan Abū Muhammad, Abdullah bin Yahya bin ‘Abdi al-Jabbâr al-Sukkrî, Ismâ’il bin Muhammad aṣ-Ṣafari.
3.    Hadis riwayat Ad-Dâruqutnî yaitu ‘Abdullah bin Muhammad bin Abdul Azîz, Dâwûd bin Rusyaid. Dan hadis Ad-Dâruqutnî yang bersanadkan Ahmad bin Muhammad bin Ziyâd, Ahmad bin Ali al-Abbâr, Abû asy-Sya’tsa’i ‘Ali bin al-Hasan al-Wâsithi, Sulaiman Abû Khâlid, Yahya, Abî az-Zubair
4.    Hadis riwayat Ibnu Mâjah yaitu Hisyâm bin ‘Ammâr.
5.    Hadis riwayat al-Bazzâr semua perawinya sama dengan perawi hadis at-Tirmidzî, oleh karena itu tidak ada muttabi’ dalam riwayat al-Bazzâr.
6.    Hadis riwayat al-Muqri’ yaitu Abû bakar Muhammad bin Ja’far bin Yahya bin Rujaini al-‘Ithîr al-Hamshî,  Abû Ishâq Ibrâhim bin al-‘Adâ’i al-Zubaidi Zabriq.

3    Biografi Sekilas Para Periwayat
Dalam hal ini penulis hanya akan memfokuskan pada para perawi hadisnya at-Tirmidzî, Karena memang makalah ini fokus untuk membahas hadits beliau, sebagaimana yang terdapat dalam latar belakang masalah.
Susunan para perawi hadis at-Tirmidzî tentang larangan membaca al-Qur’an bagi wanita haid dan orang junub adalah Ibnu Umar, Nâfi’, Mûsâ bin Uqbah,  Ismâ’il bin ‘Ayyâsy, ‘Ali bin Hujr, dan Hasan bin ‘Arafah, At-Tirmidzî.

1.    Ibnu Umar
Nama aslinya adalah Abdullah bin Umar bin al-Khattāb bin Nufail al-Qurasyî al-Adawî. Sering disebut Abdullah bin Umar atau Ibnu Umar (lahir pada tahun 612 M) adalah seorang sahabat Nabi dan merupakan periwayat hadis yang terkenal. Ia adalah anak dari Umar bin Khattâb, salah seorang sahabat utama Nabi Muhammad dan Khulafaur Rasyidin yang kedua, dan ayah dari Abdurrahman al-Makî (nama “Abû Abdurrahman” sekaligus menjadi kuniyahnya).
Pujian dari Sahabat
Kesalehan Ibnu Umar sering mendapatkan pujian dari kalangan sahabat Nabi dan kaum muslimin lainnya. Jâbir bin Abdullah berkata: " Tidak ada di antara kami disenangi oleh dunia dan dunia senang kepadanya, kecuali Umar dan putranya Abdullah." Abû Salamah bin Abdurrahman mengatakan: "Ibnu Umar meninggal dan keutamaannya sama seperti Umar. Umar hidup pada masa banyak orang yang sebanding dengan dia, sementara Ibnu Umar hidup pada masa yang tidak ada seorang pun yang sebanding dengan dia".
Ibnu Umar adalah seorang pedagang sukses dan kaya raya, tetapi juga banyak berderma. Ia hidup sampai 60 tahun setelah wafatnya Rasulullah. Ia kehilangan pengelihatannya pada masa tuanya. Ia wafat dalam usia lebih dari 80 tahun, dan merupakan salah satu sahabat yang paling akhir yang meninggal di kota Makkah.
Dalam ilmu hadis semua ulama’ bahwa semua sahabat adalah adil, baik mereka yang terlibat fitnah atau tidak (كلهم عدول)[15] sehingga kualitas ke- tsiqahanya tidak perlu diragukan lagi.
2.    Nâfi’
Nama aslinya adalah Nâfi’ bin Hurmûz  (Hurmuz dinisbatkan pada nama ayahnya, ada juga yang mengatakan bin Kawus), beliau lebih dikenal dengan nama Nâfi’ Maula Abdullah bin Umar bin al-Khattâb al-Qurasyî al-‘Adawî. Nama julukannya adalah Abû Abdullah al-Madanî. Beliau berasal dari Naisaburi, ada yang mengatakan dari Kabul, namun setelah itu ia menetap dan berdomisili di Madinah.
Komentar ulama’ terhadap Nâfi’:
1.    Muhammad bin Sa’ad menyebutkan: beliau termasuk kalangan sahabat yang berdomisili di Madinah, tsiqah, banyak meriwayatkan hadis.
2.    Basysyar bin Umar al-Zihrânî berkata: “Aku percaya informasi dari umar yang disampaikan oleh Nâfi’.
3.    Uṡman bin Sa’îd al-Dârimî berkata: Tsiqah
4.    Al-Ijliyyu berkata: termasuk kalangan sahabat madinah, ia tsiqah.
5.    Ibnu Khirasy berkata: Tsiqah
6.    An-Nasâ’i berkata: Tsiqah
7.    Yahya bin Ma’în berkata: Tsiqah[16]

