Wednesday, June 12, 2013

Kalimat Thayyibah




Kalimat thayyibah mengandung arti kalimat-kalimat yang baik yang berisi tentang ungkapan zikir kepada Allah.

“Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit, (pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizing Tuhannya. Dan Allah membuat perrumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat.”
(QS Ibrahim 24-25)

Yang dimaksud dengan “kalimat thoyyibah” dalam ayat tersebut adalah kalimat tauhid, yaitu segala  ucapan yang menyeru kepada kebajikan dan mencegah kemungkaran, serta perbuatan baik.

Di antara kalimat thayyibah tersebut adalah:

Takbir (Allohu Akbar : Allah Maha Besar)
Diucapkan bila bertemu dengan sesuatu yang menakjubkan. Ucapan Allahu akbar saat melihat yang mengagumkan menandakan kita kagum pada Pencipta Hal Yang Menakjubkan Itu.
“Dari Jabir bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Apabila kami berjalan mendaki (naik), kami bertakbir dan apabila menuruni jalan, kami bertasbih” (HR. Bukhari).  Jadi, takbir juga diucapkan saaat mendaki.

Tahmid (Alhamdulillahi robbil ‘alamiin : Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam)
Diucapkan bila mendapati sesuatu yang menyenangkan. Rosulullah saw, bersabda: “Apabila kamu ucapkan, ‘Alhamdu lillahi robbil alamin’, berarti engkau telah bersyukur kepada Allah, dan Dia niscaya akan menambahkan nikmat-Nya kepadamu.”
Tahmid dibaca juga ketika bersin. Seperti yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
“Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan benci terhadap menguap. Maka apabila ia bersin, hendaklah ia memuji Allah (dengan mengucapkan ‘Alhamdullillah’). Dan merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang mendengarnya untuk mendoakannya. Adapun menguap, maka ia berasal dari setan. Hendaklah setiap muslim berusaha untuk menahannya sebisa mungkin, dan apabila mengeluarkan suara ‘ha’, maka saat itu setan menertawakannya.” (HR Bukhari)
Allah menjanjikan dua hal bagi orang yang mendapat nikmat dengan penambahan dan penyiksaan bagi yang tidak bersyukur “Jika kamu bersyukur maka Aku akan tambah nikmat kamu tetapi jika kamu kufur maka azabku amatlah pedih” (QS Ibrahim 7).

Tasbih (Subhanalloh : Maha Suci Allah)
Dalam Al-Qur’an, kata subhanallah sendiri dipakai untuk mensucikan Allah dari hal-hal yang tidak pantas.
“Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada malaikat: “Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?” Malaikat-malaikat itu menjawab: “Maha Suci Engkau (Subhanaka). Engkaulah pelindung kami, bukan mereka: bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu.”(QS Saba’ 40-41)
“Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah (subhanallah), dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.”(QS Yusuf 108)
Dari Sa’ad r.a., dia berkata : Kami di sisi Rosulullah SAW., lalu beliau bersabda : “Apakah seseorang di antara kamu tidak mampu mendapatkan seribu kebaikan setiap hari?” Salah seorang diantara yang duduk bertanya : “Bagaimanakah seseorang diantara kita bisa memperoleh seribu kebaikan (dalam sehari)?” Rasulullah SAW bersabda : “Hendaklah dia membaca : “Maha Suci Allah” ….jika dibaca seribu kali, maka ditulis seribu kebaikan baginya atau seribu kejelekan dihapus” (HR. Muslim 4/2073)
 “Kami apabila berjalan naik membaca takbir, & apabila berjalan turun membaca tasbih.” (HR Al Bukhari, dari Jabir). 
Jadi “SubhanaLlah” dilekatkan dalam makna “turun”, yang kemudian sesuai dengan kebiasaan orang dalam Bahasa Arab secara umum; yakni menggunakannya tuk mengungkapkan keprihatinan atas suatu hal kurang baik di mana tak pantas
“Dari Jabir bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Apabila kami berjalan mendaki (naik), kami bertakbir dan apabila menuruni jalan kami bertasbih” (HR. Bukhari)

Ta’awudz/Al isti’adzah (a’udzubillahiminasy syaithoonirrojim/a’ubillahissamii’il aliimi minasy syaithoonirrojiim : aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk)
Pada QS An Nahl : 98 Allah berfirman : “Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.”
Perintah membaca ta’awudz bukan hanya ketika akan membaca Al-quran.
”Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan Maka berlindunglah kepada Allah[1]. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-A’raf : 200)
[1] Maksudnya: membaca A’udzubillahi minasy-syaithaanir-rajiim.
”Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan[2]. Dan Katakanlah: “Ya Tuhanku Aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syaitan. Dan Aku berlindung (pula) kepada Engkau Ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku.”(Q.S Al-Mukminun 96-98)
[2] Maksudnya: perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan kaum musyrikin yang tidak baik itu hendaklah dihadapi oleh nabi dengan yang baik, umpama dengan memaafkannya, asal tidak membawa kepada kelemahan dan kemunduran dakwah.
Dari Sulaiman bin Surod ra berkata, ”Ada dua orang yang saling mencela di sisi Nabi SAW dan kami sedang duduk di samping Nabi SAW. Salah seorang dari mereka mencela lawannya dengan penuh kemarahan sampai wajahnya kemerahan. Maka Nabi SAW bersabda, Sesungguhnya aku akan mengajarkan suatu kalimat yang kalau diucapkan akan hilang apa yang ada padanya. Yaitu sekiranya dia mengucapkan ”Audzu billahi minasy syaithoonirrojiim”. Maka mereka berkata kepada yang marah tadi, Tidakkah kalian mendengar apa yang disabdakan nabi? Dia menjawab, Aku ini bukan orang gila” (HR Bukhari dan Muslim)

Basmalah (Bismillahirrohmanirrohim : Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)
Dibaca setiap akan memulai aktivitas. Rasulullah bersabda: ”Setiap urusan yang baik yang tidak dimulai dengan Bismillahir rahmanir rahim akan terputus (berkahnya).” (HR Abu Dawud)

Istighfar (Astaghfirulloh : Aku mohon ampun kepada Allah )
Jika kita menyadari akan sebuah kesalahan. "dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS An-Nisaa' 106)
Begitulah Allah memerintahkan kita untuk senantiasa memohon ampun kepada Allah atas segala kesalahan yang kita lakukan baik itu yang disengaja maupun yang tidak kita sengajai (khilaf).
Dalam QS Ali Imran ayat 135 Allah menyatakan prihal orang-orang yang mendapat mendapat kenikmatan setelah mereka bertaubat, "Orang-orang yang berbuat kekejian atau menzalimi dirinya lalu ingat kepada Allah, maka minta ampunlah untuk mereka atas dosa-dosa yang dilakukan."

Tasymit (mendoakan orang yang bersin)
Rasulullah saw. bersabda, "Jika salah seorang dari kalian bersin, maka hendaklah ia berkata, alhamdulillah (Segala puji bagi Allah), dan hendaklah saudaranya mengatakan padanya, Yarhamukallah (Semoga Allah merahmatimu),' dan jika saudaranya telah mengatakan, 'Semoga Allah merahmatimu,' maka hendaklah orang yang bersin berkata, Yaghfirullah li wa laka (semoga Allah memberi ampunan kepadaku dan kepadamu)," atau ia berkata, "Yahdikumullahu wa yushlihu balaku (semoga Allah memberi petunjuk kepadamu, dan memperbaiki hatimu)” (HR.Bukhari)
Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy'ari, bahwa Nabi Saw bersabda, "Apabila salah seorang kalian bersin dan dia memuji Allah, maka doakanlah. Namun jika dia tidak memuji Allah, maka jangan kalian mendoakannya." (Shahim Muslim, Kitab Az-Zuhd wa Ar-Raqa'iq, Bab Tasymit Al-'Athis, hadits nomor 2992)

Istirja’ (Innalillahi wa inna ilaihi roji’un : Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya)
Jika kita mendapati musibah dan bersabar dengan mengucapkan innalillahi wa inna ilaihi rajiun maka maka Allah akan memberi ganti yang lebih baik. Rasulullah telah bersabda :”Tidaklah seorang hamba terkena musibah kemudian ia berdoa, “sesungguhnya kita milik Allah dan sesungguhnya kita akan kembali pada-Nya, ya Allah berilah pahala dalam musibah ini dan berilah aku ganti  yang lebih baik daripadanya,” kecuali Allah akan memberikan pahala dalam musibahnya dan Allah memberi ganti yang lebih baik daipadanya.” (H.R. Muslim No. 1526).
Kalimat ini biasa diucapkan saat ada di antara keluarga, teman, kerabat, tetangga, maupun orang lain meninggal dunia. Kalimat innalillahi wa inna ilaihi rajiun juga dapat diucapkan ketika kita terkena halangan atau rintangan, misalnya tersandung batu, jatuh, mengalami kecelakaan, dan lain sebagainya. Dengan mengucapkan kalimah tarji’ berarti kita telah bersabar dan ikhlas dengan apa yang telah ditentukan Allah.
“Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan,”Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.”” (QS 2:155-156)

Masya Allah (Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud / Allah telah berkehendak akan hal itu)
Ucapkanlah “Masya Allah” bila bertemu dengan hal yang menakjubkan itu. Ini sesuai dengan yang dituntun oleh Al-Qur’an serta kebiasaan dalam bahasa Arab.
Tuntunan dalam Al-Qur’an bisa kita temui dalam surat Al-Kahfi ayat 37: “Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu “maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan” (QS Al Kahfi 39)

InsyaAllah. (Jika Allah menghendaki)
Kalimat ini diucapkan ketika seseorang berniat hendak melakukan sesuatu di masa yang akan datang. Zikir ini akan mengingatkan kita, bahwa kehendak Allah adalah di atas segalanya. Tak seorangpun mengetahui apa yang akan terjadi detik setelah ini. Itu sebabnya, tak akan pernah ada janji yang dapat dipenuhi secara pasti oleh manusia, kecuali dengan menambahkan kalimat, Insya Allah (QS. 18: 23-24). Sayangnya, banyak orang mempergunakan kalimat ini secara keliru, hingga berkembang anggapan bahwa kalimat mulia ini diucapkan sebagai kelonggaran untuk tidak menepati janji. Perbuatan umum ini banyak menggejala dalam sebagian masyarakat, sehingga membuat banyak orang dapat memandang negatif kalimat ini. Adalah tanggung jawab kita bersama, kaum muslim, untuk meluruskan pandangan seperti ini. Dimulai dengan diri kita sendiri. Mari kita buktikan bahwa ucapan Insya Allah bukan berarti niat untuk melanggar. Akan tetapi sebagai ikatan janji yang sudah pasti akan ditepati secara logika manusia, disertai kepasrahan terhadap kehendak Allah yang sewaktu-waktu bisa merubah apa yang telah kita rencanakan.


