Friday, April 5, 2013

Berburu Pahala Ketika Haid

sumber gambar : dari sini


Haid sering diistilahkan dengan “halangan”. Maksudnya adalah orang yang mendapat haid berhalangan untuk melakukan sholat dan beberapa ibadah lain. Istilah halangan ini harusnya dipahami hanya untuk ibadah yang jelas larangannya dikerjakan saat haid, dan bukan berarti menghalangi untuk tetap mendulang pahala amal sholeh sebanyak-banyaknya. Diperlukan kreatifitas untuk bisa mendulang pahala ketika beberapa ibadah terhalang untuk dilakukan.

Meski “menghalangi”, tapi haid punya hikmah karena apa yang telah diatur oleh Allah swt tidak ada yang sia-sia. Di antara hikmah tamu bulanan yang menghampiri kaum wanita ini, seperti yang ditulis oleh Syaikh Utsaimin dalam Fid Dimaa’ Ath-Thabii’iyah Lin Nisaa’.

Adapun hikmahnya, bahwa karena janin yang ada didalam kandungan ibu tidak dapat memakan sebagaimana yang dimakan oleh anak yang berada di luar kandungan, dan tidak mungkin bagi si ibu untuk menyampaikan sesuatu makanan untuknya, maka Allah Ta’ala telah menjadikan pada diri kaum wanita proses pengeluaran darah yang berguna sebagai zat makanan bagi janin dalam kandungan ibu tanpa perlu dimakan dan dicerna, yang sampai kepada tubuh janin melalui tali pusar, dimana darah tersebut merasuk melalui urat dan menjadi zat makanannya. Maha Mulia Allah, Dialah sebaik-baik Pencipta.

Agar bisa mendulang pahala selagi haid, maka harus kita ketahui dulu apa saja yang ibadah yang terhalang dilakukan semasa haid. Setelah itu kita bisa maksimalkan ibadah yang tidak terlarang untuk dikerjakan.

Ibadah yang terlarang dilakukan saat haid adalah:

1. Sholat.
Dari Aisyah ra berkata, Fatimah binti Abi Hubaisy mendapat darah istihadha, maka Rasulullah SAW bersabda kepadanya, Darah haid itu berwarna hitam dan dikenali. Bila yang yang keluar seperti itu, janganlah shalat. Bila sudah selesai, maka berwudhu’lah dan lakukan shalat. .
Dari Aisyah ra. berkata, Di zaman Rasulullah SAW dahulu kami mendapat haid, lalu kami diperintahkan untuk mengqada` puasa dan tidak diperintah untuk mengqada` salat. .
Selain itu juga ada hadis lainnya:
`Dari Fatimah binti Abi Khubaisy bahwa Rasulullah SAW bersabda, Bila kamu mendapatkan haid maka tinggalkan salat.

2. Puasa
Wanita yang sedang mendapatkan haid dilarang menjalankan puasa dan untuk itu ia diwajibkannya untuk menggantikannya dihari yang lain.
Dari Abi Said Al-Khudhri ra. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, Bukankah bila wanita mendapat hatdh, dia tidak boleh shalat dan puasa?

3. Mandi dan Berwudhu’
As Syafi`iyah dan al-Hanabilah mengatakan bahwa `wanita yang sedang mendapatkan haid diharamkan berwudu`dan mandi janabah. Maksudnya adalah bahwa seorang yang sedang mendapatkan haid dan darah masih mengalir, lalu berniat untuk bersuci dari hadats besarnya itu dengan cara berwudhu’ atau mandi janabah, seolah-olah darah haidnya sudah selesai, padahal belum selesai.
Berbeda dengan mandi yang tidak diniatkan untuk bersuci dari hadats besar atau kecil, itu bukan halangan.

4. Tawaf
Seorang wanita yang sedang mendapatkan haid dilarang melakukan tawaf. Sedangkan semua praktek ibadah haji tetap boleh dilakukan. Sebab tawaf itu mensyaratkan seseorang suci dari hadas besar.
Dari Aisyah ra. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, Bila kamu mendapat haid, lakukan semua praktek ibadah haji kecuali bertawaf di sekeliling ka`bah hingga kamu suci. (HR Muslim)

5. Berhubungan Suami Istri
“Oleh sebab itu, hendaklah kalian menjauhkan diri dari wanita di waktu haid, dan janganlah kalian mendekati mereka sebelum mereka suci “(Al-Baqoroh: 222)
Itu adalah amalan-amalan yang disepakati ulama bahwa terlarang dilakukan saat haid.

6. Menyentuh Mushaf
Allah SWT berfirman di dalam Al-Quran Al-Kariem tentang menyentuh Al-Quran: “Dan tidak menyentuhnya kecuali orang yang suci “(QS. Al Waqi’ah: 79)
Tetapi untuk membaca Qur’an, para ulama berbeda pendapat. Ada yang membolehkan dan ada yang melarang.
Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Diperbolehkan bagi wanita haid dan nifas untuk membaca Al Qur’an menurut pendapat ulama yang paling kuat. Alasannya, karena tidak ada dalil yang melarang hal ini. Namun, seharusnya membaca Al Qur’an tersebut tidak sampai menyentuh mushaf Al Qur’an. Kalau memang mau menyentuh Al Qur’an, maka seharusnya dengan menggunakan pembatas seperti kain yang suci dan semacamnya (bisa juga dengan sarung tangan, pen). Demikian pula untuk menulis Al Qur’an di kertas ketika hajat (dibutuhkan), maka diperbolehkan dengan menggunakan pembatas seperti kain tadi.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 10: 209-210)

Dari daftar amalan yang dilarang di atas, maka tampak jelas sebenarnya ada banyak amalan yang tidak terlarang untuk dilakukan. Seperti antara lain:

1. Berdzikir.
Hakikat sholat adalah untuk berdzikir kepada Allah. Tapi larangan sholat tidak berarti terlarang untuk berdzikir kepada Allah. Berdzikir bisa menjadi amalan pengganti sholat agar kita bisa mendulang pahala sebanyak-banyaknya saat haid.
Berdzikir sendiri diperlukan oleh wanita haid karena wanita yang sedang berhalangan biasanya memiliki mood yang tidak stabil. Dengan dzikir, maka hati akan tenang. Sehingga ketidak-stabilan mood bisa diredam.

2. Bersedekah dan Memberi Makan Orang Miskin.
Haid menghalangi muslimah untuk berpuasa. Penggantinya, bisa saja kita membatalkan “puasa” orang miskin yang lapar karena ketidak-punyaannya. Hikmah puasa salah satunya adalah agar kita merasakan apa yang dirasakan oleh orang yang tidak punya. Dengan begitu, akan memicu diri kita untuk bersimpati dan mencoba berbagi dengan mereka. Bila kita terbiasa berpuasa sunnah, maka saat haid kita bisa mengaplikasikan hikmah puasa tersebut.

3. Menjaga Kebersihan
Karena hadits yang sudah kita hafal, bahwa kebersihan itu sebagian dari iman, maka tidak ada alasan untuk tetap menjaga kebersihan saat mandi wajib dan berwudhu’ terlarang. Mandi biasa yang tidak diniatkan untuk membersihkan hadats besar tentu tidak terlarang dilakukannya. Dan mandi yang asal hukumnya mubah itu tentu bisa menjadi berpahala manakala kita niatkan untuk beribadah kepada Allah. Karena itu, menjaga niat menjadi penting. Selalu hadirkan niat kebaikan pada amalan-amalan mubah sekalipun, agar kita selalu mendulang pahala.

4. Ihram
Memang tawaf terlarang melakukannya saat haid, tapi ihram tidak. Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam memerintahkan Aisyah untuk mandi saat hendak ihram untuk haji padahal saat itu dia sedang haid. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Muslim.

