Thursday, April 4, 2013

Antara Aqidah, Tauhid dan Iman, Samakah?

Pengertian Aqidah
Secara bahasa aqidah berasal dari kata aqdun - aqo'id  yang berarti aqad atau ikatan. Maksudnya yaitu ikatan yang mengikat manusia dengan aturan-aturan Allah Swt dan nilai-nilai Islam. Sedangkan secara istilah aqidah adalah sesuatu yang wajib diyakini atau diimani tanpa keraguan, diikrarkan dengan lisan, dan diwujudkan dalam amal perbuatan sehari-hari. Aqidah merupakan motor penggerak dan otak dalam kehidupan manusia. Apabila terjadi sedikit penyimpangan padanya, maka menimbulkan penyelewengan dari jalan yang lurus pada gerakan dan langkah yang dihasilkan.

Aqidah bagaikan pondasi bangunan. Aqidah harus dirancang dan dibangun terlebih dahulu sebelum merancang dan membangun bagian yang lain. Kualitas pondasi yang dibangun akan berpengaruh terhadap kualitas bangunan yang ditegakkan. Bangunan yang ingin dibangun itu sendiri adalah Islam yang sempurna (kamil),  menyeluruh (syamil),  dan benar (shahih). Aqidah merupakan misi dakwah yang dibawa oleh Rasul Allah Swt yang pertama sampai dengan yang terakhir. Aqidah tidak berubah-ubah karena pergantian zaman dan tempat, atau karena perbedaan golongan atau masyarakat. Allah berfirman dalam Surah Asy Syura/ 42: 13  sebagai berikut:
 شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ (13
"Dia (Allah) telah mensyariatkan kepadamu agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa yaitu  tegakkanlah agama (keimanan dan ketaqwaan) dan janganlah kamu berselisih di dalamnya. Sangat berat bagi orang-orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu serukan kepada mereka. Allah memilih orang yang Ia kehendaki kepada agama tauhid dan memberi petujuk kepada (agama)-Nya bagi orang yang kembali (kepada-Nya)". (Q.S. Asy Syura [42]: 13 )
 
Syaikh DR. Sholeh Fauzan dalam kitabnya “Min Ushul Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah” memaparkan 9 prinsip pokok dalam Aqidah. Prinsip-prinsip tersebut adalah:
1. Rukun Iman
- Iman kepada Allah
- Iman kepada para malaikat-Nya
- Iman kepada Kitab-kitab-Nya
- Iman kepada para Rasul-Nya
- Iman kepada Hari akhir
- Iman kepada Takdir yang baik dan buruk
2. Iman mencakup perkataan, perbuatan dan keyakinan, iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan sebab kemaksiatan.
3. Perbuatan dosa selain syirik dan kekufuran tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam.
4. Wajibnya taat kepada pemerintah Muslim dalam hal yang bukan maksiat.
5. Larangan memberontak kepada pemerintah selama pemerintah masih muslim.
6. Larangan mencela para sahabat Nabi saw
7. Mencintai Ahli Bait Nabi saw
8. Membenarkan adanya karomah para wali
9. Berdalil dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah dan mengikuti apa-apa yang dijalankan oleh para sahabat Nabi saw
Kesembilan pokok aqidah tersebut didasarkan pada dalil-dalil Al-Qur’an  dan Al-Hadits sesuai dengan yang dipahami oleh generasi awal umat ini. Aqidah shahihah/yang benar tersebut dikenal dengan Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, adapun aqidah/keyakinan yang menyelisihi aqidah tersebut disebut dengan  Aqidahnya Ahlu Bid’ah.