Wallohu a'lam bish showab

Saturday, June 8, 2013

Ruqyah Syar'iyah vs Ruqyah Syirkiyah

sumber gambar : dari sini

Termasuk opini masyarakat yang harus diluruskan adalah pemahaman mereka tentang ruqyah. Banyak masyarakat Islam di negeri kita ini khususnya, ketika mendengar atau mengetahui bahwa ada praktik pengobatan dengan metode ruqyah, mereka langsung menyimpulkan bahwa praktik pengobatan tersebut syar'i atau Islami. Padahal tidak semua ruqyah itu Islami, begitu juga tidak semua praktik pengobatan yang berlebel ruqyah bisa dikategorikan sebagai praktik pengobatan yang islamiyah. Karena ruqyah sendiri ada dua macam. Ada ruqyah syar'iyyah (ruqyah yang sesuai dengan syari'at Islam) dan ada juga ruqyah syirkiyyah (ruqyah yang mengandung syirik dan diharamkan oleh Islam).
Karena opini dan pemahaman yang salah, akhirnya banyak orang Muslim yang mengaku telah menjadi korban praktik pengobatan yang berlebel ruqyah. Ada yang dirugikan secara materi, ada yang dirugikan secara kehormatan, dan ada juga yang dirugikan dari segi ideologi atau akidah.
Ibu Min (45 th) contohnya, ia mengaku telah habis jutaan rupiah karena diloroti oleh dukun yang berpakaian seorang habib dan mengaku sebagai peruqyah. Padahal sehabis diterapi, ia selalu dibekali jimat untuk ditempel di pintu rumah atau dipendam dalam kamar. Sedangkan Mbak Dina (40 th) mengaku bahwa ia pernah diruqyah oleh seseorang, tapi peruqyahnya meraba-raba tubuhnya dari balik bajunya. Ia merasa risih dan dilecehkan walaupun orang yang mengaku sebagai peruqyah tersebut memakai sarung tangan tipis yang acap kali dipakai seorang dokter.
Makanya kita harus berhati-hati dan waspada terhadap praktik-praktik pengobatan yang menggunakan nama ruqyah sebagai kedog dan merek dagangannya. Padahal praktiknya, mereka masih menggunakan praktik perdukunan, praktik yang sarat dengan kesyirikan dan menggunakan bantuan syetan.