3.    Mûsâ bun Uqbah
Nama lengkapnya adalah Mûsâ bin Uqbah bin Abî ‘Ayyâsy al-Qurasyî al-Asadī al-Miṭrafī, nama julukan beliau adalah Abû Muhammad al-Madanî. Beliau adalah pelayan keluarga Zubair bin ‘Awwâm, beliau sehari-harinya berdomisili di Madinah. Beliau wafat pada tahun 141 H
Komentar para Ulama’ terhadap Mûsâ bin ‘Uqbah:
1.    Ibnu Mundir mengatakan: Tsiqah
2.    Muhammad bin Sa’îd berkata di dalam kitab shaghirnya: beliau termasuk kalangan tâbi’in yang tsiqah dan banyak meriwayatkan hadis
3.    Abû Khâtim: beliau orang yang salih
4.    Ahmad bin Hambâl: Tsiqah
5.    An-Nasâ’i: Tsiqah
6.    Ibnu Hâjar al-Asqalânî: Tsiqah lagi faqîh
7.    Yahya bin Ma’in: Tsiqah
8.    Al-Dzahabi: Tsiqah, mufti.[17]

4.    Ismâ’il bin ‘Ayyâsy
Nama lengkap beliau adalah Ismâ’il bin ‘Ayyâsy bin Sulaim al-‘Ansî, Abû Khâtim ‘Utbah al-Khamshî. Beliau sering dijuluki dengan nama Abû ‘Utbah. Al-Mufaddil mengatakan bahwa al-‘Ansî adalah nisbah kepada tuannya, karena Ismâ’il bin ‘Ayyâsy adalah pembantu dari Ansi. Para ulama hadis berbeda pendapat mengenai tanggal kelahiran beliau, ada yang mengatakan pada tahun 102 H, ada yang mengatakan yang mengatakan 105 H, ada yang mengatakan 110 H, ada yang mengatakan 106 H, ada yang mengatakan 108 H. Para ulama’ hadis juga berbeda pendapat mengenai tanggal wafat beliau, ada yang mengatakan pada tahun 181 H, ada pula yang mengatakan 182 H. Keseharin beliau atau semasa hidupnya berdomisili di Negara Syam.
Komentar ulama’ terhadap Ismâ’il bin ‘Ayyâsy:
1.    Bukhāri berkata: jika ia meriwayatkan hadis di kalangan penduduk negerinya sendiri yakni Syam maka hadisnya sahih, tetapi bila ia meriwayatkan hadis selain dari Syam maka hadisnya dipertanyakan ( banyak pendapat disana).
2.    Ad-Dârimî berkata: Ismâ’il bin ‘Ayyâsy dipercaya dikalangan orang-orang Syam, namun dicela/kacau dikalangan orang-orang Madinah.
3.    Ya’qub berkata: komentar satu kaum mengenai Ismâ’il bin Ayyâsy, “kebanyakan orang lebih mengenal beliau meriwayatkan hadis di Syam, tsiqah lagi adil, tidak ada orang yang membantahnya”, dan kebanyakan orang tidak percaya jika ia meriwayatkan hadis di kalangan orang-orang madinah maupuan makkah karena biasanya ia meriwayatkannya sendiri.
4.    Yahya bin Ma’în berkata: Ismâ’il bin ‘Ayyâsy tsiqah riwayatnya di kalangan orang-orang Syam, sedangkan riwayatnya dikalangan orang-orang Hijaj dan Iraq dinilai kacau hafalannya, bahkan orang-orang Iraq tidak suka hadis yang diriwayatkan darinya.  
5.    Ibnu Abî Syaibah berkata: riwayat hadisnya dipercaya jika dari kalangan sahabat di Syam, sedangkan hadisnya dianggap daif selain dari kalangan sahabat di Syam.
6.    Ahmad bin hambâl berkata: Husnu riwayatihi 'an al-Syamiyyin.
7.    ‘Ali bin al-Madani berkata: Tsiqah bila meriwayatkan hadis dikalangan penduduk Syam, dan daif selain di Syam.
8.    Ibnu Hâjar al-Asqalânî berkata: ia jujur bila meriwayatkan dari negrinya sendiri yakni Syam
9.    Amru bin Al Fallas: Tsiqah bila meriwayatkan hadis dikalangan penduduk Syam, dan daif selain di Syam.
10.   Dahim: Tsiqah bila meriwayatkan hadis dikalangan penduduk Syam, dan daif selain di Syam.[18]