Ada beberapa istilah yang kelihatannya sama, namun sesungguhnya secara khusus berbeda dengan akidah, yaitu; tauhid dan iman. Secara istilah keduanya dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Tauhid
Tauhid diperlukan dalam memahami aqidah. Kata tauhid berasal dari kata wahhada - yuwahhidu yang berarti menjadikan satu atau menunggalkan sesuatu. Tauhidullah atau upaya mentauhidkan Allah Swt- merupakan dasar iman kepada Allah Swt. Setiap Muslim wajib menghayati hakikat tauhid yang diperintahkan Allah Swt. karena hal itu merupakan landasan agama-Nya. Penerimaan tauhid menjadi penyebab keselamatan hidup manusia di dunia dan di akhirat dan mendapatkan imbalan surga.
Ada tiga klasifikasi tauhid yang harus diyakini dan dimiliki oleh seorang Muslim yaitu:
a. Tauhid Rububiyah
Tauhid Rububiyah ialah keyakinan bahwa Allah Swt. satu-satunya pencipta, pemilik, pengatur, pemelihara, dan penguasa seluruh urusan makhluk dan alam, baik dalam menghidupkan, mematikan serta urusan taqdir dan hukum alam lainnya. Konsekuensinya adalah adanya kerelaan untuk mau diatur oleh Allah Swt dalam seluruh aspek kehidupan.
Pada hakekatnya Tauhid Rububiyah menuntut adanya Tauhid Uluhiyah. Keyakinan terhadap Tauhid Rububiyah saja dan bahkan sengaja membuat aturan menentang serta membuat tandingan selain Allah Swt., mengakibatkan tauhid ini tidak memberi manfaat sedikitpun. Bahkan hal itu akan mengantarkan seseorang  pada wilayah kemusyrikan. Allah berfirman dalam Surah Yunus/ 10: 106 sebagai berikut:
 وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ (106
"Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim." (Q.S. Yunus [10]: 106)
b.  Tauhid Uluhiyah
Tauhid Uluhiyah ialah keyakinan bahwa Allah Swt adalah satu-satunya yang disembah, mengesakan Allah swt dalam peribadatan, penghambaan, kepatuhan, kecintaan, ketakutan, dan ketaatan secara mutlak. Tidak menghambakan diri kepada selain Allah Swt dan tidak pula mempersekutukan-Nya dengan sesuatu yang lain.
 c. Tauhid Asma' Wa Sifat
Tauhid Asma' Wa Sifat ialah keyakinan bahwa Allah Swt memiliki 99 asmaul husna (nama-nama dan sifat-sifat yang agung) yang tidak dimiliki oleh selain-Nya. Laysa kamitslihi syay-un, tidak ada sesuatupun yang memiliki-Nya dan menyerupai-Nya.

2. Iman
Hakikat iman menurut ulama Ahlu Sunnah iman bermakna mengikrarkan dengan lisan, membenarkan dengan hati, dan mengerjakan dengan anggota badan. Ketiga hal ini merupakan pengertian iman. Satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan. Iman adalah keyakinan sekaligus amal. Uyainah berkata tentang iman, "Al iman, qaulun wa 'amalun, yazidu wa yanqush". Artinya: Iman  adalah ucapan dan perbuatan, kadang meningkat dan kadang menurun.
Iman bukanlah angan-angan, melainkan apa yang tertanam dan menghujam di dalam sanubari serta dibenarkan oleh amal perbuatan. Iman bukan semata-mata teori, sebagai konsumsi otak, yang sinarnya tidak sampai menembus hati dan tidak dapat menggerakkan iradah (keinginan). Iman juga bukan sesuatu yang menjejali ingatan dengan istilah-istilah seperti: rabb, ilah, dien, ibadah, tauhid, thagut, dan sebagainya, lalu merasa bangga dan hebat karena sudah menguasai artinya. Hampir semua nash Al-Quran dan hadits selalu mengaitkan keimanan dengan amal. Allah berfirman dalam Surah Al-Ashr/ 103: 3 sebagai berikut:
 إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3
"Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran." (Q.S. Al-Ashr [103]: 3)

Dari Anas bin Malik berkata Rasulullah Saw: "Ada tiga golongan yang merasakan manisnya iman :

  1. Mencintai Allah dan rasul-Nya, melebihi dari kecintaan kepada yang lainnya,
  2. Mencintai orang lain hanya karena Allah Swt., dan
  3. Merasa benci kembali kepada kekufuran setelah diselamatkan Allah Swt., sebagaimana ia benci jika dilemparkan ke dalam Neraka". (HR. Bukhari-Muslim)

Imam Syahid Hasan Al Banna berkata: "Datangkanlah kepadaku 12 ribu orang yang benar-benar beriman, agar ku tundukkan pegunungan, ku belah samudera dan lautan, dan ku buka negeri-negeri bersama mereka". Keimanan merupakan motivator manusia untuk melakukan perbuatan. Baik buruknya manusia tergantung pada baik buruknya keimanan. Kondisi iman yang buruk akan menghasilkan perbuatan yang buruk. Kondisi iman yang baik akan melahirkan perbuatan yang baik pula. Islam adalah agama yang berintikan keimanan dan perbuatan (amal). Keimanan itu merupakan akidah yang pokok. Amal itu merupakan syariat dan cabang-cabangnya dianggap sebagai buah yang keluar dari keimanan serta akidah itu. Keimanan dan amal adalah akidah dan syariat, keduanya sambung menyambung, tidak dapat berpisah satu dengan yang lain. Keduanya seperti buah dengan pohonnya, seperti musabab dengan sabab-nya atau seperti natijah (hasil) dengan mukadimah (pendahuluannya).

wallohu a'alam bish showab

No comments:

Post a Comment