Kriteria Ruqyah Syar'iyyah

Ruqyah secara bahasa artinya bacaan. Kalau ada orang yang mengaku bahwa pengobatannya adalah ruqyah tapi dalam praktiknya dia tidak membaca sesuatu, berarti orang tersebut tidak paham akan makna ruqyah itu sendiri. Karena bacaan adalah termasuk unsur pokok dalam melakukan praktik ruqyah sesuai dengan definisinya. Bukan ruqyah kalau dalam praktiknya dia tidak membaca sesuatu, walaupun dalam kenyataannya jin yang ada dalam tubuh seseorang itu keluar atau penyakit yang dideritanya itu sembuh.
Bacaan yang dibaca dalam praktik ruqyah yang syar’iyyah bukan dengan hati atau tidak bersuara dan tak terdengar. Seorang peruqyah lazimnya membaca bacaan ruqyah yang ada dengan bersuara, meskipun volumenya rendah (pelan). Yang penting terdengar. Terdengar oleh jin pengganggu yang ada dalam tubuh pasien, dan terdengar oleh orang lain yang ada di sekitar. Karena Rasulullah saat meruqyah juga bersuara, sehingga isteri, keluarga atau shahabat-shahabatnya mendengar materi bacaan beliau. Sehingga mereka mengetahui lalu meriwayatkannya kepada kita.
Tapi perlu diketahui, bahwa tidak semua bacaan yang dibaca oleh seseorang saat pengobatan bisa dibenarkan oleh Islam, atau bisa dikategorikan sebagai ruqyah syar'iyyah. Apalagi kalau ada seseorang pada saat praktik tidak menyuarakan bacaannya, kita tidak tahu apa yang dibaca di hatinya. Atau sebagaian do'a disuarakan, lalu sebagian lainnya tidak disuarakan atau bersuara tapi tidak jelas karena hanya kumat-kamit. Praktik seperti itu harus kita waspadai, jangan-jangan ia minta tolong kepada jin atau kepada lainnya selain Allah.
Sebetulnya ada kriteria khusus dalam bacaan yang bisa dikategorikan sebagai ruqyah syar'iyyah. Kalau kriteria itu tidak terpenuhi dalam suatu bacaan, maka bacaan itu bisa dikategorikan sebagai ruqyah syirkiyyah atau ruqyah yang menyimpang dari syari'at Islam.
Syekh Ibnu Hajar al-'Asqalani berkata: "Para ulama' telah sepakat (ijma') bahwa ruqyah dibolehkan apabila memenuhi tiga kriteria". (Fathul Bari: 10/ 206). Kesepakatan (konsensus) tersebut disampaikan oleh beberapa ulama' besar dan terkenal. Di antara mereka adalah Imam as-Suyuthi (Penulis kitab Tafsir ad-Durrul Mantsur), Imam Nawawi (Pensyarah Kitab Shahih Muslim), Imam as-Syaukani (Penulis Kitab Hadits Nailul Authar), Syekh Sulaiman bin Abdullah (Penulis Kitab Akidah Taisirul 'Azizil Hamid), Syekh Ibnu Taimiyyah (Pemilik Kitab Majmu'ul Fatawa), dan begitu juga Syekh Nashiruddin al-Albani (Pakar Hadits), serta masih banyak sederetan ulama' terkenal lainnya.
Yang dimaksud dengan tiga syarat dan telah menjadi konsensus para ulama' tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Bacaannya terdiri dari kalam Allah (al-Qur'an) atau dengan Asma' dan Sifat-Nya.
Bacaan yang dibaca oleh seorang peruqyah dengan ruqyah syar'iyyah adalah ayat-ayat Allah yang dibaca sesuai dengan kaidah bacanya, atau ilmu tajwid. Karena kita tidak boleh membaca ayat-ayat al-Qur'an kecuali sesuai dengan kaidah tajwidnya. Apabila ada seorang peruqyah membaca ayat-ayat al-Qur'an dengan cepat seperti seorang dukun membaca mantra, maka rusaklah makna dari ayat tersebut dan ia tidak akan dapat pahala, justru ia berdosa. Dan Islam juga melarang seorang peruqyah untuk membaca al-Qur'an dengan memenggal-menggal ayat yang bisa merubah maksud dan makna ayat tersebut.
Maka dari itu terkadang, kita jumpai seorang dukun juga membaca ayat al-Qur'an, tapi ia potong-potong ayat itu seenaknya. Atau mencampurnya dengan mantra yang ia baca atau rajah yang ia tulis. Ini termasuk pelecehan ayat suci yang sangat disukai oleh syetan. Apalagi bila ayat itu susunannya dibulak-balik, sebagaimana yang dikenal dengan istilah "Qulhu Sungsang", yaitu surat al-Ikhlas yang dibulak-balik susunannya. Bacaan seperti itu harus kita tinggalkan, dan bila ada seseorang yang membaca ayat dengan cara seperti itu, maka yang dipraktikkannya termasuk ruqyah syirkiyyah yang harus dijauhi, karena Islam telah mengharamkannya.
Di samping ayat al-Qur'an, seorang peruqyah juga bisa menjadikan do'a-do'a Rasulullah sebagai materi bacaannya. Karena hal itu telah dicontohkan Rasulullah dan juga dipraktikkan oleh shahabat-shahabatnya serta para ulama' pewaris ilmu mereka. Para ulama' hadits telah membukukan do'a-do'a tersebut dalam kitab-kitab hadits yang mereka susun. Dan para ulama' lain juga telah memasukkannya sebagai bacaan ruqyah dalam kitab-kitab mereka saat mengupas tentang materi ruqyah syar'iyyah.
Syekh Nashiruddin al-Albani berkata: "Ruqyah adalah do'a yang dibaca untuk mencari kesembuhan yang terdiri dari al-Qur'an dan hadits Rasulullah yang shahih. Sedangkan apa yang biasa dibaca oleh seseorang yang terdiri dari kata-kata yang bersajak atau kalimat-kalimat yang tidak bisa dipahami maknanya, bisa jadi ada unsur kekufuran dan kesyirikannya, maka hal itu termasuk ruqyah yang dilarang." (Kitab Dhaif Sunan Tirmidzi: 231).
Imam Nawawi juga telah berkata: "Ruqyah dengan ayat-ayat al-Qur'an dan dengan do'a-do'a yang telah diajarkan Rasulullah adalah suatu hal yang tidak terlarang. Bahkan itu adalah perbuatan yang disunnahkan. Telah dikabarkan para ulama' bahwa mereka telah bersepakat (ijma') bahwa ruqyah dibolehkan apabila bacaannya terdiri dari ayat-ayat al-Qur'an atau do'a-do'a yang diajarkan Rasulullah." (Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi: 14/ 341).
Hal senada juga dinyatakan oleh Syekh Ibnu Hajar al-'Asqalani dengan mengutip perkataan Imam Qurthubi, "Termasuk ruqyah yang dibolehkan adalah terdiri dari kalam Allah (al-Qur'an) atau asma'-Nya, atau yang do'a yang telah diajarkan Rasulullah." (Kitab Fathul Bari: 10/ 196).
  1. Bacaannya terdiri dari Bahasa Arab.
Para ulama' sepakat bahwa bacaan ruqyah harus terdiri dari bahasa Arab, sebagai bahasa al-Qur'an dan as-Sunnah. Dan mereka berbeda pendapat jika bacaan ruqyah itu bukan bahasa Arab. Tapi yang perlu dicatat dan digaris bawahi adalah, tidak setiap bacaan yang berbahasa arab itu benar maknanya atau tidak mengandung kesyirikan. Karena banyak masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam yang mempunyai persepsi bahwa yang berbahasa Arab itu pasti benar dan dilegalkan oleh Islam. Persepsi seperti itu tidak benar adanya, karena banyak juga matra-mantra kesyirikan yang berbahasa Arab, karena pemilik atau pembuatnya orang Arab atau bisa berbahasa Arab.
Seorang ahli Hadits yang bernama Syekh Hafizh bin Ahmad Hakami berkata: "Ruqyah yang terlarang adalah ruqyah yang tidak terdiri dari al-Qur'an atau as-Sunnah dan tidak berbahasa Arab. Ruqyah seperti itu termasuk perbuatan syetan, dan termasuk bacaan untuk mendekatkan diri kepada syetan. Sebagaimana yang dilakukan oleh para dukun dan tukang sihir. Bacaan seperti itu juga banyak dijumpai dalam kitab-kitab mantra dan rajah seperti Kitab Syamsul Ma'arif dan Syumusul Anwar dan lainnya. Hal itu merupakan upaya musuh Islam untuk merusak Islam, padahal sesungguhnya Islam bersih dari hal semacam itu." (Kitab A'lamus Sunnah al-Mansyurah: 155).
Seorang ahli Fiqh dan Ushul Fiqh yang bernama Imam al-Qarafi berkata: "Ruqyah adalah kalimat-kalimat khusus yang dengannya akan diperoleh kesembuhan dari penyakit dan terhindar hal-hal yang merusak –dengan izin Allah-. Tidak bisa dikategorikan sebagai ruqyah bila menimbulkan bahaya, tapi justru itulah yang disebut dengan sihir. Dan kalimat-kalimat (bacaan ruqyah) ada yang dianjurkan, seperti surat al-Fatihah dan al-Mu'awwidzatain. Dan ada juga yang dilarang, seperti ruqyah orang-orang jahiliyyah, atau orang-orang India dan lainnya. Karena dikhawatirkan mengandung kekufuran. Maka dari itu Imam Malik dan yang lainnya melarang ruqyah yang berbahasa selain Arab, karena dikhawatirkan di dalamnya mengandung suatu yang haram." (Kitab al-Furuq: 4/ 147).
Tapi bila bacaannya tidak terdiri dari Bahasa Arab atau 'Ajamiyyah, maka sebagian ulama' ada yang membolehkannya dan sebagian lain melarangnya. Ulama' yang membolehkan ruqyah dengan bahasa selain Arab memberikan persyaratan yang ketat. Termasuk syaratnya adalah, bisa dipahami maknanya, tidak mengandung unsur kesyirikan dan kekufuran seperti di dalamnya mencatut nama jin, malaikat, nabi atau orang shalih dan tokoh yang dikagumi sebagai sosok yang diyakini bisa memberi pertolongan. DR. Abdullah bin Ahmad at-Thayyar berkata: "Ruqyah syirkiyyah (yang mengandung syirik) adalah bacaan yang di dalamnya memohon pertolongan kepada selain Allah. Dan termasuk memohon pertolongan dan perlindungan kepada selain Allah, seperti meruqyah dengan nama-nama jin, malaikat, nabi dan orang-orang shalih." (Kitab Fathul Haqqil Mubin: 106).
Ibnu Taimiyyah berkata: "Adapun pengobatan orang yang kesurupan dengan ruqyah, maka bacaan yang dibaca itu ada dua macam. Apabila bacaan ruqyah tersebut terdiri dari kalimat yang bisa dipahami maknanya dan dibolehkan oleh agama Islam, maka bacaan seperti itu dibolehkan. Karena telah ditegaskan bahwa Rasulullah mengizinkan penggunaan ruqyah selama tidak mengandung kesyirikan. (Lihat HR. Muslim no. 2200, red.). Tapi bila di dalamnya mengandung kalimat yang diharamkan, seperti ada kesyirikan atau maknanya tidak bisa dipahami atau mengandung kekufuran, maka tidak seorang pun diperkenankan untuk memakainya. Walaupun terkadang dengan kalimat tersebut jin mau keluar dari tubuh orang yang kesurupan. Karena bahaya kekufuran lebih besar adanya daripada manfaat kesembuhan yang diperoleh." (Majmu'ul Fatawa: 23/ 277).
Imam Nawawi menukil perkataan Syekh al-Maziri: "Semua ruqyah itu boleh apabila bacaannya terdiri dari kalam Allah atau sunnah Rasul. Dan ruqyah itu terlarang apabila terdiri dari bahasa non Arab atau dengan bahasa yang tidak dipahami maknanya, karena dikhawatirkan ada kekufuran di dalamnya." (Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi: 13/ 341).
Nah, sekarang bagaimana kita bisa mengkategorikan bahwa ruqyah yang dibaca seseorang itu berbahasa Arab atau tidak, dan isi bacaannya menyimpang atau tidak, jika ia sendiri tidak menyuarakan bacaannya atau tidak terdengar oleh orang lain.
  1. Hendaklah diyakini bahwa bacaan ruqyah tidak berpengaruh dengan sendirinya, tapi berpengaruh karena kuasa dan izin Allah.
Karena hakikatnya yang bisa menyembuhkan penyakit, yang kuasa untuk menolak bahaya atau bencana, atau yang mampu untuk melindungi diri dari gangguan syetan hanyalah Allah. Allah mengabadikan keyakinan Nabi Ibrahim dalam al-Qur'an, "Dan apabila aku sakit, Dialah (Allah) yang menyembuhkanku." (QS. asy-Sy'ara': 80). Di ayat lain, Allah berfirman, "Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan (bahaya) kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri…" (QS. al-An'am: 17). Hanya saja dalam usaha mencari kesembuhan, kita diwajibkan untuk mematuhi rambu-rambu syariat, jangan menghalalkan segala cara. Termasuk saat memilih praktik ruqyah, karena sekarang praktik ruqyah yang menyimpang atau gadungan makin marak dan berkembang.
Kita harus memperhatikan kriteria yang telah disepakati oleh para ulama'. Sebagaimana yang dipesankan oleh DR. Fahd bin Dhuwaiyyan (seorang ustadz akidah di Jami'ah Islamiyyah, Madinah al-Munawwarah). Ia menanggapi tiga syarat ruqyah di atas dengan mengatakan, "Sudah jelas, bahwa suatu hal yang sangat penting sekali untuk memahami tiga syarat di atas, karena itulah syarat yang benar. Apabila salah satu dari tiga syarat tersebut di atas tidak ada, maka kita harus berhati-hati dan waspada. Karena banyak tempat praktik ruqyah yang didatangi oleh banyak orang di berbagai belahan dunia, tapi tiga kriteria di atas tidak terpenuhi dalam praktik mereka. Padahal praktik seperti itu harus dijauhi oleh seorang muslim. Yakinlah terhadap firman Allah, "Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar." (QS. at-Thalaq: 2).

Dari tiga syarat di atas bisa disimpulkan bahwa ruqyah itu ada dua macam. Pertama, ruqyah yang dibolehkan, yaitu ruqyah yang di dalamnya ada tiga kriteria tersebut. Kedua, ruqyah yang terlarang, yaitu ruqyah yang tidak ada tiga kriteria di atas, atau salah satunya." (Kitab Ahkamur Ruqa wat Tamaim: 41).
Oleh sebab itu, mulai sekarang pastikan bahwa ruqyah yang Anda pakai adalah ruqyah Syar'iyyah. Dan apabila Anda memakai jasa ruqyah dari orang lain, pastikan bahwa ruqyahnya adalah ruqyah yang syar'iyyah, bukan yang syirkiyyah. Karena Rasulullah telah bersabda, "Tidak apa-apa dengan ruqyah, selama tidak mengandung kesyirikan." (HR. Muslim, Abu Daud dan al-Hakim).
Jika Anda ingin mengetahui praktik ruqyah yang syar’iyyah, atau ingin membuktikan manfaat dari terapi model ini, silakan mengunjungi tempat praktik kami di Klinik Ghoib. Sampai saat ini kami berusaha untuk mensosialisasikan cara pengobatan Rasulullah yang satu ini, meskipun di luaran sana banyak orang yang menyalahgunakan praktik ruqyah, bahkan untuk membungkus praktik perdukunan yang sarat kesyirikan. Hati-hati, jangan sampai Anda tertipu.


sumber : klinik Ghoib

Renungan Isra' Mi'raj

Alhamdulillah, sekarang kita berada di penghujung bulan Rajab 1434 H. Jika kita membaca siroh, ada sebuah peristiwa besar yang dialami oleh  Rasulullah juga di penghujung Rajab (menurut pendapat yang umum). Tepatnya tanggal 27 Rajab sekitar tahun 10-12 kenabian. Untuk tahunnya ini terdapat beberapa pendapat, tapi menurut siroh, yang jelas peristiwa ini terjadi setelah meninggalnya Abu Tholib dan Kahadijah ra.

Peristiwa Isra’ Mi’raj dapat dikatakan terbagi dalam dua peristiwa yang berbeda. Dalam Isra’, Nabi Muhammad SAW, “diberangkatkan” oleh Allah Ta’ala dari Masjidil haram sampai Masjidil Aqsha, dari Makkah ke sampai Jerusalem. Lalu, dalam Mi’raj, Nabi Muhammad SAW dinaikkan ke langit sampai ke langit tertinggi Sidratul Muntaha.