5. Melayani Suami
Berhubungan suami istri memang mendapatkan pahala. Rasulullah bersabda, “Bukankah Allah telah menjadikan untukmu sesuatu yang dapat disedekahkan? Yaitu, setiap kali tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, menyuruh pada kebaikan adalah sedekah, melarang kemungkaran adalah sedekah, dan hubungan intim kalian (dengan isteri) adalah sedekah.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah salah seorang di antara kami melampiaskan syahwatnya dan dia mendapatkan pahala?” Rasulullah saw. menjawab, “Bagaimana pendapat kalian jika ia melampiaskan syahwatnya pada yang haram, apakah ia berdosa? Demikian juga jika melampiaskannya pada yang halal, maka ia mendapatkan pahala.” (HR. Muslim)
Tapi walau terhalang untuk melakukan hubungan suami istri, masih bisa meraih pahala dengan melayani suami dengan optimal. Karena pelayanan kepada suami pun terhitung sedekah.

6. Berinteraksi dengan Qur’an dengan cara mengulang hafalan, mendengar bacaan Qur’an, dan mentadaburinya.
Cara membaca Qur’an tanpa menyentuhnya salah satunya adalah dengan cara muroja’ah hafalan Qur’an. Mintalah suami untuk memeriksa hafalan anda. Selama sepekan waktu haid bisa dimaksimalkan dengan mengulang hafalan-hafalan qur’an.
Selain itu, tidak ada larangan untuk mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur’an. Hafalan bisa bertambah, dan bacaan pun bisa diperbaiki.
Selain itu tidak ada larangan juga untuk mentadaburi ayat-ayat Al-Qur’an.

Jadi, ada banyak jalan untuk mendulang pahala saat haid.

(dari berbagai sumber)
Sumber : Islamedia

Adab Saat Marah

 sumber gambar : dari sini

Jangan marah!" begitu sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang diriwayat kan Imam Bukhari.

Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang bisa saja marah. Marah adalah sesuatu yang manusiawi. Lalu apa makna hadis Nabi SAW itu? Ibnu Hajar dalam Fathul Bani menjelaskan makna hadis itu: "AlKhath thabi berkata, "Arti perkataan Rasu lullah SAW 'jangan marah' adalah menjauhi sebab-sebab marah dan hendaknya menjauhi sesuatu yang meng arah kepadanya." Menurut 'Al-Khaththabi, marah itu tidaklah terlarang, karena itu adalah tabiat yang tak akan hilang dalam diri manusia.

Nah, apa yang harus dilakukan seorang Muslim ketika marah? Syekh Abdul Azis bin Fathi as-Sayyid Nada dalam kitab Mausuu'atul Aadaab alIslamiyah, mengungkapkan hendak nya seorang Muslim memperhatikan adab-abad yang berkaitan dengan marah. Berikut adab-adab yang perlu diperhatikan terkait marah.

Pertama, jangan marah, kecuali karena Allah SWT. Menurut Syekh Sayyid Nada, marah karena Allah merupakan sesuatu yang disukai dan mendapatkan amal. Misalnya, marah ketika menyaksikan perbuatan haram merajalela. Seorang Muslim yang marah karena hukum Allah diabaikan merupakan contoh marah karena Allah.

"Seorang Muslim hendaknya menjauhi kemarahan karena urusan dunia yang tak mendatangkan pahala," tutur Syekh Sayyid Nada. Rasulullah SAW, kata dia, tak pernah marah karena dirinya, tapi marah karena Allah SWT. Nabi SAW pun tak pernah dendam, kecuali karena Allah SWT.

Kedua, berlemah lembut dan tak marah karena urusan dunia. Syekh Sayyid Nada mengungkapkan, sesungguhnya semua kemarahan itu buruk, kecuali karena Allah SWT. Ia mengingatkan, kemarahan kerap berujung dengan pertikaian dan perselisihan yang dapat menjerumuskan manusia ke dalam dosa besar dan bisa pula memutuskan silaturahim.

Ketiga, mengingat keagungan dan kekuasaan Allah SWT. "Ingatlah kekuasaan, perlindungan, keagungan, dan keperkasaan Sang Khalik ketika sedang marah," ungkap Syekh Sayyid Nada. Menurut dia, ketika mengingat kebesaran Allah SWT, maka kemarahan akan bisa diredam. Bahkan, mungkin tak jadi marah sama sekali. Sesungguhnya, papar Syekh Sayyid Nada, itulah adab paling bermanfaat yang dapat menolong seseorang untuk berlaku santun (sabar).

Keempat, menahan dan meredam amarah jika telah muncul. Syekh Sayyid Nada mengungkapkan, Allah SWT menyukai seseorang yang dapat menahan dan meredam amarahnya yang telah muncul. Allah SWT berfirman, " … dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memberi maaf orang lain, dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS Ali Imran:134).

Menurut Ibnu Hajar dalam Fathul Bahri, ketika kemarahan tengah me muncak, hendaknya segera menahan dan meredamnya untuk tindakan keji. Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa yang dapat menahan amarahnya, sementara ia dapat meluapkannya, maka Allah akan memanggilnya di hadapan segenap mahluk. Setelah itu, Allah menyuruhnya memilih bidadari surga dan menikahkannya dengan siapa yang ia kehendaki." (HR Ahmad).

Kelima, berlindung kepada Allah ketika marah. Nabi SAW bersabda, "Jika seseorang yang marah mengucapkan; 'A'uudzu billah (aku berlindung kepada Allah SWT, niscaya akan reda kemarahannya." (HR Ibu 'Adi dalam al-Kaamil.)

Keenam, diam. Rasulullah SAW bersabda, "Ajarilah, permudahlah, dan jangan menyusahkan. Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam." (HR Ahmad). Terkadang orang yang sedang marah mengatakan sesuatu yang dapat merusak agamanya, menyalakan api perselisihan dan menambah kedengkian.

Ketujuh, mengubah posisi ketika marah. Mengubah posisi ketika marah merupakan petunjuk dan perintah Nabi SAW. Nabi SAW bersabda, "Jika salah seorang di antara kalian marah ketika berdiri, maka hendaklah ia duduk. Apabila marahnya tidak hilang juga, maka hendaklah ia berbaring." (HR Ahmad).

Kedelapan, berwudhu atau mandi. Menurut Syekh Sayyid Nada, marah adalah api setan yang dapat mengakibatkan mendidihnya darah dan terbakarnya urat syaraf. "Maka dari itu, wudhu, mandi atau semisalnya, apalagi mengunakan air dingin dapat menghilangkan amarah serta gejolak darah," tuturnya, Kesembilan, memeberi maaf dan bersabar. Orang yang marah sudah selayaknya memberikan ampunan kepada orang yang membuatnya marah. Allah SWT memuji para hamba-Nya "... dan jika mereka marah mereka memberi maaf." (QS Asy-Syuura:37).

