Saturday, June 8, 2013

Menjaga Kemurnian Aqidah

sumber gambar: dari sini


Saat ini adaSebagai seorang yang mengaku muslim, setidaknya ditunjukkan dengan data di KTP kita masing-masing, maka sudah selayaknya kita memiliki aqidah yang benar, bersih atau murni, yang biasa disebut dengan istilah salimul aqidah. karena pegangan kita terhadap aqidah yang benar ini lah yang menjadi syarat yang pertama dan utamanya. kalau syarat pertamanya saja kita masih belum punya, masih layakkah kita disebut muslim?? *mari kita renungkan*

Aqidah adalah sesuatu yang wajib diyakini atau diimani dalam hati tanpa keraguan, diucapkan atau diikrarkan dengan lisan, dan diwujudkan dalam amal perbuatan sehari-hari. Tentu hal ini adalah dalam kaitannya dengan keyakinan kepada Allah dan syariat-Nya. 

Ada tiga makna yang harus dipahami dalam syahadah yaitu:
1. Tasdiiqun  bil qolbi
Yaitu syahadah yang harus dibenarkan dalam hati. Bila unsur ini tidak dimiliki maka keraguan Islam akan muncul. Unsur ini merupakan nilai terpenting dalam keimanan seseorang. Ada seorang sahabat Rasulullah yang bernama Amer bin Yassar. Ia  dikisahkan memiliki keteguhan iman luar biasa sehingga harus disiksa oleh kaum kafir Quraisy kemudian secara tidak sadar mengungkapkan kata-kata kekufuran karena kerasnya siksaan yang datang kepadanya. Akhirnya hal itu diketahui oleh Rasullullah. Beliau membolehkannya selama hatinya tidak membenarkannya. Ini membuktikan keimanan itu harus ada di dalam qalbu seorang Muslim.
2. Iqroorun bil lisan
Yaitu syahadah yang harus diucapkan atau diumumkan melalui lisan/ ucapan. Syahadah ini menuntut pembuktian secara nyata tentang keislaman kita kepada orang lain. Makanya bagi orang yang masuk Islam, langkah pertama yang harus dilakukan  adalah dengan mengucapkan syahadah ini. Setelah itu ia berhak menyandang gelar Muslim dan mempunyai kewajiban yang sama dengan Muslim lainnya. Dengan syahadah ini, akan nampak perbedaan antara seorang Muslim dengan non Muslim.
3.  Amalun bil arkan
Syahadah ini mengharuskan setiap Muslim mengaplikasikan syahadahnya dengan amal ibadah secara nyata. Syahadah bukan sekadar diucapkan dan dibenarkan oleh hati tapi sampai tingkat pelaksanaan hukum-hukum Allah baik berupa larangan maupun perintah-Nya. Oleh sebab itu, bukan seorang Muslim yang benar jika ia hanya sekadar bersyahadah saja, namun ia tidak beribadah sesuai perintah Allah Swt. Pada tingkatan inilah seseorang dinilai sebagai Muslim sejati atau tidak.

Aqidah merupakan motor penggerak dan otak dalam kehidupan manusia. Apabila terjadi sedikit penyimpangan padanya, maka menimbulkan noda atau penyelewengan dari jalan yang lurus pada amaliah, gerakan dan langkah yang dihasilkan.

Allah berfirman, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku, 
semua bagi Allah Tuhan semesta alam. (QS. Al An’aam 162).

Aqidah adalah pondasi dalam ber-Islam. Demikianlah yang disabdakan Rasulullah dalam sebuah hadits.

Dari Abu Abdurrahman, Abdullah bin Umar bin Alh- Khottob ra dia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : Islam dibangun diatas lima perkara; Bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa nabi Muhammad utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji dan puasa Ramadhan. (HR At Tirmidzi dan Muslim)


sumber:
http://www.bersamadakwah.com/2010/04/khutbah-jumat-menjaga-aqidah-kita.html
http://blog.re.or.id/menjaga-aqidah-diri-dan-keluarga-di-tengah-modernisasi-dan-globalisasi.htm


No comments:

Post a Comment

Post a Comment