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
(QS Al Isra (17) : 1)



Dalam ayat tersebut digunakan kata "Subhana" untuk menggambarkan betapa Allah Maha Agung dan maha Suci. Ditambah lagi penggunaan kata Subhanalloh biasa dilakukan untuk men-Suci-kan nama Allah atas segalanya, dalam hal ini adalah atas celaan atau nada-nada tak percaya dari orang-orang kafir.

Ada beberapa hal yang menjadi kontraversi terkait peristiwa Isra' Mi'raj ini, yakni :
1. Apakah peristiwa ini hanya dialami oleh ruh Rasulullah saja atau beserta jasad beliau SAW?
Ada sebagian orang yang berpendapat bahwa Isra' Mi'raj ini hanya perjalanan ruhani saja, seperti bermimpi. Orang-orang yang mengedepankan logika lah yang berpendapat seperti ini, bukan orang yang "melihat" bahwa ini adalah suatu hal yang dilakukan oleh Rabb yang Maha segalanya, yang bisa berkehendak apa saja. Lagi pula, seandainya ini adalah perjalanan ruhani saja, maka tidak perlulah orang-orang kafir ikut "heboh" dibuatnya. karena mereka pada waktu itu sudah mempercayai akan hal-hal yang bersifat ghaib. namun yang terjadi, seperti yang diceritakan di siroh, adalah mereka meragukan kejadian ini bahkan mencaci rasulullah SAW. Jadi, sebenernya pendapat ini kurang kuat argumentasinya.
Sebagian yang lain, termasuk pendapat umum kaum muslimin, adalah Isra' Mi'raj ini perjalanan ruh dan jasad Raslullah SAW. Pendapat ini lebih sesuai jika dilihat dari siroh.
2. Hadits tentang tawar-menawar raka'at.
Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Allah mewajibkan atas umatku 50 shalat dan aku kembali dengan perintah itu, sampai aku melewati Nabi Musa di mana dia bertanya, “Apa yang Allah wajibkan kepada umatmu?” Aku menjawab, “Allah mewajibkan 50 shalat.”Musa berkata, “Kembali kepada tuhanmu, karena umatmu tidak akan kuat atas perintah itu.” Maka aku kembali dan Allah menghapuskan separuhnya dan aku kembali kepada Musa dan berkata, “Allah telah menghapuskan sepatuhnya.”
Musa berkata lagi, “Kembali kepada tuhanmu, karena umatmu tidak akan kuat atas perintah itu.” Maka aku kembali dan Allah menghapuskan separuhnya dan aku kembali kepada Musa.
Musa berkata lagi, “Kembali kepada tuhanmu, karena umatmu tidak akan kuat atas perintah itu.” Maka aku kembali dan Allah berkata, “Shalat itu lima (waktu) dan dinilai lima puluh (pahalanya) dan perkataan-Ku tidak akan berganti.” Aku kembali lagi kepada Musa.
Musa berkata lagi, “Kembali kepada tuhanmu.” Namun aku berkata, “Aku sudah malu kepada tuhanku.”(HR Bukhari Muslim)
Hadits tersebut terdapat di dalam shahih Bukhari dan shahih Muslim. jadi, tidak perlulah kita meragukan lagi ke-shahih-an hadits ini.
3. Perayaan Isra' Mi'raj
 Pada masa Rasulullah SAW hidup, beliau tidak pernah merayakannya. Begitu pula para sahabat. Pada perkembangannya, ulama memiliki pandangan yang berbeda terkait tentang perayaan Isra' Mi'raj.
Ada ulama yang membid’ahkan perayaan-perayaan seperti disebutkan di atas, biasanya berargumen bahwa apa saja kegiatan keagamaan yang tidak ada contoh dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan para shahabat, berarti hukumnya bid’ah. Dan semua jenis bid’ah itu sesat dan orang sesat itu tempatnya di neraka.
Mereka umumnya sangat khawatir kalau urusan mengadakan perayaan maulid, isra’ mi’raj dan nuzulul quran akan menyeret diri mereka ke neraka. Dalilnya sederhana saja, karena semua itu tidak pernah dilakukan di zaman nabi, maka siapa saja yang melakukannya dianggap telah membuat agama baru dan tempatnya kekal di dalam neraka.
Ada pula ulama yang membolehkan meski di zaman Nabi tidak pernah dilakukan, namun menurut mereka tidak lantas kegiatan seperti itu bisa dianggap sebagai bid’ah sesat dan membawa ke neraka.
Sebab yang termasuk bid’ah hanyalah bisa seseorang menambah ritual peribadatan, seperti shalat yang ditambahi rukun atau rakaatnya. Sedangkan kegiatan peringatan maulid nabi, menurut mereka, tidak ada kaitannya dengan ibadah rtitual, namun lebih terkait dengan masalah teknis muamalah. Dan dalam masalah muamalah, prinsipnya apapun boleh dilakukan selama tidak melanggar hal-hal yang memang secara tegas dilarang.

Hikmah peristiwa isra' Mi'raj :
1. Isra' Mi'raj adalah perjalanan yang nyata bukan khayalan Rasulullah.
2. Isra' Mi'raj adalah jamuan kemuliaan dari Allah untuk Rasulullah SAW, sekaligus penghibur hati, obat kesedihan yang dialami Rasulullah. Karena sebelumnya, beliau SAW bersedih atas meninggalnya Abu Thalib dan Khadijah ra (amul huzni), juga mengalami pengusiran saat berdakwah di Thaif.
3. Isra' Mi'raj bukanlah peristiwa yang sederhana, bahkan menjadi bukti akan kebesaran Allah. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam surat Al Isra 1 dan An Najm 13-18.
4. Isra' Mi'raj adalah pembuktian bahwa risalah yang dibawa oleh Rasulullah adalah bersifat universal.
Isra adalah perjalanan Rasulullah melintasi ribuan kilometer dari Mekah ke Jerussalem. Hal ini menunjukkan bahwa syariat Islam diperuntukkan bukan hanya untuk penduduk Mekah, melainkan seluruh umat manusia.
5. Dalam Isra' Mi'raj diturunkan perintah sholat wajib 5 waktu.
Sholat adalah ibadah yang memiliki keistimewaan, diantaranya adalah perintah sholat ini disampaikan oleh Allah di "langit" saat Rasulullah Mi'raj ke sidratul muntaha, ibadah sholat adalah amalan yang pertama kali dihisab, sholat ini bisa menghapus dosa (dosa-dosa kecil)

Masya Allah sungguh banyak hikmah yang bisa kita dapatkan dari peristiwa Isra' Mi'raj. pertanyaannya kemudian adalah sudahkah pengetahuan kita tentang hal ini membuat semakin bertambah keimanan kita? Sudahkan sholat - yang merupakan oleh-oleh dari Isra' Mi'raj- kita mengalami perbaikan kualitas dan kuantitasnya seiring dengan semakin seringnya kita mendapat tausyiah di saat peringatan hari besar Islam Isra' Mi'raj?

Astaghfirulloh....faghfirlii, ya Robbii...

Bismillah, mari kita terus berupaya memperbaiki kualitas dan kuantitas sholat kita, khususnya sholat fadhu. kalau yang fardlu sudah OK, tingkatkan kualitasnya...kekhusuykannya... kl sudah OK, tambah dan hiasi dengan yang sunnah.
Semoga nilai-nilai dari sholat menghiasi setiap aktivitas kita, sehingga kedekatan hubungan kita dengan Allah pun selalu terjaga.

sumber : dakwatuna dan fimadani

Menjaga Kemurnian Aqidah

sumber gambar: dari sini


Saat ini adaSebagai seorang yang mengaku muslim, setidaknya ditunjukkan dengan data di KTP kita masing-masing, maka sudah selayaknya kita memiliki aqidah yang benar, bersih atau murni, yang biasa disebut dengan istilah salimul aqidah. karena pegangan kita terhadap aqidah yang benar ini lah yang menjadi syarat yang pertama dan utamanya. kalau syarat pertamanya saja kita masih belum punya, masih layakkah kita disebut muslim?? *mari kita renungkan*

Aqidah adalah sesuatu yang wajib diyakini atau diimani dalam hati tanpa keraguan, diucapkan atau diikrarkan dengan lisan, dan diwujudkan dalam amal perbuatan sehari-hari. Tentu hal ini adalah dalam kaitannya dengan keyakinan kepada Allah dan syariat-Nya. 

Ada tiga makna yang harus dipahami dalam syahadah yaitu:
1. Tasdiiqun  bil qolbi
Yaitu syahadah yang harus dibenarkan dalam hati. Bila unsur ini tidak dimiliki maka keraguan Islam akan muncul. Unsur ini merupakan nilai terpenting dalam keimanan seseorang. Ada seorang sahabat Rasulullah yang bernama Amer bin Yassar. Ia  dikisahkan memiliki keteguhan iman luar biasa sehingga harus disiksa oleh kaum kafir Quraisy kemudian secara tidak sadar mengungkapkan kata-kata kekufuran karena kerasnya siksaan yang datang kepadanya. Akhirnya hal itu diketahui oleh Rasullullah. Beliau membolehkannya selama hatinya tidak membenarkannya. Ini membuktikan keimanan itu harus ada di dalam qalbu seorang Muslim.
2. Iqroorun bil lisan
Yaitu syahadah yang harus diucapkan atau diumumkan melalui lisan/ ucapan. Syahadah ini menuntut pembuktian secara nyata tentang keislaman kita kepada orang lain. Makanya bagi orang yang masuk Islam, langkah pertama yang harus dilakukan  adalah dengan mengucapkan syahadah ini. Setelah itu ia berhak menyandang gelar Muslim dan mempunyai kewajiban yang sama dengan Muslim lainnya. Dengan syahadah ini, akan nampak perbedaan antara seorang Muslim dengan non Muslim.
3.  Amalun bil arkan
Syahadah ini mengharuskan setiap Muslim mengaplikasikan syahadahnya dengan amal ibadah secara nyata. Syahadah bukan sekadar diucapkan dan dibenarkan oleh hati tapi sampai tingkat pelaksanaan hukum-hukum Allah baik berupa larangan maupun perintah-Nya. Oleh sebab itu, bukan seorang Muslim yang benar jika ia hanya sekadar bersyahadah saja, namun ia tidak beribadah sesuai perintah Allah Swt. Pada tingkatan inilah seseorang dinilai sebagai Muslim sejati atau tidak.