Sesungguhnya Nabi SAW adalah orang yang paling lembut, santun, dan pemaaf kepada orang yang bersalah. "... dan ia tak membalas kejahatan dengan kejahatan, namun ia memaafkan dan memberikan ampunan..." begitu sifat Rasulullah SAW yang tertuang dalam Taurat, kitab yang diturunkan Allah kepada Nabi Musa AS.

sumber : republika.co.id

Fiqh Thaharah / Bersuci

FIQH SUNNAH (SAYYID SABIQ)

THAHARAH/ BERSUCI


A. Jenis-jenis air
1. Air Mutlak (suci lagi mensucikan): air hujan salju, es dan air embun, air laut, air telaga zam-zam, air yang berubah karena lama/ berlumut/ terkena daun-daun kayu.
2. Air musta’mal (air yang telah terpakai/ wudhu atau mandi): hukumnya suci lagi mensucikan.
3. Air yang bercampur dengan barang yang suci: bercmpur dengan sabun, tepung, lumut: hukumnya suci selama kemutlakannya masih terpelihara
4. Air yang bernajis: bila najis itu mengubah salah satu dari rasa, warna, atau baunya. Maka tidak dapat dipakai untuk bersuci. Yang kedua bila air tetap dalam keadaan mutlak, artinya salah satu dari sifat air diatas tetap tidak berubah makahukumnya suci dan mensucikan

B Asy-syu’ar (sisa minuman)
1. Sisa minuman manusia: suci, baik yang minumnya orang muslim, kafir/ dalam keadaan junub/ haid.
2. Sisa minum binatang yang dimakan dagingnya (sapi, kerbau): suci karena air liurnya keluar dari daging yang suci.
3. Sisa minuman Bagal, Keledai, Binatang Buas: boleh/ suci lagi mensucikan.
4. Sisa minuman kucing: suci (kucing itu tidak najis)
5. Sisa minuman anjing dan babi: Hukumnya najis.

C. An Najasah(Najis)
1. Pengertian: Kotoran yang setiap muslim wajib mensucikan diri darinya, QS 74:4
2. Jenis-jenis najis: a) bangkai, kecuali bangkai ikan belalang semut lebah, tulang bangkai, tanduk, bulu rambut, kuku, kulit , yang tidak mempunyai darah mengalir adalah halal/ suci. b)daging Bagi, c) darah yang mengalir dari hewan yang disembelih/ darah haid. d) muntah kencing dan kotoran manusia. e) Wadi: air putih kental yang mengiringi kencing. f) Madzi: air putih bergetah ketika teringat senggama/ ketika bercumbu rayu. g) Mani: ada yang berpendapat suci, dan ada yang berpendapat najis. h) kencing dan kotoran binatang yang dimakan dagingnya: yang 2 pendapat. i) binatang jalalah: najis, tetapi jika dikurung beberapa waktu hingga tidak berbau maka boleh dimakan. J) khamar/ arak : haram diminum, tetapi tidak najis di pegang. k) anjing: najis,
3. Mensucikan badan dan pakaian: dicuci, jika sulit dihilangkan maka dimaafkan.
4. Menyucikan Tanah: dengan menumpahkan air diatasnya/ mengeringkannya.
5. membersihkan mentega yang terkena bangkai: diambil dan dikeruk sekeliling mentega yang terkena bangkai, sisanya bisa dimakan.
6. Mensucikan kulit binatang: sisamak
7. Mensucikan cermin pedang dan lainnya: menggosok hingga hilang najisnya.
8. Menyucikan terompah: menggosok2 nya ke tanah.

Hal-hal yang sering terlalaikan:
1. tali jemuran yang dipakai untuk menjemur kain yang bernajis, setelah kering boleh dipakai untuk menjemur pakaian bersih.
2. jika seseorang tertimpa suatu benda / air jangan mencari-cari apa yang menimpanya itu.
3. jika kaki atau pinggir pakaian bawah basah, maka tidak wajib berusaha untuk mengetahuinya.
4. apapun yang terkena tanah dijalanan tidak wajib dicuci.
5. bila setelah selesai shalat mengetahui ada najis dipakainya atau lupa / tidak sanggup membersihkannya, maka shalatnya sah.
6. orang yang tidak mengetahui tempat najis di pakaiannya, maka wajib mencuci seluruh kain.
7. bila seseorang ragu yang mana diantara pakain-pakaian yang terkena najis, maka ambilah salah satu, dan gunakan untuk shalat satu kali saja.

Buang Air:
1. tidak membawa barang yang memuat nama Allah kecuali takut hilang
2. menjauhkan dan menyembunyikan diri
3. tidak menghadap kiblat / membelakangi kiblat kecuali di tempat tertutup.
4. membaca basmalah dan isti’adah
5. tidak berbicara sama sekali ketika didalam jamban.
6. menjauhi dari lubang (karena tempat kediaman jin)
7. menjauhi tempat orang bernaung, jalanan/ tempat persinggahan.
8. tidak boleh buang air di tempat mandi, tempat air tergenang atau air mengalir.
9. tidak boleh kencing sambil berdiri
10. wajib mencuci najis pada kemaluan
11. tidak mencuci dengan tangan kanan.
12. menggosok tangan dengan tanah/ sabun/ sejenisnya.
13. memercikkan air pada kemaluan atau ke dalam celana dalam (untuk menghilangkan keraguan)
14. mendahulukan kaki kiri saat memasuki jamban, keluar dengan kaki kanan.

Sunnah-sunnah Fitrah:
1. berkhitan
2. mencukur bulu kemaluan
3. memotong kuku
4. memendekan kumis
5. melebatkan/ memanjangkan jenggot.(tidak boleh dipangkas)
6. merapikan rambut
7. membiarkan uban/ tidak boleh dicabut.
8. menccelupkan uban kedalam inai (diwarnai boleh asal tidak dengan warna hitam)
9. memakai wangi-wangian.

WUDHU

A. DALIL
- Qs Al Maidah: 6
- Hadit: Allah Tidak menerima shalat yang salah seorang diantaramu bila ia berhadats, sehingga ia berwudhu terlebih dahulu (HR. bukhari, abu Dawud, Muslim, Tirmzi)

B. KEISTIMEWAAN
• dosa-dosa akan keluar dari setiap anggota Wudhu
• menghapus dosa, dan memurnikan pahala
• mengangkat derajat, perjuangan dijalan Allah
• diakhirat akan datang dalam keadaan cemerlang/ bercahaya, akan dipanggil Rasulullah

C. FARDU/ WAJIB2 DALAM WUDHU
• niat/ kemauan yang tertuju untuk melakukan suatu perbuatan.
• Membasuh muka
• Membasih kedua tangan hingga siku
• Menyapu kepala (seluruh kepala/ surban saja/ kerudung saja/ ubunubun serta surban.
• Membasuh kaki
• Tertib, berurutan

D. SUNNAH-SUNNAH WUDHU
• Basmalah
• Menggosok gigi/ bersiwak
• Mencuci kedua telapak tangan, sebelum memuali wudhu
• Berkumur-kumur 3X
• Istinsyak 3X (memasukan air ke hidung)
• Menyelang-nyelangi jenggot
• Menyelang-nyelangi anak jari (tangan dan kaki)
• Membasung anggota wudhu 3X
• Tayamum/ mendahulukan yang kanan
• Monggosoknya
• Muwalat, berturut-turut dasi satu anggota yang dibasuh.
• Menyapu kedua telinga
• Memanjangkan cahaya
• Hemat air
• Berdoa “Asy hadualla illaha illlallah, wa asy hadu anna muhammadan ‘abduhu warosuluh” Allahumaj ‘al ni minattawabinna waj’alni minal mutatohhirin”
• Shalat sunnah wudhu

E. MAKRUH WUDHU
• Meninggalkan sunnah-sunnah wudhu

F. PERKARA-PERKARA YANG MEMBATALKAN WUDHU
• Kencing
• Kentut
• Keluarnya mani, madzi, wadi
• Tidur nyenyak/ tidak sadar, kecuali tidak bergeser dari tempat duduknya, walaupun sampai terayun kepala karena kantuk.
• Hilang alak
• Menyentuh kemaluan tanpa alas

G. HAL-HAL YANG TIDAK MEMBATALKAN WUDHU
• Menyentuh perempuan tanpa alas, batas/ penghalang
• Keleuar darah dari yang bukan jalurnya ( luka, bekas bekam, kaluar dari hidung)
• Muntah hingga memenuhi mulutnya
• Memakan daging unta.
• Kebimbangan tentang hadas, maka jangan diperdulikan.
• Tertawa terbahak-bahak,
• Memandikan mayat.