5.    Hasan bin ‘Arafah
Nama lengkapnya adalah Al-âasan bin ‘Arafah bin Yâzid al-‘Abdî, nama kunyahnya adalah Abû ‘Ali al-Bagdadi al-Muaddib. Beliau termasuk kalangan Tâbi’ul Atbâ’ kalangan tua. Semasa hidup beliau lebih banyak berdomisili di Bagdad. Dikatakan bahwa beliau wafat pada tahun 257 H.
Komentar ulama’ terhadap beliau:
1.    Ahmad bin Hambâl berkata: beliau tsiqah dalam meriwayatkan hadis
2.    Ibnu Abî Khâtim berkata: beliau orang yang terkenal dengan kejujurannya
3.    An-Nasâ’i berkata: La ba’sa bih
4.    Ibnu Hâjar al-Asqalânî berkata: Shudûq
5.    Yahya bin Ma’în berkata: beliau tsiqah dalam meriwayatkan hadis
6.    Ad-Dâruqutnî berkata: La ba’sa bih.[19]

6.    ‘Ali bin Ḥujr
Nama lengkap beliau adalah ‘Ali bin Hujr bin ‘Iyâs bin Muqâtil bin Mukhadisy bin Musyamrij bin Khâlid al-Sa’dî. Nama kunyah beliau adalah Abû Hasan al-Marwazīî
Mengenai tempat tinggal beliau, mula-mula beliau tinggal di Bagdad, kemudian pindah ke Marwa dan menetap disana. Beliau termasuk orang yang sangat hati-hati dalam menjaga hafalannya lagi tsiqah. Beliau termasuk dari kalangan Tâbi'u al-Tâbi'in biasa. Disebutkan bahwa tanggal kelahirannya adalah pada tahun 154 H, sedangkan wafatnya pada tahun 254 Jumadil Ula.
Komentar ulama’ terhadap ‘Ali bin Hujr:
1.    Al-Mawarzî berkata: beliau awalnya tinggal di Bagdad lalu pindah ke Marwa kemudian menetap di desa Zarzam, beliau termasuk orang yang terpandang, beliau juga seorang hāfid.
2.    An-Nasâ’i berkata: Tsiqah, hâfid, terpercaya.
3.    Abû Bakar al-Khattâb berkata: Shudûq, hâfid
4.     Ibnu Hajar al-Asqalânî berkata: Tsiqah, hâfid
5.    Al-dzahabi berkata: Hâfid
6.    Al-Hâkim berkata: beliau termasuk dari kalangan Syaikh.[20]

7.    At-Tirmidzî
Imam At-Tirmidzî nama lengkapnya adalah Abû Mûsâ Muhammad Ibn ‘Îsâ Ibn Saurah Ibn Mûsâ Ibn Al-Dhahak As-Sulami Al-Bughi Al-TirmidzÎ Al-Imam Al-‘Âlim Al-Bari’. Ahmad Muhammad Syakir menambahnya dengan sebutan Al-Zhahir karena ia mengalami kebutaan di masa tuanya Imam Al-Tirmidzî terkenal dengan sebutan Abû Îsâ. Beliau dilahirkan di tepi selatan sungai Jaihun, Usbekistan, di kota Tirmidz.