Aqidah merupakan motor penggerak dan otak dalam kehidupan manusia. Apabila terjadi sedikit penyimpangan padanya, maka menimbulkan noda atau penyelewengan dari jalan yang lurus pada amaliah, gerakan dan langkah yang dihasilkan.

Allah berfirman, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku, 
semua bagi Allah Tuhan semesta alam”. (QS. Al An’aam 162).

Aqidah adalah pondasi dalam ber-Islam. Demikianlah yang disabdakan Rasulullah dalam sebuah hadits.

Dari Abu Abdurrahman, Abdullah bin Umar bin Alh- Khottob ra dia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : Islam dibangun diatas lima perkara; Bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa nabi Muhammad utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji dan puasa Ramadhan. (HR At Tirmidzi dan Muslim)


sumber:
http://www.bersamadakwah.com/2010/04/khutbah-jumat-menjaga-aqidah-kita.html
http://blog.re.or.id/menjaga-aqidah-diri-dan-keluarga-di-tengah-modernisasi-dan-globalisasi.htm


Akidah dalam kehidupan

Perlu dipahami bahwa dakwah Rasulullah Saw. selama di Mekkah ditujukan untuk menguatkan akidah. Ini menghasilkan kualitas keimanan yang sempurna yang ditunjukan oleh Rasulullah dan para sahabat. Pada saat itu, belum diturunkan aturan hukum-hukum lain yang mengatur kehidupan pribadi dan bermasyarakat, seperti mu'amalah, puasa dan sebagainya. Bahkan salat pun diturunkan Allah Swt.kepada Rasul Saw. menjelang hijrah ke Madinah. Disini disadari bahwa peranan aqidah sangat penting dalam pembinaan manusia dan masyarakat. Benar bahwa Rasul Saw. diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia, tetapi akhlak yang sempurna ini tidak akan dapat terwujud tanpa disandarkan pada landasan aqidah yang mantap. Bila aqidah sudah dapat diwujudkan dalam amal, maka dengan otomatis akhlak manusia pun akan dapat mengikutinya.
Salah satu hal yang harus diketahui dalam mengkaji aqidah adalah melakukan reinterpretasi terhadap makna syahadah. Syahadah sendiri merupakan  salah satu bagian dari rukun iman, bahkan merupakan rukun iman yang pertama. Syahadah menempati  kedudukan utama sebagai awal keislaman dan keimanan seseorang. Mengucapkan kalimat tersebut menjadikan seseorang sebagai Muslim dan mempunyai kewajiban-kewajiban yang sama dengan Muslim lainnya. Syahadah merupakan pembatas (border) antara domain (wilayah) jahiliyah dengan domain Islam. Bila seseorang tidak menganut Islam walaupun ia berpendidikan atau mempunyai kedudukan tinggi, tetap saja orang tersebut tergolong dalam domain jahiliyah. Sementara itu, bila seseorang telah berislam/ ber-syahadah walaupun dia seorang yang miskin dan tidak punya apa-apa, tidak berkuasa dan tidak berkedudukan, tetap saja dia mempunyai nilai yang terhormat di sisi Allah Swt. Pada konteks ini Rasulullah Saw. bersabda, " Siapa saja yang dalam hidupnya pernah mengucapkan syahadah maka dia akan dimasukkan dalam surga".
Syahadah terdiri dari dua kategori, yaitu; syahadah tauhid dan syahadah Rasul. Syahadah tauhid mengesakan Allah Swt. sebagai satu-satunya Tuhan dan tidak ada tuhan lain yang menyamai-Nya. Sementara syahadah Rasul berarti mengimani Muhammad sebagai utusan Allah. Sedikitnya ada tiga makna yang harus dipahami dalam syahadah yaitu:
1. Tasdiiqun  bil qolbi
Yaitu syahadah yang harus dibenarkan dalam hati. Bila unsur ini tidak dimiliki maka keraguan Islam akan muncul. Unsur ini merupakan nilai terpenting dalam keimanan seseorang. Ada seorang sahabat Rasulullah yang bernama Amer bin Yassar. Ia  dikisahkan memiliki keteguhan iman luar biasa sehingga harus disiksa oleh kaum kafir Quraisy kemudian secara tidak sadar mengungkapkan kata-kata kekufuran karena kerasnya siksaan yang datang kepadanya. Akhirnya hal itu diketahui oleh Rasullullah. Beliau membolehkannya selama hatinya tidak membenarkannya. Ini membuktikan keimanan itu harus ada di dalam qalbu seorang Muslim.
2. Iqroorun bil lisan
Yaitu syahadah yang harus diucapkan atau diumumkan melalui lisan/ ucapan. Syahadah ini menuntut pembuktian secara nyata tentang keislaman kita kepada orang lain. Makanya bagi orang yang masuk Islam, langkah pertama yang harus dilakukan  adalah dengan mengucapkan syahadah ini. Setelah itu ia berhak menyandang gelar Muslim dan mempunyai kewajiban yang sama dengan Muslim lainnya. Dengan syahadah ini, akan nampak perbedaan antara seorang Muslim dengan non Muslim.
3.  Amalun bil arkan
Syahadah ini mengharuskan setiap Muslim mengaplikasikan syahadahnya dengan amal ibadah secara nyata. Syahadah bukan sekadar diucapkan dan dibenarkan oleh hati tapi sampai tingkat pelaksanaan hukum-hukum Allah baik berupa larangan maupun perintah-Nya. Oleh sebab itu, bukan seorang Muslim yang benar jika ia hanya sekadar bersyahadah saja, namun ia tidak beribadah sesuai perintah Allah Swt. Pada tingkatan inilah seseorang dinilai sebagai Muslim sejati atau tidak.
Persoalan selanjutnya adalah, bagaimana akidah memberi pengaruh dalam kehidupan seorang Muslim? Berikut ini penulis uraikan bagaimana akidah menjadi bingkai sekaligus kendali dalam setiap perilaku kaum Muslim.
Pertama, berpandangan luas. Menurut al-Maududi, orang yang memiliki aqidah benar tidak mungkin mempunyai pandangan yang sempit karena dia percaya kepada Yang Menciptakan langit dan bumi, Pemilik alam semesta, Pemilik barat dan timur, Pemberi rezeki dan Pendidik makhluk.  Dia tidak akan menemui sesuatu yang ganjil dalam alam ini karena segala sesuatu yang ada di dalamnya adalah milik Allah Swt.  Tidak ada sesuatu pun dalam alam ini yang dapat menghalangi dan membatasi rasa cintanya dan kecenderungannya untuk memberi pertolongan kepada sesama manusia. Bagaimanapun pandangan seperti ini tidak mungkin ada pada orang yang menganut politeisme. Paham ini meyakini bahwa Allah Swt. mempunyai sifat serba kekurangan dan terbatas seperti manusia.
Kedua, melahirkan rasa bangga dan harga diri. Orang yang memiliki aqidah benar akan merasa bangga sebagai manusia dan mempunyai harga diri.  Dia mengetahui Allah adalah Pemilik sebenarnya dari segala kekuatan yang ada dalam alam ini, tidak ada yang memberi manfaat dan mudarat kecuali Allah, tidak ada yang menghidup dan mematikan kecuali Allah serta tidak ada yang memiliki hukum, kekuasaan dan kedaulatan kecuali Allah. Oleh karena itu, keimanannya kepada Allah menyebabkan dia tidak berhajat kepada yang lain kecuali kepada Allah. Tercabut dari dalam hatinya rasa takut kepada yang lain kecuali kepada Allah. Dia tidak menundukkan kepalanya di hadapan makhluk, tidak merendahkan diri dan mengemis kepada manusia dan tidak gentar dengan kesombongan dan kebesaran manusia.
Ketiga, rendah hati kepada sesama manusia. Orang yang akidahnya benar tidak mungkin menjadi angkuh, tidak mensyukuri nikmat dan tidak terpedaya dengan kekuatan dan kemahiran yang dimilikinya. Karena dia tahu dan yakin semua itu adalah karunia Allah kepadanya.  Malah dia sadar Allah berkuasa mengambilnya kembali apabila Dia menghendaki. Manusia yang akidahnya tidak benar akan mengingkari nikmat, menyombongkan diri dan mengangkat kepala apabila memperolehi nikmat. Ia menganggap nikmat itu hasil usaha dan kecakapannya. 
Keempat, jiwa yang bersih dan beramal saleh. Orang yang berakidah secara benar yakin bahwa tidak ada jalan untuk mencapai keselamatan dan keuntungan kecuali dengan jiwa yang bersih dan beramal saleh.  Kesadaran itu timbul karena dia beriman kepada Allah yang Maha Kaya dan Maha Adil, bergantung harap segala sesuatu kepada-Nya. Sebaliknya orang yang musyrik dan kafir menghabiskan masa hidup mereka untuk angan-angan palsu.  Di antara mereka ada yang berkata: "Sesungguhnya anak Allah telah menjadi penebusan dosa-dosa kita kepada Bapanya." Ada juga yang berkata: "Kami adalah putera Allah dan kekasihnya, maka Ia tidak akan menyiksa kami karena dosa kami." Ada juga yang berkata: "Kami akan meminta syafaat pada sisi Allah kepada pembesar kami dan orang yang bertaqwa di kalangan kami." Ada juga di kalangan mereka yang mempersembahkan nazar dan korban kepada tuhan mereka dan menganggap dengan cara demikian mereka telah mendapat izin untuk berbuat sekehendak hati mereka.
Kelima, tidak berputus asa dan hilang harapan. Orang yang akidahnya benar tidak mudah dihinggapi rasa putus asa dan hilang harapan dalam setiap keadaan. lman memberikan ketenteraman yang luar biasa pada hatinya. lman mengisi hatinya dengan ketenangan dan harapan meskipun dia dihina di dunia dan diusir dari semua pintu kehidupan sehingga kelihatan jalan hidupnya sempit dan seluruh saluran materi terputus darinya.  Dia yakin Allah tidak pernah terlena dan tidak membiarkan hidupnya terlantar.  Oleh karena itu, ia senantiasa mencurahkan tenaganya dengan bertawakkal kepada Allah dan meminta pertolongan daripada-Nya dalam semua urusan. Ketenteraman hati dan ketenangan iiwa seperti ini tidak mungkin dimiliki kecuali dengan aqidah.  Orang kafir, musyrik dan mulhid (atheis) mempunyai hati yang lemah.  Mereka bersandar kepada kekuatan yang terbatas.  Maka alangkah cepatnya mereka dihinggapi rasa putus asa ketika menghadapi kesukaran.  Kadangkala menyebabkan mereka membunuh diri mereka sendiri.
Keenam, memiliki hati dan pendirian yang teguh. Akidah yang benar mendidik manusia dengan kekuatan yang besar, bulat, tekad, berani, sabar, tabah dan tawakkal ketika menghadapi perkara besar di dunia demi mengharapkan keridhaan Allah.  Dia yakin kekuatan Allah yang memiliki langit dan bumi menyokongnya dan membimbingnya dalam setiap aspek kehidupan.  Oleh karena itu, hatinya menjadi lebih teguh, dan tabah. Hampir tidak ada suatu musibah dalam dunia yang dapat melawan tekad yang telah dibuatnya. 
Ketujuh, berani dan tabah.  Akidah yang benar akan menjadikan manusia berani dan mengisi hatinya dengan ketabahan.  Ada dua perkara yang menjadikan seseorang manusia itu pengecut dan lemah semangat.  Pertama, cinta pada diri, harta dan keluarganya.  Kedua, percaya bahwa ada yang lain selain Allah yang dapat mematikan manusia dan dia tidak dapat menolak kematian itu dengan beragam tipu daya. Akidah yang benar dapat mencabut kedua persoalan itu dari hati manusia dan sekaligus membersihkannya. lman dapat mencabut yang pertama dengan menjadikan dia yakin bahwa Allah adalah satu-satunya Pemilik diri, harta dan keluarganya. lman menjadikan dia sedia  berkorban untuk jalan dan keridhaan Allah.  Dia rela berkorban dengan segala sesuatu yang ada padanya dengan sesuatu yang mahal maupun murah. lman juga dapat mencabut persoalan kedua dengan menanamkan ke dalam iiwa manusia bahwa tidak ada seorang manusia atau seekor binatang pun yang dapat merampas hidupnya.
Kedelapan, menjauhi perbuatan hina. Iman kepada Allah mengangkat derajat manusia dan menimbulkan dalam dirinya sifat menjauhkan diri dari perbuatan yang dapat merendahkan martabatnya.  Dia juga merasa cukup dengan apa yang ada dan tidak memerlukan pemberian orang, menyucikan hatinya dari sifat tamak, rakus, dengki, rendah diri dan segala sifat buruk serta kecenderungan yang hina.  Tidak terlintas dalam hatinya memilih jalan yang keji untuk mencapai kejayaan karena dia yakin rezeki berada di tangan Allah.  Dia yakin Allah melimpahkan rezeki kepada orang yang dikehendaki-Nya dan menentukan kepada orang yang dikehendaki-Nya.  Tidak ada kemuliaan, kekuatan, kemasyhuran, kekuasaan, pengaruh dan kemenangan melainkan di tangan Allah.  Manusia wajib berusaha dengan cara yang mulia menurut kemampuannya.  Kejayaan atau kegagalan bergantung kepada Allah.  Tidak ada yang dapat menahan apa yang diberi-Nya dan tidak ada yang dapat memberi apa yang ditahan-Nya.
Sembilan,  terikat dan patuh pada peraturan Allah. Akidah yang benar akan menjadikan manusia terikat dan patuh pada undang-undang Allah.  Orang yang beriman yakin bahwa Allah mengetahui segala sesuatu.  Allah lebih dekat kepada diri mereka daripada urat leher mereka sendiri. Orang beriman yakin apabila mereka melakukan sesuatu perbuatan di dalam gelap ataupun terang, Allah tetap mengetahui.  Apabila terlintas dalam hatinya sesuatu yang tidak baik, Allah tetap mengetahui.  Walaupun dia dapat menyembunyikan perbuatannya daripada orang lain, dia tidak dapat menyembunyikannya dari Allah.  Walaupun dia dapat melepaskan dirinya dari berbagai kekuatan, dia tidak dapat melepaskan dirinya dari Allah.  Semakin kukuh akidah ini melekat dalam jiwa seseorang, semakin tekun ia mengikuti hukum Allah dan menjauhi larangan-Nya. Ia bergegas menuju kebajikan dan mengerjakan apa yang diperintah oleh Allah dimanapun berada.  Di hadapan matanya senantiasa terbayang pengadilan tinggi dan tidak ada orang yang dapat melepaskan diri daripada pemeriksaan-Nya. 