H. PERKARA2 YANG WAJIB DIDAHULUKAN dengan wudhu
• Ketika hendak shalat, (shalat fardu, sunnah, mayat dll)
• Ketika akan tawaf ke Baitullah (mengelilingi ka’bah)
• Menyentuh Mushaf (namun menurut Ibnu abbas, Syabi, Dhahhak, said bin ali, Mu’ayyid billah, Dawud, Ibnu Hajm, Hammad bin Sulaiman berpendapat orang yang berhadas kecil boleh menyentuh mushaf)

I. BEBERAPA KEADAAN DYANG DISUNAHKAN SUPAYA BERWUDHU.
• Ketika berzikir
• Ketida hendak tidur
• Ketika junub, hendak makan, minum, atau hendak mengulangi senggama.
• Sunnah berwuddu sebelum mandi (baik mansi sunnah/ wajib)
• Setelah memakan makanan yang dimasak dengan panasnya api.
• Memperbaiki wudhu setiap ingin mengerjakan shalat.

J. BEBERAPA PERKARA PENTING YANG PERLU D IPERHATIKAN KETIKA BERWUDHU
• Boleh mengucapkan katakata yang tidak terlarang
• Anggapan bahwa batal ketika membaca doa saat membasuh anggota wudhu adalah tidak beralasan. Doa yang dibaca adalah yang telah disebutkan.
• Jika bimbang dengan jumlah bilangan basuhannya maka hendaklah mengambil jumlah bilangan yangn paling sedikit.
• Jika kulit kita tertutup lilin atau sejenisnya, maka wudhunya tidak sah, kecualli inai / pacar yang tidak menghalangi air ke kulit, maka wudunya sah.
• Perempuan istihadhah, penderita penyakit kencing –kentut yang berkelanjutan dan penyakit-penyakit lainnya, maka hendaknya berwudhu ketika akan shalat, dengan syarat halangan itu terjadi pada setiap waktu atau tak mungkin ditentukan waktunya, jadi walau dengan keadaan demikian shalatnya tetap sah.
• Boleh meminta bantuan kepada orang lain ketika berwudhu.
• Seorang yang berwudhu boleh mengeringgkan anggota badannya, dengan handung atau kan lainnya. Baik musim panas/ dingin.

Apakah Sabar Itu?

APAKAH SABAR ITU ?


Bismillaahirrohmanirrrohim
Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam, yang telah menciptakan, memiliki dan mengatur dunia seisinya. Sholawat serta Salam semoga tetap abadi tercurah keharibaan Nabi pilihan Nabi Muhammad SAW ,keluarga, shohabat dan pengikutnya.....Amien.


Kita biasa mendengar kata kata Sabar, yah... Sabar dalam Islam di bagi menjadi tiga bagian : Sabar menjauhi maksiat, sabar menjalankan perintah Allah dan terakhir sabar menerima cobaan / ujian dari Allah .

Nah yang anda kunjungi sekarang sekedar tulisan saya mengenai sabar menghadapi ujian / cobaan hidup yang kian hari kita rasakan semakin menghimpit, hingga banyak sekali mereka mereka yang kurang bisa bersabar akhirnya mengambil jalan pintas. Tulisan ini masih jauh dari sempurna namun mudah mudahan bermanfaat bagi yang kebetulan sedang dilanda ujian / cobaan dari Allah , semoga kita semua bisa bersabar.


Ketahuilah bahwa hidup adalah merupakan perpindahan dari satu cobaan ke cobaan yang lain. Cobaan atau ujian tidak selalu identik dengan kesusahan, sakit, bangkrut, kemelaratan dll yang tidak menyenangkan hati, tapi cobaan bisa juga berupa kemudahan, kesuksesan, harta berlimpah, jabatan yang tinggi.

Cobaan / Ujian bisa menjadi Musibah atau Nikmat tergantung cara kita menyikapi (menerima) kesusahan atau kemudahan itu. Hakikat musibah / bencana adalah segala sesuatu (baik kesusahan maupun kemudahan) yang bisa menjauhkan kita dari Allah SWT , sedang hakikat Nikmat adalah segala sesuatu (baik kesusahan maupun kemudahan) yang bisa mendekatkan kita kepada Allah SWT.



Kalau diuji oleh Allah SWT dengan kesusahan kita menjadi semakin jauh dari Allah (menyikapi dengan minder, frustasi, atau berburuk sangka kepadaNya), maka kita gagal menghadapi ujian itu, sehingga menjadi Musibah , Seperti kata orang'' sudah jatuh tertimpa tangga''.


Sebaliknya jika di uji dengan kesusahan, kita semakin mendekat kepada Allah (menyikapi dengan tetap Khusnudlon kepadaNya, introspeksi diri, Taubat, memperbaiki diri), maka kita sukses menghadapi ujian itu, sehingga menjadi Nikmat dan Anugerah.


Begitu juga , jika di uji dengan kemudahan ,kesuksesan, harta melimpah, jabatan yg tinggi menjadikan kita semakin jauh dari Allah (menjadi ujub / membanggakan diri, sombong, takabbur, pelit), maka kita gagal menghadapi ujian / cobaan itu dan kesuksesan yang kita terima Hakikatnya adalah Musibah / atau bencana bagi kita.

Akan tetapi jika di uji dengan semua kemudahan kita semakin (bersyukur, tawaddhu' ,suka menolong orang lain), maka kita sukses menghadapi ujian itu, sehingga segala yang telah kita terima menjadi Nikmat dan Anugerah.




SABAR DALAM SETIAP MASALAH YANG KITA HADAPI




Semoga kita semua di karuniai nikmatnya bersabar, karena kesabaran mempunyai nilai yang tinggi dalam kehidupan. Kedudukan seseorang di sisi Allah, kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya bisa di tempuh dengan kesabaran sebagaimana tertulis di dalam Kitab SuciNya : " Sesungguhnya Allah bersama orang orang yang sabar".


Jadikanlah Sabar dan Sholat sebagai kunci pembuka pertolongan Allah. Adalah suatu kesalahan besar jika kita mengatakan "Sabar itu ada batasnya" ,berarti kita membatasi pahala. Mengatakan Sabar ada batasnya , menandakan kita kurang sabar dalam bersabar. Sabar akan membuahkan hasil yang gemilang walau awalnya mungkin pahit dan getir. Sabar akan menghasilkan sesuatu yang mempesona yang tiada terputus. Oleh karena itu jika kita ingin menikmati hidup, kita harus menikmati setiap kejadian yang menimpa kita. Karena orang orang yang beriman tidak akan pernah merugi. Di beri Nikmat dia bersyukur, di beri Musibah dia bersabar. Syukur berarti kebaikan bagi dirinya, sabar juga kebaikan bagi dirinya. Maka tidak ada yang perlu kita takutkan dalam hidup ini, kecuali kita tidak punya rasa syukur dan tidak bisa bersabar.


Sabar bagi kita bukan berarti pasrah dan menyerah pada nasib, sabar adalah kegigihan kita untuk tetap berpegang teguh kepada ketetapan Allah (ketetapan hati dalam menerima ketentuan Allah , karena apapun yang menimpa kita adalah ketentuanNya). (Jadi kesabaran itu adalah sebuah proses aktif , kolaborasi antara Ridlo (rela menerima Takdir Allah) dan Ikhtiar (mencari solusi). Kesabaran bukan proses diam dan pasif, melainkan proses aktif, yaitu akal aktif, tubuh aktif dan iman yang aktif. Justru dari Musibah yang di sikapi dengan kesabaran akan turun rahmat dan petunjuk dari Allah .