Komentar ulama’ terhadap At-Tirmidzî
1.    Ibnu Hibbân menuturkan: “Abu 'Îsâ adalah sosok ulama yang mengumpulkan hadis, membukukan, menghafal dan mengadakan diskusi dalam hal hadis.”
2.    Abû Ya'la al-Khalili menuturkan: “Muhammad bin 'Îsâ at-Tirmidzî adalah seorang yang tsiqah menurut kesepakatan para ulama, terkenal dengan amanah dandan keilmuannya.”[21]

D.   Kesimpulan
Dari hasil penelitian mengenai biografi para perawi diatas, bahwa hadis at-Tirmidzî yang bersanadkan Ibnu Umar, Nâfi’, Mûsâ bin Uqbah, Ismâ’il bin ‘Ayyâsy, Hasan bin ‘Arafah, dan ‘Ali bin Hujr, kemudian at-Tirmidzî adalah bersambung secara sanadnya, karena satu dengan yang lainnya diantara mereka menjadi guru dan murid, dan memungkinkan untuk bertemu.
Namun dilihat dari kualitas dari masing-masing perawi berdasarkan komentar para ulama’ diatas, terdapat perawi yang dinilai daif, yakni Ismâ’il bin Ayyâsy. para ulama’ menilai bahwa riwayat Ismâ’il bin Ayyâsy dinilai daif jika meriwayatkan hadis selain negerinya sendiri yakni di kalangan orang-orang syam. Dan ternyata dalam hadis ini beliau meriwayatkannya dari Mûsâ bin Uqbah yang ternyata berasal dari Madinah.   
Oleh karenanya, berdasarkan hasil kritik terhadap sanad yang telah penulis paparkan diatas, maka hadis at-Tirmidzî tentang larangan membaca al-Qur’an bagi wanita haid dan orang junub  nilainya berstatus daif. Dengan demikian hadis riwayat at-Tirmidzî ini tidak dapat dijadikan hujjah terhadap larangan membaca al-Qur’an bagi wanita haid dan orang junub.
Imam al-Bazzâr dalam kitab ‘Illal al-Râzi mengatakan bahwa yang benar hadis ini adalah mauquf yakni terhenti pada sahabat Ibnu Umar, artinya ini bukanlah sabda Rasullah akan tetapi hanya perkataan Ibnu Umar saja.[22]
Al-Hâfizh Ibnu Hâjar al-Asqalânî mengatakan bahwa didalam kitab Bukhâri tak ada satupun hadis yang menyangkut soal ini, yakni melarang orang junub dan perempuan haid membaca al-Qur’an, dan ini diakui kebenarannya.[23] Dan sejauh penelusuran penulis, memang tidak ditemukan satu hadispun yang melarang perempuan haid maupun orang junub membaca al-Qur’an didalam sahih Bukhâri dan  sahih Muslim.
Sebagai implikasi dari penelitian diatas maka dapat direkomendasikan bahwa hadis riwayat at-Tirmidzî ini tidak dapat dijadikan hujjah terhadap larangan membaca al-Qur’an bagi wanita haid dan orang junub. Oleh karenanya bagi orang junub terlebih bagi para wanita khususnya yang sudah aqil baligh tetaplah boleh membaca alquran meskipun mereka dalam keadaan haid, lebih-lebih bagi para ibu guru dan murid perempuan tetaplah bisa membaca, mempelajari, menghafal, dan mengkaji al- Qur’an disekolah tanpa rasa takut lagi akan larangannya.

DAFTAR PUSTAKA
Abu Sayyid, Salafuddin, Syarah Hadits Arba’in, Solo: Pustaka Arafah, 2007.
Baihaqi, Abu Bakar Ahmad bin Husain bin ‘Ali, al-, as-Sunan al-Kubra, Beirut: Dar al-Fikr, (tt.)
Daruqutni, Abu Hasan bin ‘Umar bin Ahmad bin Mas’ud bin Nu’man bin Dinar bin Abdullah, al-, Sunan al-Daruqutni, Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1966.
Departemen Agama RI, al-Quran dan Terjemah, Jakarta: Sygma Examedia Arkanleema, 2009.
Ibnu Majah, Abu Abdullah Muhammad bin Yazid, Sunan Ibnu Majah, Mesir: Maktabah al-Rusy, 2005
Isma’il, M. Syuhudi, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, Jakarta: Bulan Bintang, 1992.
Miziy, al-Hafidz al-Mutqin Jamaluddin Abi al-Hajjaj Yusuf, al-, Tahzib al-Kamal fi Asma’I al-Rijal, Beirut: Muassasah al-Risalah, 1994
Munawwir, Ahmad Warson, al-Munawwir Kamus Arab Indonesia, Yogyakarta: PP Al-Munawwir, 1977.
Tirmidzi, Abu Musa Muhammad bin Isa bin Saurah bin Musa bin Dhahak al-Sulami al-Bughi, al-, Sunan al-Tirmidzi, Mesir: Maktabah al-Rusy, 2005.   

Sumber : dari sini

wallohu a'lam bish showab