Penutup
Akidah adalah sumber energi jiwa yang senantiasa memberikan kita kekuatan untuk bergerak menyemai kebaikan, kebenaran dan keindahan dalam zaman kehidupan. Atau bergerak mencegah kejahatan, kebatilan dan kerusakan dipermukaan bumi. Akidah adalah gelora yang memberi inspirasi kepada pikiran-pikiran kita untuk mempertajam bashirah (mata batin).  Akidah adalah cahaya yang menerangi dan melapangkan jiwa kita untuk "taqwa". Akidah adalah bekal yang menjalar di seluruh bagian tubuh kita untuk melahirkan "harakah". Akidah menentramkan perasaan, menguatkan tekad dan menggerakkan raga kita. Akidah mengubah individu menjadi baik, dan kebaikan individu menjalar dalam kehidupan masyarakat, maka masyarakat menjadi erat dan dekat.  Dengan akidah, yang kaya diantara mereka menjadi dermawan, yang miskin diantara mereka adalah "iffah" (menjaga kehormatan dan harga diri), yang berkuasa diantara mereka adalah adil, yang ulama diantara mereka adalah taqwa, yang kuat diantara mereka adalah penyayang, yang pintar diantara mereka adalah rendah hati, yang bodoh diantara mereka adalah pembelajar.


sumber : annaba center

Wednesday, June 5, 2013

Apa kabar HATI kita??

  sumber gambar : dari sini

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal daging, apabila daging itu baik maka baiklah tubuh manusia itu, akan tetapi bila daging itu rusak maka rusak pula tubuh manusia. Ketahuilah bahwa sesungguhnya segumpal daging itu adalah hati."
                                                          [HR. Bukhari-Muslim].


Pengelompokan Hati Manusia

Hati manusia terbagi menjadi tiga klasifikasi: Qalbun Shahih (hati yang suci), Qalbun Maridl (hati yang sakit) dan Qalbun Mayyit (hati yang mati), .

Pertama, Qalbun Shahih
yaitu hati yang sehat dan bersih (hati yang sehat) dari setiap nafsu yang menentang perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan dari setiap penyimpangan yang menyalahi keutamaan-Nya. Sehingga ia selamat dari pengabdian kepada selain Allah, dan mencari penyelesaian hukum pada selain rasul-Nya. Karenanya, hati ini murni pengabdiannya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, baik pengabdian secara iradat (kehendak), mahabbah (cinta), tawakkal (berserah diri), takut atas siksa-Nya dan mengharapkan karunia-Nya. Bahkan seluruh aktivitasnya hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta'ala semata. Jika mencintai maka cintanya itu karena Allah, dan jika membenci maka kebenciannya itupun karena Allah, jika memberi atau bersedekah, hal itu karena-Nya dan jika tidak memberi, juga karena Allah. Dan tidak hanya itu saja, tapi diiringi dengan kepatuhan hati dan bertahkim (berhukum) kepada syari'at-Nya. ia mempunyai landasan yang kuat dan prinsip tersendiri dalam menjadikan Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai suri tauladan dalam segala hal.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu mendahului Allah dan rasul-Nya, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."[QS. Al-Hujurat:1].

Ciri-ciri Qalbun Shahih

1. Apabila hati pergi meninggalkan dunia menuju dan berdomisili di alam akhirat, sehingga seakan ia termasuk penduduknya. Ia datang ke dunia fana ini bagaikan seorang asing yang kebetulan singgah sebentar sebelum meneruskan perjalanan menuju alam akhirat. Sebagaimana telah diwasiatkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Abdullah bin Umar : "Jadikanlah dirimu di dunia ini seakan-akan kamu orang asing atau orang yang sedang menyeberangi suatu jalan." [HR. Bukhari].
2. Jika ia tertinggal wirid, atau sesuatu bentuk peribatan lainnya, maka ia merasakan sakit yang tiada terperi, melebihi sakitnya orang yang tamak dan kikir saat kehilangan barang kesayangannya.
3. Ia senantiasa rindu untuk dapat mengabdikan diri di jalan Allah, melebihi keinginan orang yang lapar kepada makanan dan minuman. Yahya bin Mu'adz berkata: "Barangsiapa yang merasa berkhidmat kepada Allah, maka segala sesuatupun akan senang berkhidmat kepadanya, dan barang siapa tentram dan puas dengan Allah maka orang lain tentram pula ketika melihat dirinya."
4. Apabila tujuan hidupnya hanya untuk taat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
5. Bila sedang melakukan sholat, maka sirnalah semua kegundahannya dan kesusahan karena urusan dunia. Sebab di dalam sholat telah ia temukan kenikmatan dan kesejukan jiwa yang suci.
6. Sangat menghargai waktu dan tidak menyia-nyiakanya, melebihi rasa kekhawatiran orang bakhil dalam menjaga hartanya.
7. Tidak pernah terputus dan futur (malas) untuk mengingat Allah dan berdzikir kepada-Nya.
8. Lebih mengutamakan pada pencapaian kualitas dari suatu amal perbuatan daripada kuantitas. ia lebih condong pada keikhlasan dalam beramal, mengikuti petunjuk syari'at Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di samping ia selalu merenungi segala bentuk karunia yang diberikan Allah kepadanya, dan mengakui tentang kelalaian dan keteledorannya dalam memenuhi hak-hak Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Kedua, Qalbun Marid
adalah hati yang sebenarnya memiliki kehidupan, namun di dalamnya tersimpan benih-benih penyakit berupa kejahilan (kebodohan). Hati yang sedang sakit akan mudah menjadi parah apabila tidak diobati dengan hikmah (kebijaksanaan) dan mau'idzah (nasehat). Seperti difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala: "Agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan setan, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang keras hatinya." [QS. Al-Hajj:53].