Di timpa musibah kebangkrutan, banyak hutang, di hina orang, di tinggal istri / suami / anak, dilawan anak buah, dibenci keluarga, di tekan atasan, sakit yang tak kunjung sembuh dll . Semua orang pernah mengalaminya, paling tidak beberapa jenis dari peristiwa itu, meskipun sekali dua kali, tetapi bahkan orang yang tidak pernah kena masalah dan cobaan mungkin saja dia tidak di sukai oleh Allah SWT, Seperti konon kata riwayat, Fir'aun raja Mesir kuno tidak pernah sakit seumur hidupnya, bahkan kesandung batu saja dia tidak pernah sampai sampai akhirnya Fira'un mengaku sebagai Tuhan karena tidak pernah sakit , entah benar atau salah cerita itu yang jelas andai itu benar kita semua tahu bagaimana sepak terjang Fir'aun dan bagaimana pula akhir kehidupannya.

Hal itu bertolak belakang dengan riwayat para Nabi dan para ''Kekasih Allah'' yang sarat dengan penderitaan dan penindasan bahkan sampai pembunuhan, seperti kisah Nabi Ayyub yang sekujur tubuhnya dilanda penyakit, Nabi Zakariya dan Nabi Yahya, Nabi Jarjis yang di bunuh oleh kaumnya, bahkan kisah Nabi Muhammad SAW yang penuh dengan liku liku perjuangan dan penderitaan juga kisah para Ulama dan orang orang besar lainnya.

Masalah dan cobaan adalah bagian dari penggugur dosa. Dalam mutiara hadits di sebutkan : " Tidaklah seseorang merasakan sakit di hina atau tertusuk duri kecuali Allah menggugurkan dosanya, bagai gugurnya dedaunan" ( aw kamaa qoola).

Jadi terkena masalah dan cobaan itu proses pengurangan /pengguguran dosa. Logikanya semakin besar masalah yang di hadapi semakin besar pula pahala yang di terima jika bisa bersabar dan semakin besar pula dosa dosa yang tergugurkan.




BAGAIMANA SABAR MENGHADAPI MASALAH DAN COBAAN ?



I. Sabar yang pertama , kalau kita suatu saat diuji dengan masalah , kita harus sadar bahwa kesabaran yang pertama yang harus di miliki adalah Khusnudhon (berbaik sangka) kepada Allah, karena seburuk buruk perilaku adalah berburuk sangka kepada Allah.

Berbaik sangka kepadaNya karena tubuh kita adalah milik Allah , bukan milik kita. Kalau Allah mau menimpakan masalah pada kita , sehebat apapun diri kita tetap terkena. Allah berkuasa mutlak pada diri kita dan Allah dengan mudahnya berbuat (berkehendak) apa saja. " Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya".


Yang menciptakan semua syaraf kita adalah Allah, dan Allah Tahu rasa sakit (penderitaan) mengalami semua masalah itu, justru Dia yang menciptakan rasa sakit mengalami masalah beserta semua penderitaan yang mungkin dialami manusia.

apa yang telah menimpa kita masih belum apa apa karena Allah bisa saja menambahi penderitaan kita , masih banyak jenis penderitaan yang ada dalam perbendaharaan kekuasaanNya kalau kita nggak mau bersabar , apa kita nggak takut kalau Dia murka lalu menambahi atau tidak berkenan menghilangkan penderitaan itu, kita bisa apa ?.


II. Sabar yang kedua adalah sabar untuk tidak mengeluh, Sebenarnya menceritakan penderitaan kita kepada orang lain adalah mencerminkan upaya kita daam menyelesaikan masalah .

Tetapi kita perlu menceritakan sesuatu seperti kenyataanya, tanpa menambah nambahi, agar kita terhindar dari sikap mengeluh. Jangan keluh kesah apalagi sampai mendramatisir lebih lebih memprotes perbuatan Allah yang Maha Adil. Segala penderitaan tidak akan berakhir kalau hanya di ratapi. Sesuatu masalah tidak akan membuat seseorang jadi hina kalau disikapi dengan akhlak mulia.


III. Sabar yang ketiga adalah sabar menafakuri hikmah tiap masalah dan cobaan. Tidak ada satupun perbuatan Allah yang sia sia, semua berjalan persis seperti kehendakNya. Setiap masalah itu ada hikmahnya, maka evaluasi dan renungkanlah, mungkin kita terlalu sibuk, melupakan keluarga, orang lain, melupakan Allah sehingga kita di ingatkan dengan di beri suatu masalah atau cobaan.

Seharusnya kita evaluasi diri, introspeksi apa yang telah kita lakukan, Apa ketika kita jaya, kita masih ingat pada mereka yang dhu'afa ? Apakah selama ini kita mengingat Tuhan ? apa kita lalai berderma ? kalau sejak kecil kita menderita, apakah usaha kita sudah maksimal ?. Kalau sudah ketemu jawabannya, lalu kita akan berjuang dengan Ikhtiar untuk sukses atau sembuh dari sakit.


IV. Sabar yang keempat adalah bersabar ketika ikhtiar. Ingatlah bahwa yang membuat kita sukses dan menyembuhkan dari sakit, atau mendapatkan apa yang kita inginkan dan terhindar dari masalah itu hanya Allah semata. Karena Dia yang Maha Tahu masalah atau penyakit kita . "Tiada musibah atau apapun jua yang menimpa kecuali atas kehendaknya " .

Ketika kita sudah berusaha cari solusi atau berobat kesana sini tapi tidak juga selesai masalah kita atau sembuh dari sakit, tidak akan rugi sebab akan menjadi amal. Barang siapa ridho kepada ketentuan Allah, maka Allah akan meridhoi, hidup terus, maju, ikhtiar terus, terus dan terus, jangan takut dan menyerah, Tuhan akan meridhoi.

Usaha dan jerih payah, serta pengorbanan kita adalah amal dan pahala yang tidak akan pernah di lupakan Allah , sampai kapanpun , maka jangan mengeluh dalam berikhtiar. Dokter, guru, teman, keluarga, spiritualis , hanyalah membantu saja sebagai sarana mencapai sesuatu, Asal mula segala sesuatu tetap dari Yang Maha Kuasa.


V. Sabar yang kelima, sabar untuk berniat sukses, bebas dan jaya serta sembuh dari sakit dan punya niat untuk beribadah . Milikilah tekad yang kuat untuk mengisi kesuksesan , kejayaan, kebebasan, kesehatan, keperkasaan yang Allah karuniakan dengan meningkatkan ibadah. Jangan sampai kita tidak punya rencana tentang bagaimana menggunakan semua yang telah / akan Allah berikan.

Tidak sedikit orang terangkat derajatnya karena dulunya mendapat masalah, tertimpa, kemalangan yang teramat sangat, sakit atau cacat, bahkan ada orang yang cemerlang justru karena telah banyak sekali kegagalan yang di alaminya, karena seburuk buruk masalah, penyakit, penderitaan yang diberikan kepada kita, sebenarnya telah di ukur oleh Allah bahwa kita mampu menerimanya. Tuhan tidak akan memberikan sesuatu diluar kemampuan kita.

Oleh karena itu, waspadalah jangan sampai kesuksesan, kejayaan, kebebasan, kesehatan, keperkasaan, yang kita terima mengecoh kita untuk takabur, sombong, menghina orang lain, maksiat, itu jauh lebih berbahaya di banding tetap menderita atau kena masalah atau sakit tapi membuat kita dekat dengan Allah.

Tidak ada musibah yang lebih buruk daripada jauh dari Allah, karena tidak bisa bersyukur atau tidak punya kesabaran. Bahkan Allah sendiri menyatakan dalam Hadis Qudsi yang artinya : " Barang siapa yang tidak bersabar atas cobaanKu, tidak mensyukuri nikmatKu, dan tidak rela atas ketentuanKu, maka carilah Tuhan selain Aku ".

Semoga Ikhtiar kita senantiasa di ridloi oleh Allah SWT untuk selamanya, Aamiin.

sumber : http://asshobru.blogspot.be/

Kesabaran dalam Islam, Bukan Kepasrahan

Kesabaran dalam Islam adalah salah satu ciri utama ketaqwaan seseorang pada Allah Swt karena kesabaran dianggap sebagian dari iman. Para ulama pun mengatakan bahwa kesabaran dalam Islam itu adalah bagian dari keimanan. Jadi, dapat disimpulkan bahwa sabar itu sangat berkaitan erat dan tidak dapat dipisahkan dari keimanan.

Lalu, apa hubungannya kesabaran dalam Islam dengan keimanan? Hubungan antara sabar dan keimanan sama seperti kepala dan jasadnya. Istilah ini dapat dimaknai bahwa tak ada keimanan yang tidak disertai dengan kesabaran. Sama halnya dengan jasad, yaitu tidak ada jasad yang tidak mempunyai kepala.

Kesabaran dalam Islam tidak dimaknai sebagai sebuah ketidakmampuan, pasrah atau nerimo, dan identik dengan ketertindasan. Sesungguhnya, kesabaran dalam Islam itu mempunyai dimensi yang cenderung pada pengalahan hawa nafsu di dalam jiwa manusia.


Contohnya dalam berjihad, sabar diaplikasikan dengan cara melawan hawa nafsu yang mendorong seseorang untuk duduk santai dan berdiam diri di rumah. Ketika berdiam diri inilah, seseorang belum dianggap mampu bersabar melawan tantangan serta memenuhi panggilan ilahi.

Kesabaran pun mempunyai dimensi untuk mengubah sebuah kondisi tertentu, baik itu yang bersifat individu ataupun bersifat sosial, menuju ke arah perbaikan agar lebih baik dan semakin baik. Bahkan, seorang individu dapat dianggap tidak sabar saat dirinya mengalami sesuatu yang buruk, menyerah begitu saja, dan pasrah dengan keadaan tersebut.

Sementara itu, sabar dalam ibadah tercermin dalam bentuk perlawanan dan berusaha sekuat tenaga untuk bangkit dari tempat tidur, lalu berwudu dan pergi ke masjid untuk melakukan salat berjamaah. Degan demikian, kesabaran dalam Islam bukanlah sebuah aktivitas yang bersifat pasif, tetapi kesabaran mempunyai nilai keseimbangan antara sifat aktif dan sifat pasif.

Makna Kesabaran dalam Islam

Sabar adalah sebuah istilah yang bersumber atau diambil dari bahasa Arab, yaitu berasal dari kata shobaro yang kemudian membentuk masdar atau infinitif menjadi shabaran. Sementara itu, sabar dari segi bahasa artinya 'menahan dan mencegah'. Makna sabar ini juga diperkuat dalam Al-Quran Surat Al-Kahfi ayat 28, yaitu:

"Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (Q.S. Al-Kahfi: 28)

Perintah untuk bersabar yang terkandung dalam ayat tersebut maknanya yaitu senantiasa menahan diri dari keinginan untuk keluar dari kelompok orang-orang penyeru Rab-nya dan selalu mengharap keridaan-Nya. Perintah bersabar dalam surat tersebut juga sekaligus untuk mencegah keinginan manusia yang berniat bergabung dengan orang-orang yang lalai mengingat Allah Swt.

Sabar dari segi istilah dapat diartikan menahan diri dari sifat gundah serta dari rasa emosi, menahan lisan atau perkataan dari keluh kesah, dan menahan seluruh anggota tubuh dari perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah.

Berkaitan dengan masalah sabar, Amru bin Usman menjelaskan bahwa kesabaran dalam Islam itu berupa keteguhan bersama Allah dan menerima cobaan dari Allah dengan lapang dada. Hal yang sama pun dikatakan oleh Imam Al-khowas. Ia mengatakan bahwa kesabaran merupakan refleksi dari keteguhan dalam rangka merealisasikan Al-Quran dan sunnah.

Pada intinya, sabar itu sama sekali tidak identik dengan sikap ketidakmampuan dan kepasrahan. Sebaliknya, orang-orang yang memiliki sikap tersebut dapat dikatakan tidak sabar dalam mengubah kondisi yang dialami, tidak sabar berusaha, tidak sabar untuk berjuang, dan lain-lain.

Nabi Muhammad saw., mengingatkan seluruh umatnya untuk selalu bersabar saat berjihad. Jihad pada waktu itu adalah memerangi musuh-musuh Allah dengan cara berperang dan memakai senjata. Artinya, berjihad melawan musuh Allah memerlukan kesabaran karena adanya keinginan jiwa untuk bermalas-malasan daripada berjihad.
Sabar dalam jihad pun dapat diartikan sebagai keteguhan menghadapi musuh dan tidak melarikan diri dari peperangan. Orang yang melarikan diri dari peperangan dengan alasan takut merupakan cerminan ketidaksabaran.

Bentuk-bentuk Kesabaran dalam Islam

Ulama-ulama membagi bentuk kesabaran dalam Islam menjadi tiga, yaitu sabar di dalam ketaatan pada Allah, sabar dalam meninggalkan perbuatan maksiat, dan sabar menghadapi cobaan dari Allah. Berikut penjelasan ketiga bentuk kesabaran dalam Islam tersebut.

1. Sabar dalam Ketaatan pada Allah
Mempraktikkan ketaatan pada Allah Swt.,memang memerlukan kesabaran sebab pada dasarnya jiwa manusia itu cenderung enggan untuk beribadah dan berbuat ketaatan. Berdasarkan penyebabnya, ada tiga unsur yang melatarbelakangi sulitnya manusia untuk bersabar.
  1. Adanya rasa malas seperti ketika melaksanakan ibadah salat.
  2. Adanya sifat kikir atau bakhil seperti tidak melaksanakan zakat dan infaq.
  3. Malas dan kikir seperti keengganan untuk haji dan berjihad.
Sementara itu, diperlukan beberapa hal untuk bisa merealisasikan sabar dalam ketaatan pada Allah.
  • Kondisi atau keadaan sebelum melaksanakan ibadah berupa memperbaiki niat, yakni dengan keikhlasan. Ikhlas adalah bentuk kesabaran dalam menghadapi "duri-duri" riya.
  • Kondisi saat melakukan ibadah, yaitu agar tidak sampai lupa kepada Allah ketika melakukan ibadah dan tidak malas mengaplikasikan adab serta sunah-sunahnya.
  • Kondisi setelah selesai melakukan ibadah, yakni tidak mempersoalkan ibadah yang sudah dilaksanakan dengan tujuan diketahui orang lain atau mendapat pujian dari orang lain.

2. Sabar Ketika Meninggalkan Kemaksiatan
Meninggalkan perbuatan maksiat pun memerlukan kesabaran yang sangat besar, khususnya perbuatan maksiat yang sangat mudah dilakukan, misalnya berdusta, melihat sesuatu yang dilarang, ghibah (ngrumpi), dan perbuatan lainnya. Manusia itu mudah melakukan maksiat karena memang pada dasarnya jiwa manusia itu suka terhadap hal-hal yang buruk dan "menyenangkan". Hal-hal yang menyenangkan inilah yang identik dengan perbuatan maksiat.