Karena sesungguhnya apa yang disisipkan oleh setan kedalam hati manusia itu, akan membuat sesuatu menjadi syubhat (sesuatu yang meragukan), seperti penyakit ragu dan sesat. Begitu hati menjadi lemah karena penyakit yang diidap, maka setanpun mudah merasuk kedalam hati lalu menghidupkan fitnah dalam hati tersebut. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafiq, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di madinah (dari menyakitimu) niscaya kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka. Kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar. "[Al-Ahzab:60].

Namun demikian hati orang-orang yang seperti itu belumlah mati sebagaimana hati orang-orang kafir dan orang-orang munafiq, akan tetapi bukan pula hati sehat, seperti sehatnya hati orang-orang yang beriman. Sebab di dalam hati mereka terdapat penyakit syubhat dan syahwat. Sebagaimana Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: "Sehingga berkeinginanlah orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya." [QS. Al-Ahzab:32].

Ciri-ciri Qalbun Maridl

Boleh jadi hati manusia sedang sakit, bahkan tanpa disadari. Lebih tragis bahwa hatinya sebenarnya mati, namun si empunya tidak menyadari.

Tanda-tanda spesifik hati yang sedang sakit atau mati adalah jika ia tidak merasa sakit dan pedih oleh goresan-goresan pisau kemaksiatan. Hal itu disebabkan karena hatinya telah rancu dan teracuni, sehingga tidak dapat lagi membedakan antara nilai kebenaran dan aqidahnya yang batil. Hal ini seperti ditafsirkan oleh Mujahid dan Qatadah tentang firman Allah yang berbunyi: "Fi Qulubihim Maradhun" [QS.Al-Baqarah:10]. artinya: "Dalam hati mereka terdapat penyakit." “Ayat ini menunjukkan adanya keraguan yang tumbuh dalam hati manusia tentang kebenaran.” Bahkan ia melihat kebenaran bagai sesuatu yang sangat bertentangan dengan kehendaknya. Kebenaran itu dilihat dari sisi lain yang terasa merugikan dirinya. sehingga dalam kondisi seperti ini ia lebih menyukai kebatilan dan kemudharatan.
Ketiga,Qalbun Mayyit
Qalbun Mayyit (hati yang mati) adalah kebalikan dari hati yang sehat, hati yang mati tidak pernah mengenal Tuhannya, tidak mencintai atau ridha kepada-Nya. dan ia berdiri berdampingan dengan syahwatnya dan memperturutkan keinginan hawa nafsunya, walaupun hal ini menjadikan Allah Subhanahu wa Ta'ala marah dan murka akan perbuatannya. Ia tidak peduli lagi apakah Allah ridha atau murka terhadap apa yang dikerjakannya, sebab ia memang telah mengabdi kepada selain Allah. Jika mencintai didasarkan atas hawa nafsu, begitu pula dengan membenci, memberi. Hawa nafsu lebih didewa-dewakan daripada rasa cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Hati jenis ini adalah hati yang jika diseru kepada jalan Allah, maka seruan itu tidaklah berfaedah sedikitpun, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menutup hati mereka. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Dan diantara mereka ada orang yang mendengar (bacaanmu), padahal kami telah meletakkan tutup di atas hati mereka sehingga mereka tidak memahaminya) dan kami letakkan sumbatan di telinganya dan jikalaupun mereka melihat segala tanda kebenaran mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata: Al-Qur'an itu tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu'." [QS. Al-An'am:25].

Ayat ini menunjukkan, bahwa ada manusia yang tidak mempergunakan hatinya untuk memahami ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan tidak mempergunakan telinganya untuk mendengar perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala. Juga tidak mau melihat kebenaran yang telah disampaikan. Seperti difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala: "(Mereka berkata:) Hati kami tertutup dari ajakan yang kamu serukan kepada kami, dalam telinga kami ada sumbatan, dan diantara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu, sesungguhnya kami bekerja pula." [QS. Fushilat:5].

Allah Subhanahu wa Ta'ala akan membiarkan mereka dalam kegelapan dan mereka sedikitpun tidak akan mendapatkan cahaya iman. "Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya. Allah menghilangkan cahaya (yang menyinari) mereka. Dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat, mereka tuli, bisu dan buta, maka mereka tidaklah kembali kepada jalan yang benar.” [Al-Baqarah:17-18].
 
 Ciri-ciri Qalbun Mayyit

1."Tarkush sholah" Berani meninggalkan sholat fardhu
2. "Adzdzanbu bil farhi" Tenang tanpa merasa berdosa padahal sedang melakukan dosa besar (QS 7:3)
3. "Karhul Qur'an" Tidak mau membaca bahkan menjauh dengan ayat-ayat Alqur'an
4. "Hubbul ma'asyi" Terus menerus ma'siyat
5. "Asikhru" Sibuknya hanya mempergunjing dan buruk sangka, serta merasa dirinya selalu lebih suci
6. "Ghodbul ulamai" Sangat benci dengan nasehat baik dan ulama
7, "Qolbul hajari" Tidak ada rasa takut akan peringatan kematian, kuburan dan akhirat
8. "Himmatuhul bathni" Gilanya pada dunia tanpa peduli halal haram yang penting kaya
9. "Anaaniyyun" tidak mau tau, "cuek" atau masa bodoh keadaan orang lain, saudara bahkan bisa jadi keluarganya sekalipun menderita
10. "Al intiqoom" Pendendam hebat
11. "Albukhlu" sangat pelit
12, "Ghodhbaanun" cepat marah karena keangkuhan dan dengki.


So, mari kita koreksi diri...segera general check up yuuuk... jangan biarkan hati kita dalam kondisi sakit, sekarat atau sampai (naudzubillah) mati. Lantas apa obatnya?

Ketika hati itu sakit karena KEMAKSIATAN, berarti obatnya adalah KETAATAN. 

Dalam sebuah lagu yang bernuansa nasehat, yang berjudul "Tombo Ati" disebutkan bahwa obat hati itu (diantaranya) adalah:
1. Membaca Al Qur'an dan maknanya
2. Sholat malam (tentunya sholat fardlu-nya juga tidak ditinggalkan yaa)
3. Berkumpul dengan orang sholeh, seperti berkumpul dalam majelis ilmu, majelis dzikir, dan sebagainya.
4. Berpuasa
5. Berdzikir

Wallohu a'lam bish showab

sumber :
  • Tazkiyatun Nufus oleh Dr. Ahmad Farid
  • Amraadlul Qulub wa Sifaauha oleh Ibnu Thaimiyah
  • dan sumber-sumber lainnya