3. Sabar Menghadapi Cobaan dan Ujian dari Allah
Manusia itu harus selalu sabar ketika diberi cobaan dan ujian dari Allah Swt., seperti mendapat musibah, baik itu berbentuk materi maupun nonmateri, contohnya kehilangan harta kekayaan, kehilangan orang yang sangat dicintai, dan musibah lainnya.

Tip untuk Meningkatkan Kesabaran dalam Islam

Isti'jal atau ketidaksabaran adalah salah satu bentuk penyakit hati yang harus diantisipasi sekaligus diterapi sejak dini. Alasannnya karena ketidaksabaran ini mempunyai dampak negatif terhadap amalan yang dilakukan seseorang, misalnya jatuh ke dalam perbuatan maksiat, hasil yang tidak maksimal, tidak mau menjalankan ibadah pada Allah, dan lain sebagainya. Oleh sebab itulah, dibutuhkan tip-tip untuk meningkatkan kesabaran.

Berikut tip-tip untuk meningkatkan kesabaran:
  • Selalu mengikhlaskan niat kita pada Allah. Ingatlah selalu bahwa semua perbuatan yang dilakukan semata-mata hanya untuk Allah Swt. Niat seperti ini akan menumbuhkan sikap kesabaran kepada Allah.
  • Memperbanyak membaca Al-Quran. Untuk meningkatkan kesabaran, perbanyaklah membaca Al-Quran setiap waktu (pagi, siang, sore, dan malam hari). Tapi, jauh lebih baik lagi jika membaca Al-Quran disertai dengan perenungan serta pentadaburan makna-makna yang terkandung di dalamnya sebab Al-Quran adalah obat hati. Zikir kepada Allah pun termusuk obat hati.
  • Memperbanyak puasa sunnah. Puasa adalah sebuah ibadah yang mampu menekan hawa nafsu, khususnya yang bersifat syahwati terhadap lawan jenis. Puasa pun termasuk ibadah yang secara khusus mampu melatih kesabaran seseorang.
  • Mujahadatun nafs, yakni usaha yang dilakukan dengan sekuat tenaga dan maksimal untuk mengalahkan semua keinginan jiwa yang lebih condong terhadap hal-hal negatif seperti kikir, pemarah, malas, dan sebagainya.
Itulah sebagian sketsa tentang kesabaran dalam Islam. Sabar adalah salah satu karakter dan sifat orang mu'min. Oleh sebab itu, mari kita berupaya semaksimal mungkin menggapai sikap sabar.

sumber : http://thedarkancokullujaba.blogspot.be

Thursday, April 4, 2013

Antara Aqidah, Tauhid dan Iman, Samakah?

Pengertian Aqidah
Secara bahasa aqidah berasal dari kata aqdun - aqo'id  yang berarti aqad atau ikatan. Maksudnya yaitu ikatan yang mengikat manusia dengan aturan-aturan Allah Swt dan nilai-nilai Islam. Sedangkan secara istilah aqidah adalah sesuatu yang wajib diyakini atau diimani tanpa keraguan, diikrarkan dengan lisan, dan diwujudkan dalam amal perbuatan sehari-hari. Aqidah merupakan motor penggerak dan otak dalam kehidupan manusia. Apabila terjadi sedikit penyimpangan padanya, maka menimbulkan penyelewengan dari jalan yang lurus pada gerakan dan langkah yang dihasilkan.

Aqidah bagaikan pondasi bangunan. Aqidah harus dirancang dan dibangun terlebih dahulu sebelum merancang dan membangun bagian yang lain. Kualitas pondasi yang dibangun akan berpengaruh terhadap kualitas bangunan yang ditegakkan. Bangunan yang ingin dibangun itu sendiri adalah Islam yang sempurna (kamil),  menyeluruh (syamil),  dan benar (shahih). Aqidah merupakan misi dakwah yang dibawa oleh Rasul Allah Swt yang pertama sampai dengan yang terakhir. Aqidah tidak berubah-ubah karena pergantian zaman dan tempat, atau karena perbedaan golongan atau masyarakat. Allah berfirman dalam Surah Asy Syura/ 42: 13  sebagai berikut:
 شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ (13
"Dia (Allah) telah mensyariatkan kepadamu agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa yaitu  tegakkanlah agama (keimanan dan ketaqwaan) dan janganlah kamu berselisih di dalamnya. Sangat berat bagi orang-orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu serukan kepada mereka. Allah memilih orang yang Ia kehendaki kepada agama tauhid dan memberi petujuk kepada (agama)-Nya bagi orang yang kembali (kepada-Nya)". (Q.S. Asy Syura [42]: 13 )
 
Syaikh DR. Sholeh Fauzan dalam kitabnya “Min Ushul Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah” memaparkan 9 prinsip pokok dalam Aqidah. Prinsip-prinsip tersebut adalah:
1. Rukun Iman
- Iman kepada Allah
- Iman kepada para malaikat-Nya
- Iman kepada Kitab-kitab-Nya
- Iman kepada para Rasul-Nya
- Iman kepada Hari akhir
- Iman kepada Takdir yang baik dan buruk
2. Iman mencakup perkataan, perbuatan dan keyakinan, iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan sebab kemaksiatan.
3. Perbuatan dosa selain syirik dan kekufuran tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam.
4. Wajibnya taat kepada pemerintah Muslim dalam hal yang bukan maksiat.
5. Larangan memberontak kepada pemerintah selama pemerintah masih muslim.
6. Larangan mencela para sahabat Nabi saw
7. Mencintai Ahli Bait Nabi saw
8. Membenarkan adanya karomah para wali
9. Berdalil dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah dan mengikuti apa-apa yang dijalankan oleh para sahabat Nabi saw
Kesembilan pokok aqidah tersebut didasarkan pada dalil-dalil Al-Qur’an  dan Al-Hadits sesuai dengan yang dipahami oleh generasi awal umat ini. Aqidah shahihah/yang benar tersebut dikenal dengan Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, adapun aqidah/keyakinan yang menyelisihi aqidah tersebut disebut dengan  Aqidahnya Ahlu Bid’ah.

Ada beberapa istilah yang kelihatannya sama, namun sesungguhnya secara khusus berbeda dengan akidah, yaitu; tauhid dan iman. Secara istilah keduanya dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Tauhid
Tauhid diperlukan dalam memahami aqidah. Kata tauhid berasal dari kata wahhada - yuwahhidu yang berarti menjadikan satu atau menunggalkan sesuatu. Tauhidullah atau upaya mentauhidkan Allah Swt- merupakan dasar iman kepada Allah Swt. Setiap Muslim wajib menghayati hakikat tauhid yang diperintahkan Allah Swt. karena hal itu merupakan landasan agama-Nya. Penerimaan tauhid menjadi penyebab keselamatan hidup manusia di dunia dan di akhirat dan mendapatkan imbalan surga.
Ada tiga klasifikasi tauhid yang harus diyakini dan dimiliki oleh seorang Muslim yaitu:
a. Tauhid Rububiyah
Tauhid Rububiyah ialah keyakinan bahwa Allah Swt. satu-satunya pencipta, pemilik, pengatur, pemelihara, dan penguasa seluruh urusan makhluk dan alam, baik dalam menghidupkan, mematikan serta urusan taqdir dan hukum alam lainnya. Konsekuensinya adalah adanya kerelaan untuk mau diatur oleh Allah Swt dalam seluruh aspek kehidupan.
Pada hakekatnya Tauhid Rububiyah menuntut adanya Tauhid Uluhiyah. Keyakinan terhadap Tauhid Rububiyah saja dan bahkan sengaja membuat aturan menentang serta membuat tandingan selain Allah Swt., mengakibatkan tauhid ini tidak memberi manfaat sedikitpun. Bahkan hal itu akan mengantarkan seseorang  pada wilayah kemusyrikan. Allah berfirman dalam Surah Yunus/ 10: 106 sebagai berikut:
 وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ (106
"Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim." (Q.S. Yunus [10]: 106)
b.  Tauhid Uluhiyah
Tauhid Uluhiyah ialah keyakinan bahwa Allah Swt adalah satu-satunya yang disembah, mengesakan Allah swt dalam peribadatan, penghambaan, kepatuhan, kecintaan, ketakutan, dan ketaatan secara mutlak. Tidak menghambakan diri kepada selain Allah Swt dan tidak pula mempersekutukan-Nya dengan sesuatu yang lain.
 c. Tauhid Asma' Wa Sifat
Tauhid Asma' Wa Sifat ialah keyakinan bahwa Allah Swt memiliki 99 asmaul husna (nama-nama dan sifat-sifat yang agung) yang tidak dimiliki oleh selain-Nya. Laysa kamitslihi syay-un, tidak ada sesuatupun yang memiliki-Nya dan menyerupai-Nya.