Friday, May 10, 2013

Keistimewaan Bulan Rajab



                                                                    sumber : dari sini


Alhamdulillah hari ini kita berada di penghujung bulan Jumadil Akhir, yang artinya esok hari sudah masuk tanggal 1 Rajab 1434 H. Setiap  pergantian bulan dalam bulan-bulan Hijrah kita disunnahkan untuk berdo’a, terutama ketika melihat hilal atau bulan pada malam harinya. Do’a yang dianjurkan untuk dibaca di setiap awal bulan adalah : Allahu Akbar, Allahumma ahillahu ‘alainaa bilamni wal iimaan wassalaamati walislaam wattaufiiq lima tuhibbu watardha robbunaa waraobbuka Allahu. Artinya, Allah Maha Besar, ya Allah, tampakan bulan tanggal satu itu kepada kami dengan membawa keamanan dan keimanan, keselamatan dan Islam serta mendapat taufik untuk menjalankan apa yang Engkau senang dan rela. Tuhan kami dan Tuhanmu (wahai bulan sabit) adalah Allah. (HR. Tirmidzi 5/204 dan ad Darimi 1/336)
Sudah sering kita mendengar bahwa bulan Rajab ini adalah salah satu bulan yang cukup diistimewakan, dimana bulan ini termasuk salah satu dari empat bulan haram.
“Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana bentuknya semula di waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan diantaranya terdapat empat bulan yang dihormati, tiga bulan diantaranya berturut-turut Dzulqaidah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab Mudhar, yang terdapat diantara bulan Jumada tsaniah dan Sya’ban.” (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Bakrah)
Allah juga berfirman dalam Al Qur’an, yang artinya : “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada hari Dia menciptakan planet-planet dan bumi, diantaranya ada empat bulan terlarang. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri padanya. Perangilah orang-orang musyrik itu seluruhnya sebagaimana mereka memerangi kamu seluruhnya. Ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang memelihara diri.” (QS At Taubah 36)
Empat bulan ini disebut haram karena pada empat bulan ini diharamkan berperang, dan ini adalah ajaran yang telah ada semenjak Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il as. Dan hal ini masih terus dipelihara oleh bangsa Arab sampai masa diutusnya Nabi Muhammad SAW menjadi seorang nabi dan rasul.
Di buku-buku tafsir dan sejarah diceritakan bahwa karena ketaatan bangsa Arab terhadap ajaran ini, sampai-sampai, seandainya ada seseorang yang bertemu dengan pembunuh orang tuanya, atau saudaranya atau sanak familinya pada bulan-bulan ini, maka pertemuan ini tidak sampai menggerakkannya untuk melakukan tindakan balas dendam, padahal orang Arab pada zaman itu terkenal sangat pendendam.
Hikmah yang terkait dengan empat bulan haram ini, sebagaimana yang disebukan dalam Al Qur’an surat At Taubah 36, yaitu:
1. Fala tazhlimu fihinna anfusakum. Singkatnya, pada empat bulan ini, orang-orang yang beriman dilarang menzhalimi diri sendiri.
2. Waqatilul musyrikina kaffatan kama yuqatilunakmu kaffah. Maksudnya, kaum muslimin tidak boleh kehilangan kewaspadaannya dalam empat bulan ini, sebab bisa saja ada pihak-pihak yang tidak mengindahkan larangan berperang ini, lalu mereka menyerang kaum muslimin. Jika hal ini terjadi, kaum muslimin dibenarkan melakukan peperangan untuk membela diri.
3. Wa’lamu annaLlaha ma’al muttaqin. Maksudnya adalah bahwa kaum muslimin hendaklah terus menjaga dan meningkatkan ketaqwaannya agar tetap mendapatkan ma’iyyatuLlah (kebersamaan Allah SWT).
Maksud Menzhalimi Diri Sendiri
Yang dimaksud dengan menzhalimi diri sendiri yang dilarang oleh Allah SWT pada ayat ini adalah:
a. Tidak melakukan perbuatan baik, padahal peluang dan kesempatan terbuka baginya, dan atau
b. Melakukan perbuatan buruk, walaupun dengan alasan ada peluang dan kesempatan sekalipun, terlebih lagi jika untuk melakukan keburukan seseorang sampai ke tingkat “mengorbankan” harta, jiwa dan nyawa.
Menzhalimi Diri Sendiri Berlaku Sepanjang Tahun
Sebenarnya tindakan menzhalimi diri sendiri dilarang oleh Allah SWT sepanjang tahun.
Adapun adanya pelarangan perbuatan ini dalam empat bulan ini bersifat pengukuhan dan penegasan. Seakan-akan Allah SWT berfirman: “Janganlah kamu melakukan perbuatan menzhalimi diri sendiri kapan saja sepanjang tahun, terlebih lagi pada empat bulan haram”.
Kaum Muslimin Mesti Bersatu, Khususnya Saat Menghadapi Keculasan Musuh
Pada taujih Allah SWT yang kedua dijelaskan bahwa kaum muslimin tidak boleh kehilangan kewaspadaannya, sebab bisa jadi ada musuh yang menyerang kaum muslimin pada empat bulan haram.
Dan jika kaum muslimin diperangi oleh musuh pada empat bulan haram, maka kaum muslimin berkewajiban untuk memerangi dan melawan mereka sebagai bentuk bela diri.
Dan dalam hal ini, Allah SWT memerintahkan kepada kaum muslimin agar dalam menghadapi musuh itu mereka bersatu dan tidak berpecah belah. Istilahnya “kaffatan”. Sebab para musuh pun dalam memerangi kaum muslimin juga bersatu dan beraliansi. Mereka bersepakat untuk menjadikan kaum muslimin sebagai common enemy atau musuh bersama bagi mereka.
Hal ini memberi pengajaran bahwa kaum muslimin diperintahkan untuk terus menjaga dan meningkatkan persatuan dan kesatuan mereka, serta dilarang berpecah belah, khususnya di saat mereka sedang berperang, lebih khusus lagi di saat kaum muslimin diserang, dan lebih-lebih khusus lagi, mereka diperintahkan untuk menjaga dan meningkatkan persatuan dan kesatuan mereka di saat mereka berada di empat bulan haram. Istilah lainnya, mereka diperintahkan untuk terus melakukan konsolidasi, koordinasi dan merapatkan barisan, khususnya pada empat bulan haram ini.
Di antara wujud persatuan adalah ‘adam at-takhadzul (tidak dibenarkan saling membiarkan saudaranya diperangi musuh tanpa memberikan pertolongan, pembelaan dan dukungan apa pun).
Ma’iyyatullah (Kebersamaan Allah SWT)
Pada taujih Rabbani yang ketiga dijelaskan bahwa jika kaum muslimin terus menjaga, memelihara dan meningkatkan ketaqwaan mereka kepada Allah SWT, sehingga sifat taqwa itu telah melekat kepada mereka, dan karenanya mereka disebut muttaqin, maka mereka akan mendapatkan ma’iyyatullah (kebersamaan Allah SWT)
Yang dimaksud “kebersamaan” di sini adalah kebersamaan atau ma’iyyatullah yang bersifat khusus, dalam arti Allah SWT akan mendukung mereka, membela dan memberi kemenangan kepada mereka dalam menghadapi musuh-musuh mereka. Sebagaimana ma’iyyatullah kepada Rasulullah SAW dan Abu Bakar Ash-Shiddiq RA saat keduanya berada di dalam gua Tsur, sebagaimana diceritakan dalam Q.S. At Taubah 40.
Banyak manusia meyakini bulan Rajab sebagai bulan untuk memperbanyak ibadah, seperti shalat, puasa, dan menyembelih hewan untuk disedekahkan. Tetapi, kebiasaan ini nampaknya tidak didukung oleh sumber yang shahih. Para ulama hadits telah melakukan penelitian mendalam, bahwa tidak satu pun riwayat shahih yang menyebutkan keutamaan shalat khusus, puasa, dan ibadah lainnya pada bulan Rajab, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ibnu Hajar Al 'Asqalani dan Syaikh Yusuf Al Qaradhawi. Benar, bulan Rajab adalah bulan yang agung dan mulia, tetapi kita tidak mendapatkan hadits shahih tentang rincian amalan khusus pada bulan Rajab.

Lantas, apa yang bisa kita lakukan untuk memuliakan bulan Rajab ini??
Shaum di Bulan Rajab
Shaum dalam bulan Rajab, sebagaimana dalam bulan-bulan mulia lainnya hukumnya sunnah.
Diriwayatkan dari Mujibah al-Bahiliyah, Rasulullah aw. Bersabda:
“Puasalah pada bulan-bulan haram (mulya).” Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Imam Ahmad.
Rasulullah saw. juga bersabda:
“Kerjakanlah ibadah apa yang engkau mampu, sesungguhnya Allah tidak pernah bosan hingga kalian bosan”.

Ibnu Hajar, dalam kitabnya “Tabyinun Ujb”, menegaskan bahwa tidak ada hadits, baik sahih, hasan, maupun dha’if yang menerangkan keutamaan puasa di bulan Rajab.
Bahkan beliau meriwayatkan tindakan Sahabat Umar yang melarang mengkhususkan bulan Rajab dengan berpuasa.
Ditulis oleh Imam Asy Syaukani dalam Kitabnya, Nailul Authar, menerangkan bahwa Ibnu Subki meriwayatkan dari Muhamad bin Manshur As Sam’ani yang mengatakan bahwa tidak ada hadis yang kuat yang menunjukkan kesunahan puasa Rajab secara khusus.
Disebutkan juga bahwa Ibnu Umar memakruhkan puasa Rajab, sebagaimana Abu Bakar al-Tarthusi yang mengatakan bahwa puasa Rajab adalah makruh, karena tidak ada dalil yang kuat.
Namun demikian, sesuai pendapat Imam Asy Syaukani, bila semua hadits yang secara khusus menunjukkan keutamaan bulan Rajab dan disunahkan puasa di dalamnya kurang kuat untuk dijadikan landasan, maka hadits-hadits yang umum, seperti yang disebut di atas, itu cukup menjadi hujah atau landasan.
Di samping itu, karena juga tak ada dalil yang kuat yang memakruhkan puasa di bulan Rajab.
Do’a Bulan Rajab
Bulan Rajab merupakan starting awal untuk menghadapi Bulan Suci Ramadhan. Subhanallah, Rasulullah saw. menyiapkan diri untuk menyambut Bulan Suci Ramadhan selama dua bulan berturut sebelumnya, yaitu bulan Rajab dan bulan Sya’ban. Dengan berdoa dan memperbanyak amal shalih.
Do’a keberkahan di bulan Rajab. Bila memasuki bulan Rajab, Nabi saw. mengucapkan, “Allaahumma Baarik Lana Fii Rajaba Wa Sya’baana, Wa Ballighna Ramadhaana. “Ya Allah, berilah keberkahan pada kami di dalam bulan Rajab dan Sya’ban serta sampaikanlah kami kepada bulan Ramadhan.”
Hadits di atas disebutkan dalam banyak keterangan, seperti dikeluarkan oleh Abdullah bin Ahmad di dalam kitab Zawaa’id al-Musnad (2346). Al-Bazzar di dalam Musnadnya -sebagaimana disebutkan dalam kitab Kasyf al-Astaar- (616). Ibnu As-Sunny di dalam ‘Amal al-Yawm Wa al-Lailah (658). Ath-Thabarany di dalam (al-Mu’jam) al-Awsath (3939). Kitab ad-Du’a’ (911). Abu Nu’aim di dalam al-Hilyah (VI:269). Al-Baihaqy di dalam Syu’ab (al-Iman) (3534). Kitab Fadhaa’il al-Awqaat (14). Al-Khathib al-Baghdady di dalam al-Muwadhdhih (II:473).
Memperbanyak amal shaleh, seperti shaum sunnah, terutama di bulan Sya’ban. Diriwayat oleh Imam al-Nasa’i dan Abu Dawud, disahihkan oleh Ibnu Huzaimah. Usamah berkata pada Nabi saw.
“Wahai Rasulullah, saya tidak melihat Rasul melakukan puasa (sunnah) sebanyak yang Engkau lakukan dalam bulan Sya’ban.’ Rasul menjawab: ‘Bulan Sya’ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadhan yang dilupakan oleh kebanyakan orang. Di bulan itu perbuatan dan amal baik diangkat ke Tuhan semesta alam, maka aku ingin ketika amalku diangkat, aku dalam keadaan puasa.” Allahu a’lam
“Allahumma baarik lanaa fii Rojab wa Sya’ban wa ballignaa Romadhon ”
Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban dan perjumpakanlah kami dengan bulan Ramadhan.