2. Iman
Hakikat iman menurut ulama Ahlu Sunnah iman bermakna mengikrarkan dengan lisan, membenarkan dengan hati, dan mengerjakan dengan anggota badan. Ketiga hal ini merupakan pengertian iman. Satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan. Iman adalah keyakinan sekaligus amal. Uyainah berkata tentang iman, "Al iman, qaulun wa 'amalun, yazidu wa yanqush". Artinya: Iman  adalah ucapan dan perbuatan, kadang meningkat dan kadang menurun.
Iman bukanlah angan-angan, melainkan apa yang tertanam dan menghujam di dalam sanubari serta dibenarkan oleh amal perbuatan. Iman bukan semata-mata teori, sebagai konsumsi otak, yang sinarnya tidak sampai menembus hati dan tidak dapat menggerakkan iradah (keinginan). Iman juga bukan sesuatu yang menjejali ingatan dengan istilah-istilah seperti: rabb, ilah, dien, ibadah, tauhid, thagut, dan sebagainya, lalu merasa bangga dan hebat karena sudah menguasai artinya. Hampir semua nash Al-Quran dan hadits selalu mengaitkan keimanan dengan amal. Allah berfirman dalam Surah Al-Ashr/ 103: 3 sebagai berikut:
 إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3
"Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran." (Q.S. Al-Ashr [103]: 3)

Dari Anas bin Malik berkata Rasulullah Saw: "Ada tiga golongan yang merasakan manisnya iman :

  1. Mencintai Allah dan rasul-Nya, melebihi dari kecintaan kepada yang lainnya,
  2. Mencintai orang lain hanya karena Allah Swt., dan
  3. Merasa benci kembali kepada kekufuran setelah diselamatkan Allah Swt., sebagaimana ia benci jika dilemparkan ke dalam Neraka". (HR. Bukhari-Muslim)

Imam Syahid Hasan Al Banna berkata: "Datangkanlah kepadaku 12 ribu orang yang benar-benar beriman, agar ku tundukkan pegunungan, ku belah samudera dan lautan, dan ku buka negeri-negeri bersama mereka". Keimanan merupakan motivator manusia untuk melakukan perbuatan. Baik buruknya manusia tergantung pada baik buruknya keimanan. Kondisi iman yang buruk akan menghasilkan perbuatan yang buruk. Kondisi iman yang baik akan melahirkan perbuatan yang baik pula. Islam adalah agama yang berintikan keimanan dan perbuatan (amal). Keimanan itu merupakan akidah yang pokok. Amal itu merupakan syariat dan cabang-cabangnya dianggap sebagai buah yang keluar dari keimanan serta akidah itu. Keimanan dan amal adalah akidah dan syariat, keduanya sambung menyambung, tidak dapat berpisah satu dengan yang lain. Keduanya seperti buah dengan pohonnya, seperti musabab dengan sabab-nya atau seperti natijah (hasil) dengan mukadimah (pendahuluannya).

wallohu a'alam bish showab

Adab dalam Majelis Ilmu

sumber gambar : dari sini


Menuntut ilmu adalah salah satu perkara yang dianjurkan dalam agama, terlebih ilmu yang dipelajari adalah ilmu agama.

Sebagaimana yang tercantum dalam sebuah hadits nabi :“Carilah ilmu dari buaian sampai liang lahat” (HR. Muslim)
Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda:, "Mencari ilmu itu hukumnya wajib 
bagi muslimin dan muslimat” (HR. Ibnu Abdil Bari)

Hukum mencari ilmu itu wajib, dengan pembagian sebagai berikut :
-> hukumnya menjadi fardhu ‘ain untuk mempelajari ilmu agama seperti aqidah, fiqih, akhlak, hadits serta Al-Qur’an. Ilmu-ilmu ini bersifat praktis, artinya setiap muslim wajib memahami dan mempraktekkan dalam pengabdiannya kepada Allah. Fardu ‘ain artinya setiap orang muslim wajib mempelajarinya, tidak boleh tidak. 
-> hukumnya menjadi fardu kifayah untuk mempelajari ilmu pengetahuan umum seperti : ilmu sosial, kedokteran, ekonomi serta teknologi.Fardu Kifayah artinya tidak semua orang dituntut untuk memahami serta mempraktekkan ilmu-ilmu tersebut, boleh hanya sebagian orang saja.
Dengan adanyapemahaman tersebut maka hendaknya menuntut ilmu kita s=jadikan sebagai salah satu ibadah yang sempurna. Untuk menyempurnakan penilaiannya ddi mata Allah, ada beberapa adab yang perlu kita perhatikan sebagai para penuntut ilmu. Dalam hal ini, kita bisa belajar kepada malaikat Jibril saat "berguru" pada rasulullah SAW --> hadits ttg iman, islam dan ihsan)
Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat kita berada dalam suatu majelis antara lain:
1. Senantiasa menata NIAT, ikhlas karena Allah dan membuka diri atas sebuah kebenaran.
2. Menggunakan pakaian yang bersih, rapi dan sopan. Alangkah lebih baiknya jika kita menghiasi kebaikan (menuntut ilmu) dengan kebaikan pula (memakai pakaian sesuai syariat).
3. Duduklah dengan tenang, khusyu', mendengarkan dengan baik, tidak mengganggu peserta yang lain..
4. Duduk di tempat yang tersedia yang terdekat dengan penceramah.
5. Mencatat hal-hal penting yang disampaikan oleh penceramah.
6. Dianjurkan bertanya tentang hal-hal yang tidak diketahuinya. Diperbolehkan juga bertanya sesuatu yang diketahui dengan niatan agar diketahui juga oleh orang lain yang belum mengetahui (bukan berniat untuk mengetes ustadz atau niat lainnya).
7. Menjauhi maksiat selama dalam majelis, misal berkata kotor/kasar, ber-ghibah, fitnah, dan sebagainya.
8. Bersabar dalam menuntut ilmu atau menyampaikan ilmu.
9. Jika ditanya tentang sesuatu hal yang tidak diketahui, maka ucapkanlah "Allohu a'lam"
10. Senantiasa berdo'a kepada Allah agar ditambahkan ilmu, diberi pemahaman dan dimudahkan dalam mengamalkan.
11. Berupaya sungguh-sungguh untuk mengamalkan ilmu yang diperoleh.
12. Menghormati guru.
13. Berupaya mengambil hikmah dan kebaikan saat keluar dari majelis, bukan mencari aibnya.
Mudah-mudahan dengan memperhatikan dan melaksanakan adab-adab tersebut, Allah akan menguriniai kit ailmu yang berkah. aamiin

Wallohu a'lam bish showab